Di luar, barangkali hujan sedang turun atau senja sedang merah-merahnya membakar langit-langit kota yang penuh polusi, tapi aku ingin bicara padamu tentang peluk. Ya, peluk. Sebuah kata kerja yang sering kali kita simpan dalam laci paling sunyi di kepala kita. Tentang hal yang tak pernah dengan serius dibahas oleh manusia, kecuali ketika mereka sedang bercinta, ketika napas memburu dan keringat bercampur, seolah pelukan hanyalah prolog atau epilog dari sebuah drama daging yang banal.
Padahal, jika kau mau duduk sebentar dan membiarkan kopi itu mendingin, kau akan sadar bahwa peluk adalah samudera. Luasnya merengkuh benua-benua kesepian yang terpetakan dalam jiwa manusia; kedalamannya serupa suaka bagi kapal-kapal karam yang lelah dihantam badai kehidupan. Pelukan bukan sekadar tempelan kulit dengan kulit. Ia adalah peristiwa kosmis.
Harus kucatat di sini, sebuah pengakuan dosa atau barangkali proklamasi kecil: aku pernah menjadi seseorang yang membenci peluk. Ada masa ketika tubuhku adalah benteng dengan kawat berduri, dan setiap tangan yang mendekat adalah ancaman invasi. Trauma itu, kau tahu, memiliki ingatan sendiri yang menjalar di bawah kulit.
Ingatanku melayang pada masa seragam putih-biru atau putih-abu, pada sore yang naas, ketika seorang bocah tak beretika—seorang manusia yang gagal menjadi manusia—menyentuhku tanpa izin saat aku pulang sekolah. Langit tidak runtuh saat itu, bumi tidak terbelah, tapi duniaku, dunia kecil di dalam kepalaku, retak. Aku tak bisa melawan. Ketidakberdayaan itu membekukan lidah. Aku pulang membawa tubuh yang rasanya bukan lagi milikku.
Lama sekali aku membiarkan waktu duduk diam di sampingku. Kami tidak bicara. Kami hanya menatap dinding. Waktu, sahabat yang dingin namun setia itu, perlahan menemaniku menerima peristiwa brengsek itu. Bukan untuk melupakan, karena luka sejarah tak pernah benar-benar hilang, tapi untuk memaafkan diri sendiri yang tak sempat melawan. Kemenanganku bukanlah ketika aku berhasil melupakan wajah pelaku itu, melainkan ketika aku berani bersuara. Ketika suaraku menjadi perisai bagi sesama korban, saat itulah aku tahu, benteng kawat berduri itu mulai runtuh.
Dan di balik reruntuhan itu, ada kebenaran yang telanjang dan purba: kenyataannya, sebetulnya aku sangat suka dipeluk.
Aku curiga, di balik jas-jas mahal, di balik seragam buruh pabrik, di balik tawa artifisial para selebrita di layar kaca, semua manusia sejatinya juga suka memberi atau menerima peluk. Kita adalah spesies yang dikutuk untuk merindu kehangatan. Kita adalah makhluk-makhluk soliter yang diam-diam berharap ada gravitasi yang menarik kita untuk menubruk tubuh lain, hanya untuk memastikan bahwa kita nyata. Bahwa kita tidak sendirian melayang di ruang hampa.
Kunci dari segala perpelukan di dunia ini adalah satu kata: saling.
Tanpa "saling", pelukan hanyalah penindasan ruang. Namun dengan "saling", peluk menjadi sebuah dialog tanpa kata-kata yang paling fasih. Peluk, artinya saling memberi sepotong jiwamu, juga saling menerima sepotong jiwa orang lain. Ada pertukaran energi yang tak kasat mata di sana.
Lihatlah bagaimana dua orang berpelukan di bandara, entah untuk perpisahan yang panjang atau pertemuan yang dinanti. Lihatlah tangan yang terentang itu. Itu bukan sekadar gestur anatomi. Tangan yang terentang adalah pintu rumah yang membuka lebar. Serupa rumah yang siap menjadi tujuan pulang setiap bagian dari keluarga di dalamnya. Di tengah kota yang bising, di tengah peradaban yang sibuk menghitung angka dan melupakan nama, pelukan adalah tempat pulang yang paling sederhana. Kau tidak butuh kunci, tidak butuh sertifikat tanah, tidak butuh izin mendirikan bangunan untuk masuk ke dalam sebuah pelukan. Kau hanya butuh ketulusan.
Pelukan adalah sambutan. Ia adalah cara kita melipat jarak yang diciptakan pikiran. Kadang kita duduk bersebelahan di dalam gerbong kereta, lutut kita bersentuhan, tapi pikiran kita terpisah ribuan kilometer. Satu memikirkan utang, satu memikirkan cinta yang kandas. Jarak itu, jarak yang abstrak dan dingin itu, runtuh seketika saat pelukan terjadi. Dalam pelukan, jarak menjadi nol. Waktu berhenti berdetak. Yang ada hanya degup jantung lawan pelukmu yang mengetuk dinding dadamu, seolah berkata: “Aku di sini. Kau aman. Dunia boleh brengsek, tapi di dalam lingkar lengan ini, kau aman.”
Pelukan adalah pemberian dan penerimaan yang simultan. Tidak pernah penting dari apa atau siapa pelukan itu berasal, selama ia berangkat dari rahim ketulusan. Apakah itu dari seorang ibu yang aroma tubuhnya seperti minyak telon dan sabun cuci; apakah itu dari seorang kekasih yang wanginya seperti hujan dan tembakau; atau dari seorang kawan lama yang tubuhnya bau matahari. Karena pelukan adalah pelukan. Ia melampaui identitas. Ia adalah bahasa universal yang tidak perlu diterjemahkan oleh Google Translate.
Mungkin, secara teknis, kau bisa menolak pelukan. Kau bisa mundur selangkah, menepis tangan, atau memasang wajah dingin. Tapi kau tidak bisa menolak rasanya. Rasa itu akan menyusup masuk, seperti embun yang menembus pori-pori jendela kaca. Kau bisa membohongi logikamu bahwa kau kuat, bahwa kau mandiri, bahwa kau adalah manusia baja yang tak butuh sandaran. Tapi tubuhmu tidak pernah berbohong.
Ketika sebuah pelukan mendarat dengan tepat, ada bagian dari dirimu yang luruh. Bagian yang selama ini tegang, bagian yang selama ini bersiaga menghadapi dunia yang keras, tiba-tiba melunak.
Maka, biarlah tulisan ini menjadi sebuah himbauan kecil, atau mungkin sebuah doa. Di dunia yang semakin garang ini, di mana orang lebih mudah memukul daripada merangkul, marilah kita belajar lagi tentang seni melipat jarak. Jangan ragu merentangkan tangan. Jadilah rumah bagi seseorang hari ini. Karena pada akhirnya, ketika semua kata sudah habis diucapkan dan semua lampu kota telah padam, yang tersisa dari kita hanyalah kenangan tentang betapa hangatnya kita pernah didekap, dan betapa eratnya kita pernah mendekap.
Peluklah, sebelum peluk itu sendiri menjadi sekadar kata dalam kamus yang berdebu.
Komentar
Posting Komentar