Dunia ini, pada dasarnya, adalah sebuah ruang tunggu yang bising. Kita semua duduk di sini, di antara deru berita buruk, di bawah tekanan ekspektasi, dan di dalam gempa yang konstan dari ribuan mimpi orang lain yang bertabrakan. Kita menjadi lelah. Kita menjadi mati rasa. Kita belajar untuk tidak lagi mendengarkan, tidak lagi melihat, tidak lagi merasa—hanya untuk bertahan hidup.
Lalu, dia datang.
Bukan, dia tidak datang seperti badai. Dia tidak datang seperti revolusi yang menjungkirbalikkan meja. Dia datang seperti selembar daun yang gugur di permukaan danau yang tenang; nyaris tanpa suara, namun riaknya mengubah segalanya.
Aku suka tawanya. Ini bukan tawa yang meledak-ledak, bukan tawa yang dibuat-buat untuk mengisi kekosongan. Tawanya sederhana. Sering kali tawa itu hanya embusan napas yang sedikit lebih kencang, respons pelan terhadap absurditas kecil dalam hidup. Tapi tawa itu, entah bagaimana, memiliki daya menenangkan yang luar biasa. Di dunia yang gegap gempita oleh teriakan, tawanya adalah simfoni kecil yang mengingatkanku bahwa kedamaian masih ada. Saat dia tertawa, seluruh kebisingan di kepalaku—semua tenggat waktu, semua kekhawatiran, semua penyesalan—seketika surut, memberi jalan pada hening yang berharga. Tawanya adalah jeda, tempat aku bisa beristirahat.
Aku suka bola matanya. Ini adalah hal yang paling rumit untuk dijelaskan. Bola matanya tidak sedang mencari siapa pun. Kau tahu tatapan orang-orang di luar sana; mereka memindai ruangan, selalu mencari sesuatu yang lebih baik, seseorang yang baru, atau pintu keluar berikutnya. Mata mereka gelisah. Tapi tidak dengan matanya. Bola matanya tenang. Ia menatap dunia dengan penerimaan yang tulus. Ia tidak sedang mencari, ia hanya melihat.
Dan entah kenapa, justru di dalam ketenangan itulah, di dalam tatapan yang tidak menuntut itu, aku selalu ingin ditemukan di sana. Aku tidak butuh dia untuk mencariku; aku hanya ingin ada di dalam bidang pandangnya. Aku ingin menjadi bagian dari dunia yang ia lihat dengan begitu tenang. Ditemukan oleh mata yang gelisah adalah beban; ditemukan oleh mata yang damai adalah sebuah rumah.
Dan aku suka caranya bercerita. Kita semua punya cerita, tapi kebanyakan dari kita menceritakannya dengan cara yang salah. Kita menceritakan pencapaian, kita menceritakan keluhan. Tapi dia? Dia bercerita tentang hal-hal yang remeh. Tentang warna langit sore ini yang menurutnya aneh. Tentang percakapan yang ia dengar di bus. Tentang rasa kopi yang tiba-tiba terasa berbeda hari ini.
Dia tidak sedang mencoba membuatku terkesan. Dia hanya berbagi fragmen dari harinya. Namun, caranya bercerita—bagaimana setiap kalimatnya bisa menghidupkan kembali bagian diriku yang sempat mati rasa. Aku yang sudah lama sinis terhadap dunia, aku yang sudah lama merasa semuanya sama saja, tiba-tiba bisa merasakan kembali keajaiban kecil. Melalui ceritanya, aku diingatkan bahwa hidup ini terjadi sekarang, di dalam detail-detail kecil ini, bukan di masa lalu yang disesali atau masa depan yang dicemaskan.
Entah kenapa, bersamanya, hal kecil terasa besar, dan hal biasa terasa luar biasa. Duduk diam di teras, tidak melakukan apa-apa selain mendengarkan hujan, terasa seperti sebuah perayaan. Makan malam sederhana dengan telur dadar terasa seperti perjamuan. Dia punya cara membuatku lupa akan luka.
Bukan, luka itu tidak hilang. Luka-luka lama itu masih ada, seperti bekas jahitan di kulit. Mereka adalah bagian dari siapa aku. Tapi bersamanya, fokusku bergeser. Dia tidak mencoba menyembuhkan lukaku dengan paksa; dia hanya duduk di sampingku, dan kehadirannya membuat rasa sakit itu tidak lagi relevan. Dia membuat hidup yang semula berat—oh, betapa beratnya hidup ini sering kali terasa—menjadi sesuatu yang berharga untuk dijalani. Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi mudah, tapi karena ada seseorang yang membuat perjuangan itu terasa sepadan.
Kita hidup dalam ziarah yang fana. Dari sekian banyak orang yang lewat begitu saja, yang hanya singgah untuk kemudian pergi, yang hanya menawarkan ilusi, hanya dia yang tinggal.
Dia tinggal tanpa janji apa-apa. Dia tidak pernah menjanjikan "selamanya". Dia tidak pernah menjanjikan kebahagiaan abadi atau langit yang selalu biru. Dia hanya tinggal, hari demi hari. Dan justru karena ketiadaan janji itulah, kehadirannya terasa begitu jujur, begitu nyata. Dia tidak terikat oleh kewajiban masa depan; dia hadir karena pilihan di masa kini.
Dan dia, yang tidak menjanjikan apa-apa itu, ironisnya, mampu membuatku percaya. Percaya pada hal-hal yang sudah lama aku tinggalkan. Percaya bahwa dunia ini, di balik segala kebisingan dan kekejamannya, masih menyimpan keindahan. Bahwa hidup ini indah, kalau ada seseorang seperti dia di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar