Langsung ke konten utama

Pencuri di Rak Paling Sunyi

Malam itu, Tulungagung sedang dalam puncaknya yang paling angkuh. Hujan baru saja reda, menyisakan bau aspal basah yang menyusup lewat celah jendela, membawa serta dingin yang menusuk hingga ke sumsum. Aku terbangun bukan karena suara gaduh pintu yang didobrak atau langkah kaki yang berat di atas lantai kayu. Aku terbangun karena sebuah keheningan yang tak lazim—jenis keheningan yang biasanya hanya muncul tepat sebelum sebuah bencana besar diputuskan oleh sejarah.

Di sudut kamar, ada sesosok bayangan. Ia bergerak dengan keanggunan seorang kurator museum yang sedang memilah artefak berharga. Aku terpaku di balik selimut, jantungku berdegup seperti denting mesin tik tua yang macet. Anehnya, ia tak menoleh pada ponsel pintarku yang tergeletak pasrah di meja nakas. Ia juga melewati dompet kulitku yang ternganga, yang isinya memang tak pernah berarti banyak bagi siapa pun yang mendambakan kekayaan materi. Persetan dengan uang; pencuri ini tampaknya punya selera yang jauh lebih tinggi sekaligus lebih keji.

Ia langsung menuju rak paling sunyi di sudut ruangan. Itu adalah rak tempat aku menyimpan buku-buku yang belum selesai kubaca, fragmen-fragmen pikiran yang masih menggantung, dan janji-janji yang sengaja kutunda penyelesaiannya karena aku terlalu takut menghadapi akhir cerita.

Dengan jemari yang tampak lebih dingin dari udara luar, ia menarik sebuah novel. Aku mengenali sampulnya bahkan dalam remang: sebuah buku yang di dalamnya terselip sebuah pembatas buku tepat pada halaman yang menyimpan kalimat murahan, namun bagiku terasa seperti sebuah deklarasi suci: "Kita akan baik-baik saja."

Sialan. Kalimat itu adalah benteng terakhirku. Dan di hadapan mataku, pencuri itu tidak sekadar mengambil bukunya. Ia merobek halaman itu. Ia tidak hanya mencuri fisiknya; ia membunuh kalimat itu. Ia mengganti kemungkinan dengan kehampaan yang mutlak. Dengan gerakan yang hampir terlihat seperti sebuah ritual, ia menghapus bahagia yang bahkan belum sempat aku yakini keberadaannya. Semua rencana kecil yang dulu kita ucapkan sambil tertawa, yang kita susun di antara tegukan kopi pahit di sore yang hangat, disulapnya menjadi bayangan yang terlalu nyata untuk dilupakan, namun terlalu sakit untuk disentuh kembali.

Aku ingin berteriak, tapi lidahku kelu. Rasanya seperti sedang menyaksikan sebuah narasi sejarah yang sedang direvisi secara paksa oleh penguasa yang zalim.

Lalu, seperti kabut yang tersapu angin pagi, ia lenyap.

Aku terduduk dengan peluh dingin. Kamarku utuh. Ponselku masih di sana, menunjukkan angka-angka digital yang tak bermakna. Dompetku masih di sana, menyimpan sisa-sisa transaksi yang membosankan. Hidupku, jika dilihat dari luar, tampak baik-baik saja. Tak ada kaca yang pecah, tak ada kunci yang rusak. Tapi ada sesuatu yang hilang di sebuah koordinat yang bahkan tak punya nama dalam peta anatomi manusia.

Ini bukan luka yang bisa dibalut dengan kain kasa. Bukan pula darah yang bisa dibersihkan dengan antiseptik. Ini adalah sebuah lubang kosong yang diam-diam menggerogoti, sebuah abjeksi yang membuatku merasa asing di kamarku sendiri. Dan persetan, aku tidak tahu harus menyebutnya apa selain... kamu.

Pencuri itu tidak meninggalkan jejak fisik, tapi ia meninggalkan rindu yang keparat. Rindu yang sangat licin karena aku bahkan tak bisa menuduhnya sebagai sebuah kehilangan yang sah. Bagaimana mungkin aku menyebutnya hilang, jika wajahmu masih menetap dengan begitu kurang ajar di dalam kepalaku? Wajahmu masih ada di sana, tersenyum dengan cara yang membuatku ingin mengutuk waktu.

Aku kini didera ketakutan yang jauh lebih purba. Aku takut bahwa suatu hari nanti, kamu benar-benar akan pergi sepenuhnya dari ingatanku, tanpa drama, tanpa sisa. Dan saat itu tiba, aku tak punya apa-apa lagi untuk disalahkan atas kekosongan ini. Tak ada lagi yang bisa dicuri dariku karena semuanya telah habis.

Di rak yang kini benar-benar sunyi itu, aku hanya bisa menatap ruang hampa yang ditinggalkan buku itu. Pencuri itu benar-benar tahu caranya menghancurkan seseorang: ia tak mengambil apa yang kita punya, ia mengambil apa yang kita harapkan.

Malam kembali hening. Tapi kini, keheningan itu bukan lagi sebuah jeda, melainkan sebuah akhir yang dipaksakan. Aku memejamkan mata, mencoba mencari kembali kalimat "kita akan baik-baik saja" di labirin ingatanku, tapi yang kutemukan hanyalah sobekan kertas imajiner yang beterbangan, mengingatkanku bahwa dalam narasi besar tentang kita, ada seseorang yang baru saja mengganti titik dengan jurang yang tak berdasar.

Komentar