Di sudut kamar yang remang, cahaya lampu meja hanya mampu menyentuh sebagian kecil dari jajaran punggung buku di lemari kayu itu. Ada yang tampak gagah dengan sampul mengilap yang baru saja kau beli di toko buku diskon bulan lalu; ada pula yang mulai memucat, berdebu, menanggung beban waktu dan pengabaian. Mereka berbaris di sana seperti pasukan yang setia, menunggu jemarimu untuk sekadar menyentuh atau membukanya di suatu sore yang tenang.
Namun, sering kali, tangan kita terlalu berat untuk menjangkau. Jiwa kita barangkali sedang didera oleh musim dingin yang tak kunjung usai, sebuah musim yang tak tercatat dalam kalender namun terasa begitu beku di dalam dada.
Dalam tradisi kepenulisan yang menghargai detail-detail kecil sebagai sauh ingatan, kita belajar bahwa hidup bukanlah sebuah garis lurus yang megah. Ia adalah kumpulan fragmen. Maka, ketika dunia terasa begitu menyesakkan, ketika beban di pundakmu seolah-olah tak lagi sanggup kau pikul, aku ingin membisikkan satu hal padamu: Hiduplah. Hiduplah sedikit lebih lama, setidaknya untuk tiap-tiap buku yang bejejer di lemari kamarmu itu. Ada percakapan yang belum kau dengar di sana, ada aroma kertas tua yang belum sempat kau hirup dalam-dalam, dan ada dunia-dunia paralel yang menunggumu untuk menjadi saksi. Tidakkah kau merasa kasihan jika mereka tetap menjadi benda mati yang berdebu tanpa pernah sempat tersentuh oleh rasa ingin tahumu?
Hidup sering kali memperlakukan kita dengan kasar, menyeret kita ke dalam labirin yang gelap. Namun, ingatlah pada tempat-tempat yang pernah kau simpan dalam binar matamu. Ingatlah pada rona senja di tepi pantai yang belum sempat kau kunjungi, atau kabut pagi di pegunungan jauh yang fotonya kau simpan di pojok galeri ponselmu. Tempat-tempat itu indah, jauh, dan barangkali saat ini terasa mustahil untuk kau tempuh. Tetapi mereka ada. Mereka menunggu langkahmu. Mereka adalah janji yang belum tertepati, dan kau adalah satu-satunya orang yang bisa menepati janji itu dengan tetap melangkah.
Kita semua adalah pemimpi yang keras kepala. Di dalam kepalamu, ada mimpi-mimpi yang masih tinggal, berdesakan dengan kecemasan dan rasa lelah. Mimpi-mimpi itu barangkali masih berbentuk sketsa kasar, belum sempat kau rengkuh, belum sempat kau beri warna. Jika kau memutuskan untuk berhenti sekarang, mimpi-mimpi itu akan menjadi hantu yang tak pernah lahir. Mereka membutuhkan detak jantungmu, napasmu, dan kegigihanmu untuk bisa mewujud menjadi nyata.
Aku mengerti, musim yang kau hadapi saat ini barangkali adalah musim yang paling sulit. Mungkin ini adalah musim gugur yang merontokkan segala harapanmu, atau musim penghujan yang menenggelamkan semangatmu dalam lumpur keputusasaan. Namun, bukankah sejarah alam telah mengajarkan kita tentang satu hal yang pasti? Bahwa tidak ada musim yang abadi. Tiap-tiap musim akan berganti. Salju akan mencair, bunga akan kembali merekah, dan matahari akan menemukan celah untuk menyinari kembali kamarmu yang gelap.
Semua ini, sesulit apa pun itu, akan terlewati. Ia akan menjadi sebuah bab yang berat dalam buku kehidupanmu, namun ia bukan akhir dari cerita.
Bayangkanlah dirimu beberapa tahun dari sekarang. Bayangkan kau sedang duduk di sebuah beranda, menyesap secangkir teh hangat di bawah langit yang cerah. Kau akan menengok ke belakang, ke hari ini—hari di mana kau merasa begitu hancur—dan kau akan tersenyum. Bukan senyum yang mengejek, melainkan senyum bangga yang tulus. Kau akan bangga pada dirimu sendiri karena kau tidak memilih untuk menyerah lebih cepat. Kau akan bangga karena kau memilih untuk bertahan melewati badai demi bisa membaca satu buku lagi, menempuh satu perjalanan lagi, dan merengkuh satu mimpi lagi.
Keberanian tidak selalu berarti suara teriakan yang menggelegar di medan perang. Sering kali, keberanian adalah suara kecil di penghujung hari yang berkata, "Aku akan mencoba lagi besok."
Maka, tetaplah di sini. Tetaplah bernapas. Tetaplah menjadi saksi bagi perubahan musim-musim di luar sana dan musim-musim di dalam dirimu. Sebab dunia ini masih layak untuk dijalani, dan kau, dengan segala luka dan impianmu, adalah bagian yang paling berharga dari kelayakannya. Percayalah, pada akhirnya, ketabahanmu akan menjadi cerita yang paling indah untuk dikisahkan.
Komentar
Posting Komentar