Langsung ke konten utama

Hikayat Istana Pasir di Tepi Waktu

Dengarlah. Apakah kau mendengar suara itu? Bukan, bukan suara klakson yang memaki-maki kemacetan di luar jendela kamarmu, juga bukan suara televisi yang terus-menerus memuntahkan berita tentang siapa yang menjatuhkan siapa. Aku memintamu mendengarkan suara yang lebih purba. Suara debur ombak. Suara angin yang mengikis batu. Suara waktu yang mengunyah sejarah, pelan-pelan, tanpa ampun.

​Mari kita bicara tentang sesuatu yang sering membuatmu tidak bisa tidur nyenyak. Mari kita bicara tentang kekuasaan.

​Kau tahu, kadang aku merasa lucu melihat bagaimana kita—manusia-manusia yang sombong ini—berjalan dengan dagu terangkat, seolah-olah tanah yang kita pijak tidak akan pernah merekah dan menelan tubuh kita bulat-bulat. Kita membangun gedung-gedung pencakar langit, menyusun undang-undang, mendirikan partai, dan berebut kursi empuk, seakan-akan semua itu adalah jimat anti-mati.
​Akan tetapi, bukankah kekuasaan manusia hanya bersifat sementara?

​Cobalah kau bayangkan sebuah pantai. Bayangkan senja yang muram, jenis senja yang membuatmu merasa sendirian di dunia ini. Di sana, di tepi pantai itu, ada seorang anak kecil—atau mungkin seorang raja, apa bedanya?—sedang membangun istana pasir. Ia bekerja keras. Keringatnya menetes bercampur air asin. Ia menyusun menara, membuat parit, membentuk gerbang yang megah. Ia menepuk-nepuk pasir itu dengan penuh kasih sayang dan ambisi, meyakini bahwa istana itu akan berdiri selamanya. Ia menanam bendera kecil di puncaknya, sebuah klaim kepemilikan. "Ini milikku," katanya. "Akulah penguasa pasir ini."

​Ia bagaikan istana pasir yang megah, dibangun dengan susah payah di tepi pantai, namun tak berdaya menghadapi terjangan ombak waktu.

​Kita adalah anak kecil itu. Kita membangun kekuasaan dengan pasir basah. Kita menyebutnya "kerajaan", "negara", "perusahaan", atau "dinasti". Kita menyusun hierarki agar kita merasa aman, agar kita tahu siapa yang harus menunduk dan siapa yang boleh menginjak. Kita menciptakan aturan-aturan yang rumit, menulisnya di atas kertas tebal dengan tinta emas, seolah-olah dengan demikian kita dapat mengendalikan takdir kita sendiri. Kita mengumpulkan kekayaan, menumpuk emas dan saham, mengira bahwa dinding tebal brankas bisa menahan laju kematian.

​Betapa naifnya kita. Betapa menyedihkannya ilusi yang kita ciptakan untuk menenangkan ketakutan kita akan ketidakpastian ini.

​Sebab lihatlah, ombak itu datang. Ombak tidak pernah peduli siapa namamu, apa gelarmu, atau berapa banyak pengawal yang kau miliki. Ombak tidak membencimu, ia juga tidak mencintaimu. Ia hanya menjalankan tugas kosmisnya: menghapus jejak. Kekuasaan, sekuat apapun ia tampak, selalu mengandung bibit keruntuhannya sendiri. Ia terikat pada siklus kelahiran, pertumbuhan, dan kematian, seperti segala sesuatu di alam semesta ini. Tidak ada matahari yang tidak terbenam. Tidak ada bunga yang tidak layu. Dan tidak ada takhta yang tidak retak.

​Kekuasaan manusia adalah ilusi. Ia adalah bayang-bayang di dinding gua, yang kita kira sebagai monster sungguhan, padahal hanya pantulan dari api unggun yang sebentar lagi padam.

​Aku sering bertanya-tanya, mengapa kita begitu terobsesi untuk berkuasa? Mengapa manusia rela membunuh saudaranya sendiri demi sebuah mahkota yang pada akhirnya akan berkarat? Mungkin, jauh di lubuk hati, kita semua adalah makhluk yang ketakutan. Kita takut menjadi kecil. Kita takut dilupakan. Kita takut mengakui bahwa kita hanyalah setitik debu yang melayang-layang tanpa tujuan di angkasa raya yang dingin dan gelap. Maka, kita berteriak. Kita membuat gaduh. Kita ingin dunia tahu bahwa "Aku ada! Aku berkuasa!"

​Tapi alam semesta punya cara sendiri untuk membungkam teriakan itu. Ia menjawabnya dengan keheningan. Keheningan yang panjang dan purba.

​Lihatlah sejarah. Bacalah buku-buku tebal yang berdebu di perpustakaan tua itu. Berapa banyak kaisar yang dulu dipuja sebagai dewa, kini bahkan makamnya pun tak diketahui rimbanya? Berapa banyak jenderal yang dulu langkah kakinya menggetarkan bumi, kini namanya hanya menjadi catatan kaki yang membosankan dalam buku pelajaran sekolah? Nama-nama besar itu, patung-patung perunggu itu, semuanya perlahan-lahan dikikis oleh hujan dan angin, kembali menjadi mineral, kembali menjadi tanah.

​Kekuasaan itu memabukkan, memang. Ia seperti anggur yang dituangkan di gelas kristal. Manis, hangat, membuatmu merasa bisa terbang. Tapi mabuk itu ada batasnya. Dan ketika kau sadar, kau akan menemukan dirimu sendirian di sebuah ruangan kosong, dengan gelas yang pecah dan kepala yang pening, menyadari bahwa pesta sudah usai sejak lama.

​Pada akhirnya, kita semua akan menghadapi kenyataan bahwa kita hanyalah debu di hadapan alam semesta yang tak terhingga. Ketika napas terakhir dihembuskan, ketika detak jantung berhenti mengetuk dinding dada, apa arti semua kekuasaan itu? Apakah malaikat maut akan memberimu diskon karena kau seorang presiden? Apakah cacing tanah akan sungkan memakan dagingmu karena kau seorang konglomerat?

​Tidak. Di dalam tanah, semua tulang belulang tampak sama putihnya.

​Jadi, untuk apa semua kegaduhan ini?

​Mungkin, hanya mungkin, kita seharusnya berhenti sejenak. Berhenti membangun tembok. Berhenti meninggikan menara. Duduklah di tepi pantai itu. Lihatlah istana pasirmu yang mulai dijilat ombak. Jangan marah. Jangan menangis. Biarkan saja. Nikmatilah momen ketika air laut melarutkan butiran pasir itu, mengembalikannya ke asalnya. Ada keindahan yang tragis di sana. Ada pembebasan dalam kehancuran.

​Sadarilah bahwa kita hanyalah penumpang gelap dalam perjalanan waktu. Kita tidak memegang kendali. Kita tidak pernah memegang kendali. Dan mungkin, justru di situlah letak kedamaian yang sesungguhnya. Ketika kita berhenti mengepalkan tangan untuk menggenggam dunia, dan mulai membuka telapak tangan untuk merasakan angin yang lewat.

​Karena kekuasaan yang sejati, barangkali, bukanlah kemampuan untuk menaklukkan orang lain, melainkan kemampuan untuk menaklukkan ketakutan diri sendiri akan ketiadaan.

​Sekarang, senja sudah benar-benar habis. Malam telah turun. Gelap telah menyelimuti pantai, dan istana pasir itu sudah rata dengan tanah. Tidak ada yang tersisa. Hanya suara ombak. Hanya suara ombak yang abadi, menceritakan kisah yang sama, berulang-ulang, kepada siapa saja yang mau mendengarkan.

​Apakah kau masih mendengarnya?

Komentar