Hidup, barangkali, memang sebuah perjamuan yang terlalu lama. Di meja kayu tua yang permukaannya mulai retak dimakan rayap waktu, kita duduk menghadap piring-piring yang isinya tak selalu manis. Ada kalanya kita disuguhi potongan daging yang empuk oleh tawa, namun seringkali kita dipaksa mengunyah empedu pengkhianatan yang pahitnya tertinggal di pangkal lidah hingga bertahun-tahun kemudian.
Aku teringat pada suatu sore di sebuah kafe remang-remang di sudut kota yang basah oleh sisa hujan. Di sana, aroma cengkih dari rokok kretek bercampur dengan bau tanah yang menguap, menciptakan semacam selimut melankoli yang akrab. Kita duduk berhadapan, namun ada jarak ribuan kilometer yang tercipta dari kata-kata yang urung diucapkan. Di sela-sela denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen, aku menyadari bahwa kita sedang mengecap syukur yang sangat getir. Bersyukur karena masih bisa duduk bersama, sekaligus perih karena tahu bahwa waktu sedang menjalankan tugasnya yang paling kejam: mencuri detik-detik kebersamaan kita secara perlahan.
Kita bercinta malam itu dengan semacam kegilaan yang ganjil. Seolah-olah tubuh adalah satu-satunya benteng yang belum runtuh. Gairah, dalam pandanganmu yang nanar, adalah satu-satunya peluru yang tersisa di dalam magasin senapan kita yang mulai berkarat. Kita menembakkannya ke arah dinding kesepian yang mengepung kamar, berharap dentumannya bisa meruntuhkan tembok-tembok bisu yang membuat kita merasa asing di rumah sendiri. Namun, seperti kata mereka yang sudah khatam soal luka, tubuh hanyalah dermaga sementara. Setelah peluru terakhir diledakkan, kesepian itu kembali merayap dari sudut-sudut plafon, lebih pekat dan lebih menuntut.
Di luar sana, dunia tidak peduli pada luka-luka kecil kita di balik selimut. Dunia adalah gelanggang yang tak pernah tidur, sebuah koloseum modern yang menuntut kita untuk terus bertarung. Kita dipaksa mengenakan baju zirah berupa gelar, jabatan, dan senyum palsu di hadapan kamera, demi mempertahankan sejumput prinsip yang seringkali koyak di sana-sini. Aku melihatmu, dan juga diriku sendiri, terseok-seok mempertahankan kejujuran di tengah pasar malam kebohongan yang bising. Kita bertarung demi sesuatu yang kita sebut "idealism", padahal kita tahu, prinsip itu seringkali sudah compang-camping akibat benturan dengan kenyataan yang tak mengenal ampun.
Ada saat-saat di mana kita merasa ingin menyerah. Ketika pengkhianatan waktu—yang membuat janji-janji masa muda terdengar seperti lelucon basi—mulai terasa mencekik. Kita melihat kawan-kawan lama yang satu per satu mengganti integritas mereka dengan kenyamanan material. Kita melihat cinta yang dulu kita puja sebagai api abadi, kini hanya menyisakan abu yang dingin di perapian. Di titik itulah, kita belajar tentang arti dari sebuah luka yang menganga.
Luka itu bukan untuk ditutupi dengan bedak kecantikan atau diperban dengan penyangkalan. Luka itu ada untuk dirasakan setiap denyutnya. Dalam gaya penulisan hidup yang seringkali sarkastis, luka adalah tanda baca yang memberi makna pada kalimat-kalimat panjang kesedihan kita. Tanpa luka, kita mungkin akan lupa bahwa kita masih memiliki detak jantung.
Lalu, apa yang tersisa dari semua pertempuran ini?
Aku sering merenung, mungkin keberanian sejati memang bukan tentang berapa banyak musuh yang kita jatuhkan di gelanggang. Bukan tentang seberapa sering kita berdiri di podium kemenangan dengan medali yang nantinya akan berdebu. Keberanian itu, aku temukan dalam sorot matamu yang tetap jernih meski habis menangis. Keberanian itu ada pada caramu menyeduh kopi di pagi hari, meski malam sebelumnya dunia baru saja meruntuhkan separuh mimpimu.
Menjadi manusia yang utuh di hadapan takdir yang tak terduga adalah sebuah kerja keras yang sunyi. Ia adalah sebuah keputusan untuk tetap lembut di tengah dunia yang semakin keras. Ia adalah keberanian untuk tetap membuka tangan untuk mendekap, meski kita tahu setiap dekap itu fana dan suatu saat akan terlepas. Kita tetap memilih untuk mencintai, meski tahu bahwa kehilangan adalah niscaya. Kita tetap memilih untuk jujur, meski tahu bahwa dunia lebih menyukai topeng.
Barangkali, perjamuan ini memang tak henti-hentinya menuntut kita untuk pandai mengecap syukur. Bukan syukur yang naif, yang hanya muncul saat langit biru bersih, melainkan syukur yang lahir dari pemahaman bahwa getirnya hidup adalah bumbu yang membuat perjamuan ini terasa "nyata". Kita belajar bahwa menjadi utuh bukan berarti tidak pernah retak. Menjadi utuh adalah mengumpulkan kepingan-kepingan diri yang hancur, menyusunnya kembali dengan perekat berupa ketabahan, dan berani menatap masa depan tanpa harus kehilangan rasa kemanusiaan kita.
Malam semakin larut. Di meja makan ini, sisa perjamuan kita masih ada. Secangkir kopi yang sudah dingin, remah-remah roti, dan sepasang mata yang masih berani bermimpi. Di luar sana, takdir mungkin sedang menyiapkan kejutan pahit berikutnya. Namun, biarlah. Selama kita masih bisa merasakan hangatnya jemari yang bertaut dan pahitnya syukur yang tulus, kita tahu bahwa kita belum kalah. Kita masih manusia. Dan dalam menjadi manusia, kita telah memenangkan pertempuran yang paling hakiki.
Komentar
Posting Komentar