Barangkali, hidup hanyalah sekerat waktu yang dilemparkan ke tengah-tengah ketidakpastian. Di sebuah sudut kota yang bising, atau mungkin di dalam kamar yang terlalu tenang hingga detak jantung terdengar seperti ketukan pintu yang menuntut jawaban, aku berdiri. Menghadap sebuah cermin besar yang tidak memantulkan wajah, melainkan memantulkan ketakutan-ketakutan yang paling purba.
Aku takut, Tuhanku. Aku takut jika pada akhirnya, dalam kehidupan yang hanya sekali ini, aku tidak menjadi apa-apa.
Dalam gaya hidup yang menuntut setiap orang menjadi "seseorang," menjadi "bukan siapa-siapa" terasa seperti dosa yang tak terampuni. Kita dipaksa untuk berlari, memanjat, dan berteriak agar dunia menoleh. Namun, di tengah keriuhan itu, suaramu seringkali tenggelam oleh bisingnya ambisi. Aku menatap langit yang luasnya tidak masuk akal itu, dan tiba-tiba saja, segala rencanaku, segala daftar keinginan yang kutulis dengan tinta paling hitam, terasa begitu kerdil. Apa artinya sebuah permohonan kecil seorang manusia di hadapan-Mu yang Maha Segalanya? Segala yang kupinta, yang seringkali kutangisi siang dan malam, sebenarnya hanyalah sebutir debu di hamparan semesta-Mu.
Lantas, apa yang sebenarnya perlu kutakutkan?
Persoalannya, Tuhanku, aku adalah makhluk yang terjebak dalam ruang dan waktu. Aku gelisah pada apa yang belum mesti menjadi takdirku. Aku mencemaskan hari esok seolah-olah aku punya kuasa untuk memutar jarum jam. Hatiku dan akalku, betapa sempitnya mereka. Mereka seperti bejana kecil yang mencoba menampung luasnya samudera kebijakan-Mu. Tentu saja mereka tidak sampai. Mereka tumpah, mereka pecah, dan mereka seringkali berakhir dalam prasangka. Aku ingin menjadi sesuatu. Seseorang yang berarti, seseorang yang berhasil, seseorang yang cukup dan kemudian mencukupkan orang lain. Sebuah cita-cita yang terdengar mulia, namun seringkali hanyalah topeng dari ego yang haus akan pengakuan.
Namun, dalam sebuah keheningan yang paling tajam, aku tersadar. Bukankah keberadaanku saja—napas yang turun naik ini, mata yang masih bisa menangkap warna senja, pikiran yang masih bisa meragu—adalah bukti bahwa Engkau tidak pernah menciptakan aku sebagai sesuatu yang "tidak berarti"?
Kebenarannya adalah: aku tidak pernah diciptakan untuk menjadi sia-sia. Tidak ada satu pun goresan takdir-Mu yang salah sasaran. Jika seekor semut di bawah batu hitam pada malam yang gelap saja Engkau jamin rezekinya, apalagi aku, manusia yang Engkau beri mandat untuk berpikir? Maka, ampuni aku, Tuhanku. Ampuni aku karena telah meragukan keagungan-Mu dengan kecemasan-kecemasan yang remeh.
Ajarilah aku untuk tidak mengukur diriku dari apa yang belum aku capai. Di dunia ini, keberhasilan seringkali dihitung dengan angka-angka: saldo bank, jumlah pengikut, atau deretan gelar. Tapi aku ingin belajar tentang matematika-Mu. Aku ingin menjadi manusia yang besar rasa syukurnya. Sebab mungkin, menjadi "apa-apa" di dunia ini tidak selalu tentang dikenal oleh jutaan orang, tidak selalu tentang dipuji di panggung-panggung megah, atau diakui dalam catatan sejarah.
Mungkin, menjadi "apa-apa" hanyalah tentang bagaimana aku tetap mampu berdiri tegak dan terus berjalan tanpa kehilangan percaya kepada-Mu. Bagaimana aku tetap mampu mencintai meski disakiti, dan tetap mampu memberi meski merasa kekurangan. Itulah keberhasilan yang sejati dalam keterasingan dunia ini.
Dan jika suatu hari nanti, saat rambutku mulai memutih dan langkahku mulai payah, aku ternyata tidak menjadi seperti apa yang pernah aku bayangkan di masa muda, maka jangan biarkan aku merasa gagal. Jangan biarkan rasa pahit itu menetap di hatiku. Selama aku masih menjadi hamba yang Engkau jaga, hamba yang masih Engkau arahkan langkahnya ke jalan-jalan kecil yang sunyi namun benar, dan hamba yang tidak Engkau tinggalkan sendirian dalam kegelapan—maka aku sudah cukup.
Tuhan, jika aku memang harus tetap menjadi kecil di hadapan dunia, jika namaku tidak pernah tertulis di papan reklame atau buku-buku besar, maka cukup besarkanlah aku di hadapan-Mu. Sebab pada akhirnya, panggung dunia ini akan dibongkar. Lampu-lampunya akan padam. Tepuk tangannya akan senyap.
Aku tidak ingin menjadi "apa-apa" bagi manusia jika itu artinya aku harus kehilangan-Mu. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang tidak Engkau sia-siakan. Seseorang yang ketika pulang nanti, Engkau sambut dengan senyum yang berkata: "Engkau telah melakukan bagianmu dengan baik, hamba-Ku."
Sebab di hadapan-Mu, tidak ada yang kecil jika ia bersandar pada yang Maha Besar. Dan dalam kepasrahanku ini, aku menemukan kemerdekaanku yang paling utuh.
Komentar
Posting Komentar