Bayangkanlah sebuah kota, atau barangkali sebuah negeri di balik kabut, di mana matahari bersinar tegak lurus sepanjang masa. Bukan siang, bukan malam, dan celakanya: bukan senja. Di sana, cahaya datang dari segala arah, menyapu setiap ceruk, membunuh setiap sudut gelap, hingga tak ada satu pun benda yang memiliki bayang-bayang.
Di kota itu, kau berjalan di atas trotoar yang mulus—terlalu mulus, sebenarnya—tanpa pernah mendengar bunyi langkah kakimu sendiri. Tidak ada gesekan. Sol sepatumu tidak menggerus aspal, dan aspal tidak menahan laju kakimu. Segalanya meluncur. Segalanya licin seperti permukaan kaca yang baru saja digosok oleh pelayan hotel yang terobsesi pada kebersihan.
Apakah kau bisa membayangkannya? Sebuah ruang di mana segala sesuatu selaras. Begitu selarasnya hingga harmoni itu terdengar seperti dengung panjang yang membosankan, seperti nada tuts piano yang ditekan dan tak pernah diangkat, terus-menerus, tanpa jeda, tanpa sinkopasi.
Di negeri ini, orang-orang berbicara tanpa berdebat. Bukan karena mereka bijaksana, melainkan karena gagasan-gagasan di sana tidak memiliki tepi yang tajam. Tidak ada ide yang saling menantang. Sebuah pendapat tidak pernah membentur pendapat lain. Kata-kata melayang di udara, lembut seperti kapas, tidak pernah bertabrakan, tidak pernah memicu percikan api. Jika kau berkata "A", maka semesta akan mengangguk dan berkata "A". Jika kau berkata "B", tidak ada seorang pun yang akan menawarkan "C".
Dunia semacam itu tampak tenang. Tentu saja tenang. Namun, itu adalah ketenangan yang menipu. Itu adalah ketenangan sebuah kamar mayat yang didesain dengan estetika minimalis. Kosong. Hampa. Sebuah nullity yang didandani dengan jubah kesempurnaan.
Sebab, tahukah kau? Di sana, kebenaran tidak pernah diuji.
Kebenaran, di dunia kita yang penuh debu dan knalpot ini, adalah sebilah pedang yang ditempa dalam api keraguan. Ia menjadi tajam karena dipukul berkali-kali oleh palu kontradiksi. Namun di kota tanpa bayang-bayang itu, kebenaran hanyalah sebuah benda tumpul yang ditaruh di etalase. Ia tidak pernah disangkal, maka ia tidak pernah membuktikan dirinya kuat. Ia ada, tetapi keberadaannya tidak memiliki bobot. Seperti asap rokok yang kau hembuskan ke langit-langit kamar; ia terlihat, tapi cobalah kau genggam, maka kau tak mendapatkan apa-apa.
Dan bagaimana dengan kehendak? Ah, kehendak manusia. Di sini, di dunia yang bising dan kejam ini, kehendak kita adalah otot yang membesar karena melawan beban nasib. Kita menginginkan sesuatu justru karena ada tembok yang menghalanginya. Kita mendaki karena ada gravitasi yang menarik ke bawah.
Di sana? Kehendak tidak pernah ditempa. Keinginan terkabul bahkan sebelum sempat diucapkan. Tidak ada tembok. Tidak ada gravitasi. Manusia menjadi lunak. Tulang punggung mereka, metaforis maupun harfiah, menjadi lembek karena tidak pernah dipaksa menanggung beban penolakan. Mereka adalah makhluk-makhluk transparan yang mengapung dalam gelimang kemudahan, tersenyum dengan bibir yang tidak pernah tahu rasanya gemetar menahan marah atau tangis.
Lalu, kita bicara soal cinta. Ini bagian yang paling menyedihkan.
Di kota tanpa gesekan itu, cinta kehilangan maknanya yang paling purba. Kenapa? Karena cinta tidak lagi mengenal luka.
Bukankah cinta menjadi nyata justru ketika ia menyayatmu? Bukankah kerinduan menjadi valid hanya karena ada jarak yang memisahkan? Di sana, tidak ada jarak. Tidak ada perpisahan. Tidak ada kecemasan menunggu telepon berdering di tengah malam. Tidak ada rasa takut kehilangan. Dan ketika rasa takut kehilangan itu lenyap, maka nilai dari memiliki pun ikut musnah.
Cinta di sana seperti gula-gula kapas: manis, berwarna merah jambu, tapi begitu kau masukkan ke mulut, ia lumer tanpa sisa, tanpa tekstur, tanpa gizi. Kau tidak akan pernah menulis puisi di sana, karena puisi lahir dari melankolia, dari celah sempit antara harapan dan kenyataan yang pahit. Di dunia yang "sempurna" itu, penyair akan mati kelaparan, atau lebih buruk lagi: mati kebosanan.
Mereka hidup dalam kedataran yang abadi. Tidak ada drama. Tidak ada tragedi. Tapi tanpa tragedi, tidak ada katarsis. Jiwa manusia membutuhkan guncangan untuk sadar bahwa ia masih hidup. Di sana, jiwa-jiwa itu tertidur lelap dalam peti mati kenyamanan, mendengkur halus selamanya.
Dunia semacam itu tidak memiliki arah bagi manusia untuk tumbuh. Pertumbuhan, Saudara-saudara, adalah hasil dari konflik. Biji yang tumbuh harus memecahkan kulitnya sendiri—itu menyakitkan, itu sebuah kekerasan kecil—untuk bisa menembus tanah yang gelap dan mencapai cahaya. Tanpa perlawanan dari tanah, akar tidak akan kokoh. Tanpa angin yang menerpa batang, pohon tidak akan belajar menjadi lentur.
Justru kontradiksilah yang memberi kedalaman pada pengalaman.
Lihatlah lukisan Rembrandt atau dengarkan komposisi jazz Miles Davis. Keindahan mereka muncul dari kontras. Chiaroscuro. Cahaya bersinar justru karena ada gelap yang mengiringinya, yang mengepungnya, yang mengancam akan menelannya. Tanpa kegelapan, cahaya hanyalah silau yang memutihkan pandangan, membutakan mata sama parahnya dengan kegelapan total.
Jiwa bergerak karena ragu menegurnya. Keraguan adalah bahan bakar bagi pencarian. Jika kau sudah yakin seratus persen, kau berhenti berjalan. Kau berhenti bertanya. Di kota tanpa bayang-bayang itu, semua orang sudah "sampai", padahal mereka belum pernah berangkat. Mereka merasa penuh, padahal cangkir mereka kosong melompong.
Manusia menjadi manusia karena ia terus dipaksa untuk memilih. Eksistensi kita didefinisikan oleh persimpangan jalan. Kiri atau kanan. Merah atau biru. Pulang atau pergi. Bertahan atau melepaskan. Di setiap pilihan itu, ada risiko. Ada kemungkinan salah. Ada potensi penyesalan. Dan justru dalam potensi penyesalan itulah, hidup menjadi taruhan yang menarik.
Di dunia tanpa pertentangan, kau tidak perlu memilih. Semua jalan adalah jalan yang sama. Semua kemungkinan adalah kepastian. Maka, kebebasan menjadi tidak relevan. Untuk apa kau punya kebebasan memilih jika tidak ada pilihan yang salah?
Tanpa kontradiksi, dunia bukan menjadi sempurna. Tidak. Itu kesalahpahaman terbesar para utopis. Tanpa kontradiksi, dunia berhenti menjadi apa pun. Ia menjadi stasis. Ia membeku. Waktu mungkin berjalan di arloji, tapi sejarah berhenti bergerak.
Maka, biarkanlah dunia kita tetap bising, tetap kacau, dan tetap penuh luka. Biarkanlah ada gesekan yang membuat kita lecet. Biarkanlah ada bayang-bayang yang membuat kita takut akan hantu, tapi sekaligus membuat kita sadar akan arah datangnya cahaya.
Biarkanlah kita berdebat, bertengkar, lalu berpelukan dengan rasa canggung yang manis. Biarkanlah kita jatuh cinta dan patah hati, lalu bersumpah tidak akan jatuh cinta lagi, hanya untuk melanggarnya seminggu kemudian.
Karena dalam ketidaksempurnaan itulah, dalam pertarungan abadi antara dua kemungkinan yang saling bertolak itulah, kita menemukan satu hal yang tidak dimiliki oleh kota tanpa bayang-bayang itu:
Kehidupan.
Sebuah kehidupan yang berdenyut, yang berdarah, yang nyata. Sebuah kehidupan yang layak dicatat dalam sepotong senja, sebelum akhirnya malam benar-benar menutup tirai, dan kita tersenyum karena tahu: kita pernah terluka, maka kita pernah ada.
Komentar
Posting Komentar