Sore itu, langit tidak sedang ingin bersandiwara. Tidak ada guntur yang meledak bagai amarah seorang diktator dalam novel-novel sejarah, pun tidak ada kilat yang menyambar-nyambar dengan angkuh. Hujan datang begitu saja, mengetuk pintu dengan sopan, seperti seorang sahabat lama yang tahu diri. Ia turun dengan ritme yang tenang, sebuah staccato lembut di atas genting yang tidak membawa derak sepi yang biasanya mencekam.
Di balik jendela yang mulai berembun, aku berdiri menanti. Namun, ada yang ganjil dalam orkestra air kali ini. Hujan tidak sekadar membawa aroma tanah yang basah atau hawa dingin yang menusuk tulang. Di tengah tirai air yang tipis itu, aku melihat sebuah siluet yang selama ini hanya berani kusematkan dalam lipatan mimpi yang paling rahasia.
Ia berdiri di sana. Hujan seolah-olah menjadi pengawal setianya, mengantarkannya pulang setelah pengembaraan panjang yang tak pernah kusetujui. Ia, si Mahkota Bakung Lembah—Lily of the Valley—yang pernah tergelincir dari genggamanku, kini berdiri tegak di ambang pintu. Sebuah kepulangan yang selama ini aku rayu lewat doa-doa yang tercekat di tenggorokan dan lewat tatapan mata yang tak pernah lengah memindai cakrawala.
Aku tidak membiarkannya menunggu lebih lama. Dengan gerakan yang sedikit gemetar—seperti karakter dalam drama yang mendadak lupa dialognya karena terlalu bahagia—aku membuka pintu.
"Masuklah," bisikku, hampir tak terdengar di antara desis hujan.
Aku menariknya lembut ke dalam rumah, ke dalam wilayah kekuasaanku yang selama ini terasa gersang tanpa kehadirannya. Ia tampak basah, namun matanya tetap menyimpan binar yang sama, binar yang dulu pernah membuatku merasa bahwa dunia ini cukup dihuni oleh kami berdua saja.
Di atas meja kayu yang sudah menua, sudah kusiapkan segalanya. Bukan perjamuan mewah ala kaum aristokrat, melainkan sesuatu yang jauh lebih intim: semangkuk dekap hangat. Ia bukan sekadar pelukan fisik, melainkan sebuah ruang aman di mana ia boleh meletakkan seluruh kelelahannya. Di sampingnya, tersaji secangkir rindu yang uapnya masih mengepul—rindu yang racikannya telah aku sempurnakan selama bertahun-tahun sepi.
Aku tahu, secangkir rindu ini tidak akan pernah habis ia teguk. Sebab, dalam setiap sesapannya, dambaku akan terus lahir kembali, lebih segar dan lebih kuat dari sebelumnya. Dambaku padanya adalah sebuah proses regenerasi yang konstan, sesuatu yang akan terus ada selama jantungku masih memutuskan untuk berdetak, bahkan mungkin lebih dari seumur hidup.
Dalam gaya penceritaan yang aku yakini, cinta seringkali bukan sekadar tentang pertemuan dua pasang mata, melainkan tentang bagaimana kita memaknai kehilangan dan menemukan jalan untuk kembali. Bagiku, kepulangannya sore ini adalah sebuah validasi atas segala kesetiaan yang melelahkan. Aku memandangnya lamat-lamat, menyusuri garis wajahnya yang masih menyimpan jejak-jejak air hujan, dan menyadari bahwa ia adalah satu-satunya entitas yang mampu mendefinisikan kata "rumah".
Banyak orang bertanya-tanya, dalam sajak-sajak yang sering kutulis atau dalam gumaman yang tak sengaja terdengar, seperti apa sebenarnya rupa renjana itu? Apakah ia berbentuk api yang membara dan menghanguskan? Ataukah ia berupa badai yang memporak-porandakan akal sehat?
Kini aku punya jawabannya. Jika ada yang bertanya seperti apa renjana itu, maka jawabannya adalah ia. Ia yang kini duduk di hadapanku, menyesap rindu dari cangkir porselen putih, sementara di luar sana hujan terus bercerita tentang keajaiban-keajaiban kecil yang sering kita abaikan. Renjana adalah keberanian untuk menunggu meski tanpa kepastian, dan keikhlasan untuk menerima kembali tanpa banyak tanya.
Aku menyadari satu hal yang fundamental di sore yang basah ini: keterikatanku padanya telah melampaui logika mortalitas. Pun jika nanti maut datang menjemput dengan wajahnya yang dingin dan tak terbantahkan, aku tidak merasa gentar. Bagiku, ia adalah liang—bukan dalam konotasi kegelapan yang menakutkan, melainkan sebagai tempat peristirahatan terakhir yang paling damai. Kepadanya aku akan selalu berpulang, baik dalam wujud daging maupun dalam wujud ingatan yang abadi.
Hujan di luar sana mungkin akan segera reda, meninggalkan genangan-genangan kecil di jalanan setapak. Namun di dalam rumah ini, di dalam lingkaran dekapku, kehangatan itu baru saja dimulai. Bakung lembahku telah kembali, membawa serta harum yang dulu sempat hilang dari penciumanku. Sore ini, aku tidak lagi membutuhkan metafora yang rumit untuk menjelaskan kebahagiaan. Kebahagiaan itu kini punya nama, punya aroma, dan ia sedang duduk di depanku, menghabiskan secangkir rindu yang takkan pernah kering oleh waktu.
Sebab dalam setiap tarikan napasnya, aku menemukan alasan untuk terus mencintai. Dan dalam setiap kedipan matanya, aku melihat sebuah masa depan yang tak lagi perlu kucari-cari di peta mana pun. Ia adalah tujuanku, ia adalah perjalananku, dan ia adalah rumah yang pintunya takkan pernah lagi kututup untuk siapa pun selain dirinya.
Komentar
Posting Komentar