Kita lupa. Selalu lupa.
Kita lupa bahwa sidik jari ini bukan satu-satunya penanda. Bahwa keunikan yang sering kita sebut-sebut dalam seminar motivasi sambil minum kopi bukanlah hak yang bisa dituntut di pengadilan. Ia adalah kewajiban. Ia adalah beban eksistensial. Sebuah perintah yang berdentang di dalam dada, sejak kita pertama kali menghirup udara dan menangis.
Tapi kita lebih suka yang lain. Kita lebih suka yang aman.
Dunia adalah sebuah pasar malam yang bising. Penuh standar. Penuh tren yang berganti secepat musim. Penuh ilusi keseragaman yang menjanjikan kenyamanan. Di sini, di tengah riuh rendah ini, meniru tampak lebih bijak. Meniru adalah cara bertahan hidup. Menjadi seperti yang lain adalah tiket untuk diterima. Aman.
Namun, aman bukan berarti bermakna.
Nietzsche, dari puncaknya yang sepi, menertawakan kita. Ia melihat kita sebagai 'kawanan'. Sekumpulan domba yang berdesakan, mencari hangat dalam keseragaman. Kita mengejar kenyamanan dengan satu cara: meniru. Kita meniru cara bicara. Kita meniru cara berpakaian. Kita meniru cara berpikir. Sampai akhirnya, kita kehilangan sesuatu yang fundamental. Sesuatu yang seharusnya kita jaga dengan napas terakhir kita: keberanian untuk melahirkan otentisitas.
Kita menukar kemerdekaan dengan kehangatan. Kita menukar keaslian dengan penerimaan. Kita pikir itu sepadan.
Kita salah.
Di sinilah tragedi itu dimulai. Bukan tragedi dengan darah dan air mata yang tumpah di panggung opera. Ini tragedi yang hening. Tragedi yang terjadi di dalam lift, di depan cermin kamar mandi, di sela-sela rapat yang membosankan.
Kierkegaard, filsuf melankolis itu, telah memperingatkan kita. Tragedi terbesar manusia, bisiknya, adalah 'menjadi orang lain, bukan dirinya sendiri.'
Menjadi orang lain itu mudah. Naskahnya sudah tersedia. Kostumnya sudah disiapkan. Penonton sudah menunggu. Kita hanya perlu naik ke panggung dan mengucapkan dialog yang sudah dihafal jutaan orang sebelum kita. Tepuk tangan akan terdengar. Kita akan merasa berhasil. Kita akan merasa ada.
Tapi itu ilusi. Menjadi orang lain berarti membunuh diri sendiri pelan-pelan. Kita menjadi hantu yang meminjam raga. Kita menjadi aktor yang lupa jalan pulang setelah pertunjukan usai. Kita sibuk memainkan peran, hingga kita lupa siapa nama asli kita. Kita menjadi salinan yang sempurna dari sesuatu yang tidak pernah kita inginkan.
Ini bukan kecelakaan. Ini pilihan.
Jean-Paul Sartre, di kafe Paris yang berasap, menyebutnya dengan dingin: bad faith. Itulah momennya. Momen ketika kita, yang dikutuk untuk bebas, tiba-tiba menolak kebebasan itu. Kita tahu kita bisa memilih. Kita tahu kita bisa menciptakan. Tapi kebebasan itu terlalu menakutkan. Kanvas yang kosong itu terlalu membebani.
Maka, kita berbohong pada diri sendiri.
Kita berkata, "Saya tidak punya pilihan." Kita berkata, "Beginilah seharusnya." Kita berkata, "Semua orang melakukannya."
Itu adalah bad faith. Kita bersembunyi di balik wajah orang lain. Kita bersembunyi di balik norma. Kita bersembunyi di balik "apa kata orang." Kita menolak kebebasan kita yang mengerikan itu, dan memilih menjadi benda. Menjadi sekrup dalam mesin. Menjadi satu angka lagi dalam statistik. Kita memilih menjadi salinan, karena menjadi orisinal berarti bertanggung jawab penuh atas setiap goresan di kanvas hidup kita. Dan tanggung jawab, ah, itu kata yang paling kita benci.
Mesin fotokopi global terus bekerja. Ia melipatgandakan citra. Ia mencetak standar kecantikan. Ia mendikte standar kesuksesan. Dan kita antre. Kita rela. Kita menyerahkan jiwa kita yang mentah, yang unik, yang berantakan, untuk ditukar dengan versi yang lebih rapi. Versi yang sudah disetujui pasar. Versi yang default.
Aman. Tentu saja aman. Salinan tidak pernah dipertanyakan. Salinan tidak pernah kesepian. Salinan selalu punya teman.
Tapi mesin fotokopi tidak pernah bisa menyalin makna. Ia hanya bisa menyalin bentuk.
Dan inilah konsekuensi terbesar dari keamanan yang kita pilih. Inilah hukuman dari bad faith yang kita lakukan setiap pagi.
Jika kita terus memilih menjadi salinan, kita mungkin akan hidup panjang. Kita akan mengumpulkan gaji. Kita akan membesarkan anak. Kita akan pergi berlibur. Kita akan memotret matahari terbenam. Tapi kita hidup tanpa jejak.
Kita ada. Tapi kita tidak pernah benar-benar hadir.
Kita menjadi bayangan dari bayangan orang lain. Napas kita adalah napas pinjaman. Hidup kita adalah hidup yang diulang. Ketika kita mati, dunia tidak kehilangan apa-apa, karena kita tidak pernah memberikan apa-apa. Kita hanya memantulkan apa yang sudah ada. Kita ada di dalam foto keluarga, tapi mata kita kosong. Kita ada dalam daftar absensi, tapi kursi kita tidak pernah terasa terisi.
Kita lupa. Selalu lupa.
Bahwa kewajiban eksistensial itu menuntut kita untuk hadir. Untuk menggoreskan sesuatu di dinding waktu, sekecil apa pun. Bukan sebagai fotokopi. Tapi sebagai tanda tangan orisinal yang ditulis dengan tangan gemetar, dengan tinta yang terbuat dari keberanian dan ketakutan kita sendiri.
Sebelum mesin fotokopi itu berhenti, dan kertas terakhir keluar. Kosong.
Komentar
Posting Komentar