Malam di Tulungagung selalu memiliki caranya sendiri untuk menyapa—lewat aroma aspal basah setelah hujan sore hari dan kepulan uap dari cangkir kopi ijo di kedai-kedai yang tak pernah benar-benar terlelap. Di bawah lampu-lampu jalan yang masih menyala di sudut-sudut yang sama, aku berdiri, merasa seperti orang asing di rumah sendiri. Segala sesuatunya tampak seperti sebuah diorama yang enggan berubah: keramaian di sekitar Alun-alun, deretan becak yang menunggu penumpang di depan stasiun, hingga bunyi gesekan sendok di atas piring mi godog yang akrab di telinga.
Namun, di tengah hiruk-pikuk yang tak berubah itu, ada satu kekosongan yang berteriak lebih nyaring dari klakson motor yang berlalu-lalang. Kita.
Aku teringat bagaimana kau dulu sangat mencintai kota ini bukan karena kemegahannya, melainkan karena kesahajaannya. "Tulungagung itu seperti pelukan lama," katamu suatu kali saat kita duduk di pinggiran trotoar dekat perempatan jembatan Plengkung. Kau menunjuk ke arah lampu-lampu yang berpijar kuning keemasan, memantul di permukaan air yang tenang. Saat itu, aku merasa kita adalah bagian dari detak jantung kota ini. Kita adalah narasi yang sedang ditulis oleh trotoar, oleh udara malam yang lembap, dan oleh aroma sate kambing yang terbawa angin.
Kini, orang-orang datang dan pergi seperti biasa. Wajah-wajah baru memenuhi bangku-bangku di taman kota, tertawa dengan lelucon yang mungkin pernah kita tertawakan dulu. Mereka bergerak dalam ritme yang sama, namun kita—atau lebih tepatnya, entitas yang pernah kita sebut sebagai "kita"—tak lagi ada di dalamnya. Kita telah terhapus dari daftar penduduk aktif di memori kota ini, berubah menjadi sepasang hantu yang hanya menampakkan diri dalam lamunan singkat para pejalan kaki yang melankolis.
Ada semacam ketidakadilan dalam cara sebuah kota tetap hidup tanpa menunggu siapapun. Tulungagung tidak berduka saat kita memutuskan untuk berjalan ke arah yang berlawanan. Ia tidak meredupkan lampunya saat kau pergi membawa separuh dari ceritaku. Sebaliknya, kota ini terus tumbuh, terus bernapas, seolah-olah perpisahan kita hanyalah noktah kecil yang tak berarti di atas peta sejarahnya yang panjang.
Jejak-jejak kita, bagaimanapun, tak benar-benar hilang. Ia tersisa di sudut-sudut yang dulu sering kita lewati dengan langkah pelan. Di sepanjang jalan menuju Pantai Gemah, aku masih bisa merasakan sisa-sisa percakapan kita yang menggantung di udara, terjepit di antara rimbun pohon jati. Di udara malam yang terlalu sunyi, aku mendengar gema suaramu yang beradu dengan suara angin. Seolah-olah setiap sudut kota ini memiliki ingatan yang lebih panjang dari manusia; ia mencatat setiap janji yang pernah diucapkan, setiap genggaman tangan yang mengerat saat udara mendingin.
Aku berjalan menyusuri jalanan kecil menuju Pasar Pon, tempat kita dulu sering mencari jajanan pasar di pagi buta. Aroma tanah dan sayur-mayur segar masih sama. Atmosfernya masih memberikan rasa aman yang ganjil, sebuah perasaan familiar yang justru melukai. Di sini, aku merasa seolah waktu adalah sebuah lingkaran, bukan garis lurus. Kenangan tidak berlari menjauh dariku; ia berjalan pelan, tepat satu langkah di belakangku, seperti bayangan yang enggan lepas. Setiap kali aku menoleh, aku merasa akan menemukan sosokmu di sana, mengenakan jaket tipis yang sama, tersenyum seolah-olah perpisahan tidak pernah terjadi.
Mungkin, itulah kutukan dari sebuah kota kecil yang romantis. Ia mengecilkan ruang gerak memori sehingga setiap langkah adalah pertemuan kembali dengan masa lalu. Di antara hiruk-pikuk pasar dan ketenangan sudut-sudut kampung, aku menyadari bahwa kota ini tetap menjadi panggung yang sama, hanya saja pemerannya telah berganti. Kita telah selesai dengan peran kita, dan kini kita hanya tinggal sebagai cerita—sebuah bab pendek dalam buku besar tentang Tulungagung yang mungkin tak akan pernah dibaca orang lain.
Namun, bagiku, Tulungagung akan selalu memiliki aroma "kita". Ia adalah perpaduan antara pahitnya kopi ijo dan manisnya kenangan yang dipaksakan untuk tetap hidup. Di tengah kota yang tetap hidup tanpa menunggu, aku memilih untuk berhenti sejenak, memberikan penghormatan pada jejak yang tak pernah benar-benar hilang di jalan, di udara, dan di malam-malam sunyi yang selalu berhasil memanggilmu pulang ke dalam ingatanku.
Sebab di kota ini, kita pernah ada, dan itu cukup untuk membuat setiap lampunya bercerita tentang sesuatu yang pernah nyata.
Komentar
Posting Komentar