Di Tulungagung, waktu seolah bergerak dalam ritme yang ganjil. Ia tidak secepat kota kota besar yang memburu napas, namun tidak pula selambat desa-desa di pinggiran yang nampak pasrah pada nasib. Di sini, di kota yang terkenal dengan guratan marmernya yang dingin dan kokoh, kau menemukan dirimu terjebak dalam sebuah paradoks yang panjang. Barangkali, kau memang akan selalu merasa sendiri di kota ini, sebuah perasaan yang menyeruak justru di tengah kepulan asap kopi di kedai-kedai cethel yang tak pernah sepi.
Kau sering kali duduk di antara kawan-kawanmu, atau mungkin di hadapan kekasihmu yang sesekali melemparkan tawa renyah. Kalian bercengkerama, membicarakan hal-hal remeh hingga filosofi hidup yang berat, dibungkus oleh kehangatan udara malam Tulungagung yang lembap. Namun, ada sebuah ruang kosong di dalam dadamu yang tak mampu diisi oleh kebisingan itu. Puncaknya adalah ketika kau melangkah pulang, membuka pintu kamar yang dingin, dan merebahkan tubuhmu yang letih. Di sana, di bawah remang lampu, kau kembali dipeluk oleh kesendirian yang pekat. Kau menyadari bahwa keriuhan tadi hanyalah jeda singkat dari monolog panjang yang kau lakukan dengan dirimu sendiri.
Kau mencintai kota ini justru karena anomali yang ia tawarkan: kau tidak terlalu mengenal siapa-siapa, dan tak ada yang benar-benar mengenalmu. Di Tulungagung, kau bisa menjadi bayangan yang melintas di trotoar tanpa perlu merasa diawasi oleh mata-mata yang penuh tuntutan. Tak ada paman yang bertanya kapan kau akan meminang, tak ada tetangga yang mengatur moralitas hidupmu, dan tak ada otoritas tak kasatmata yang menyuruhmu melakukan sesuatu yang kau benci. Di sini, kau adalah nahkoda tunggal bagi langkahmu sendiri.
Namun, pertanyaan itu selalu muncul seperti hantu yang menolak pergi: kalau sudah seperti itu, apakah kau sedang merayakan sebuah kemerdekaan yang mutlak, ataukah kau sebenarnya sedang terperosok perlahan ke dalam jurang kesendirian yang tak berdasar? Apakah kebebasan berarti ketiadaan orang lain, ataukah itu hanyalah nama lain dari keterasingan?
Kau mencintai Tulungagung karena di sini kau bisa berjalan menyusuri jalanan utama hingga ke pinggiran tanpa perlu menjelaskan ke mana arah langkahmu. Tak ada yang bertanya terlalu jauh mengapa kau memilih jalan ini, bukan jalan itu. Tak ada beban ekspektasi yang diletakkan di pundakmu seberat batu marmer dari Besole. Kau bebas menjadi siapa pun—seorang pemimpi yang gagal, seorang pekerja keras yang sunyi, atau tidak menjadi apa-apa sama sekali. Dan yang paling mewah dari semua itu adalah: tak seorang pun merasa berhak menggugat pilihanmu untuk menjadi "tiada".
Tetapi, benarkah kau mencintai kota ini? Ataukah kau mencintainya sebesar kau membencinya?
Ada semacam rasa muak yang tumbuh perlahan di sela-sela rasa nyaman itu. Di Tulungagung, kau merasa terkurung dalam kesibukan yang nampak repetitif, sebuah rutinitas yang entah kapan akan menemui titik akhirnya. Kota ini terlalu ramah, terlalu tenang, dan kadang-kadang keamanan itu justru menjadi jeruji yang tak terlihat. Kau merasa kemampuanmu tumpul, aspirasimu membeku, karena di sini tidak ada api yang memaksamu untuk terus berlari. Kau terjebak dalam zona nyaman yang melenakan, sebuah pelukan hangat yang perlahan-lahan mencekik pertumbuhanmu.
Sering kali, saat menatap cakrawala di JLS Pantai sine atau sekadar melihat lampu kota dari kejauhan, kau merindukan sesuatu yang kau sebut "kampung halaman". Namun, kerinduan itu pun bersifat ambigu. Kau merindukan kepulangan, tapi di saat yang sama, kau enggan menatapnya. Kau takut bahwa kepulangan hanya akan membawa kembali belenggu-belenggu yang berhasil kau lepaskan di kota ini. Kau terjepit di antara keinginan untuk menetap dan hasrat untuk melarikan diri.
Tulungagung bagimu adalah sebuah panggung di mana kau hidup dalam keramaian yang nyata, namun jiwa-jiwamu tetaplah seorang pertapa. Kau melihat orang-orang datang dan pergi; kawan-kawan lama berpindah ke kota besar, kekasih yang mungkin menemukan pelabuhan lain, atau orang-orang asing yang sekadar singgah untuk menyesap kopi. Mereka semua memiliki tujuan, memiliki arah, dan memiliki seseorang untuk dituju.
Sementara itu, kau masih di sini. Di sudut kota ini, kau tetap menjadi sosok yang memeluk dirimu sendiri. Kau menjadi saksi bagi perubahan musim di Tulungagung, namun di dalam hatimu, cuacanya tetap sama: mendung yang statis. Kesendirianmu bukan lagi sebuah beban, melainkan sebuah identitas yang kau kenakan seperti jaket usang yang nyaman. Kau sendiri, dan nampaknya akan selalu sendiri, di kota yang tak pernah tidur namun selalu terasa sunyi ini.
Mungkin inilah takdirmu di Tulungagung. Menjadi bagian dari marmer yang indah namun dingin. Terlihat kokoh di permukaan, namun menyimpan retakan-retakan sunyi di dalamnya yang hanya bisa kau rasakan sendiri saat malam mencapai puncaknya dan kota ini berhenti bicara.
Komentar
Posting Komentar