Langsung ke konten utama

Teriakan Kepala Seorang Laki-laki

Senja baru saja luntur, dan kota, entah Tulungagung, Malang atau Surabaya entah kota mana saja yang kini tengah kau huni dengan nafas tersengal yang sedang bersiap memasang wajah garangnya. Di luar sana, lampu-lampu jalan mulai menyala, kuning dan pucat, seperti wajah laki-laki yang dompetnya tipis dan harapannya sedang sekarat. Di sanalah, di antara deru knalpot dan klakson yang tak sabaran, sebuah kebenaran tua sedang duduk bersila, menatapmu dengan mata yang dingin: Takdir laki-laki itu berat, Kawan.

​Konon, di dunia yang bising ini, seorang laki-laki dinilai bukan dari seberapa dalam ia mampu mencintai, atau seberapa puitis ia mampu merangkai kata di bawah hujan bulan Juni atau bulan bulan lainya. Tidak. Dunia tidak butuh puisi dari perut yang lapar. Dunia mencatat dalam kitab hukum tak tertulisnya bahwa jika seorang laki-laki miskin, ia akan menyusut. Ia akan mengecil, perlahan menjadi transparan, lalu tak terlihat, sampai akhirnya diinjak-injak, diabaikan, dan dibuang ke tempat sampah sejarah oleh orang-orang terdekatnya. Termasuk oleh keluarga yang darahnya mengalir di tubuhnya, dan perempuan yang namanya ia sebut dalam doa-doa paling sunyi.

​Aku membayangkanmu duduk di sudut kamar kos yang pengap, atau di beranda rumah yang cicilannya belum lunas, mendengar kalimat itu. Kalimat yang bukan lagi sekadar nasehat, melainkan vonis. Aku sudah mendengarnya ratusan kali, berdengung seperti lalat yang terperangkap dalam toples kaca di dalam kepalaku, memantul-mantul menyakitkan.

​"Kalau belum punya apa-apa, kalau pekerjaan gajinya belum besar, kalau keluargamu masih perlu ditolong, jangan punya pasangan dulu. Kasian perempuanmu nanti."

​Kalimat itu tidak salah. Sama sekali tidak salah. Namun, kebenarannya terasa seperti irisan silet di kulit yang kering,perih dan membekas. Kalimat itu adalah teriakan zaman yang menuntut kemapanan sebelum perasaan.

​Dalam logika semesta yang materialistik ini, cinta adalah barang mewah yang pajaknya tinggi. Bagiku, dan mungkin bagi jutaan laki-laki lain yang sedang bertarung melawan nasib, ada sebuah aksioma yang harus ditelan bulat-bulat: Laki-laki akan dicintai jika dia memberi. Titik. Tidak ada koma, tidak ada tapi. Laki-laki baru akan dianggap ada, baru akan dihargai keberadaannya, ketika ia tidak lagi menjadi beban. Lebih jauh lagi, ia baru akan dirayakan dengan tumpeng dan pesta pora oleh orang-orang terdekatnya ketika ia sudah mampu membahagiakan semuanya. Membahagiakan di sini, sayangnya, seringkali diterjemahkan dalam bahasa angka-angka di rekening bank, bukan bahasa kasih sayang di dalam dada.

​Nyatanya, kita hidup di dunia di mana akhlak yang baik hanyalah ornamen, dan wawasan yang luas hanyalah hiburan pinggir jalan. Kau boleh saja hafal seluruh karya Shakespeare atau mengerti filsafat Nietzsche, tapi jika kau tidak bisa membayar tagihan listrik atau membelikan lipstik untuk perempuanmu, kau hanyalah seorang pecundang yang pandai bicara. Materi yang cukup atau lebih tepatnya, berlebih telah menjadi syarat mutlak, sebuah tiket emas untuk dipilih dan dicintai.

​Tanpa itu? Kau hanyalah bayang-bayang.

​Maka, simpanlah teriakan itu di kepalamu. Biarkan ia menjadi bahan bakar yang membakar dadamu. Jangan meledak keluar, karena tidak ada yang peduli dengan ledakan emosi seorang laki-laki yang gagal. Laki-laki tidak dibolehkan menangis, bukan? Laki-laki harus sekeras batu karang, meski ombak menghantamnya bertubi-tubi sampai ia retak seribu.

​Bekerja keraslah. Bekerja keraslah sampai tulang-tulangmu berderit, sampai matamu cekung kurang tidur, untuk mengubah dirimu ke taraf hidup yang lebih baik. Bukan untuk membuktikan pada dunia, tapi untuk menyelamatkan dirimu sendiri dari kehinaan. Karena di dunia ini, dan ini adalah bagian yang paling menyakitkan untuk dituliskan, tidak semua perempuan bersedia menjadi saksi dari keringat dan air matamu. Tidak semua perempuan mau duduk di boncengan motor bututmu, menemani prosesmu yang tertatih-tatih tumbuh menjadi manusia utuh.

​Ada perempuan-perempuan yang diciptakan dari tulang rusuk yang realistis. Mereka menunggu di garis finis, memegang handuk dan air minum, hanya untuk para pemenang. Mereka tidak ada di garis start, tidak ada di tanjakan terjal di mana kau hampir menyerah dan memuntahkan isi perutmu karena lelah.

​Sedikit kejam? Tentu saja. Tapi bukankah kenyataan memang selalu lebih pahit daripada kopi tanpa gula yang kau minum malam ini? Inilah kenyataan pahit untuk seorang laki-laki. Bahwa cintanya seringkali harus dibeli dengan kesuksesan. Bahwa kesetiaannya diuji dengan kemapanan.

​Jadi, pada akhirnya, takdir ini memang harus dipikul sendiri. Seperti Sisyphus yang mendorong batu ke puncak bukit, hanya untuk melihatnya menggelinding jatuh lagi, laki-laki harus bangun setiap pagi, melawan gravitasi kemiskinan, dan mendaki gunung harapan. Sendirian. Sampai suatu hari nanti, entah kapan, kau berdiri di puncak itu, dan orang-orang akan datang bertepuk tangan, melupakan bahwa dulu mereka pernah membuangmu.

​Dan saat hari itu tiba, kau hanya akan tersenyum tipis, sambil mengenang masa-masa di mana kau sendirian menelan teriakan di kepalamu, di bawah lampu jalan yang pucat itu.

Komentar