Langsung ke konten utama

Tentang Kepala dan Doa yang Diam

Malam itu, takdir sedang tidak ingin bercanda dengan hujan. Langit bersih, atau setidaknya, ia membiarkan kegelapan menggantung dengan tenang di atas kepala kami. Di sebuah kedai tepi sawah, di pinggiran Tulungagung yang sawah-sawahnya membentang seperti permadani hitam di bawah cahaya bulan yang samar, angin menyusup perlahan. Ia membawa aroma tanah basah—sebuah bau purba yang selalu mengingatkan manusia pada asal-usulnya: tanah, air, dan kesunyian.

Kami duduk di sana. Kopi hitam terhidang di atas meja kayu yang guratannya sudah tua. Hitam, pekat, dan pahit, sebagaimana fitrah kopi yang tidak berusaha menipu lidah dengan gula. Sesekali suara jangkrik terdengar pelan, ritmis, seolah-olah mereka adalah orkestra jazz alam yang mengiringi obrolan-obrolan manusia yang seringkali tidak penting. Kedai sedang sepi, lengang. Pengunjung lain telah banyak yang pulang, membawa serta riuh rendah mereka, menyisakan kami dan sisa-sisa malam.

Obrolan kami, seperti biasa, melompat-lompat tanpa logika yang jelas. Ngalor-ngidul. Dari harga kopi yang merangkak naik, sampai tentu saja, politik—topik favorit orang-orang yang merasa bisa memperbaiki negara hanya dengan duduk melipat kaki. Hingga akhirnya, giliran saya yang bercerita.

Saya ingat betul saat itu. Dengan semangat seorang jenderal yang sedang memaparkan strategi perang di atas peta dunia, saya mulai menguraikan rencana-rencana hidup saya. Rencana-rencana yang, jika saya mau jujur di hadapan cermin, lebih sering berakhir menjadi wacana di awang-awang ketimbang fakta yang menjejak bumi.

"Begini," kata saya waktu itu, mungkin sambil menunjuk-nunjuk udara kosong. "Segala sesuatu sudah kupetakan. Kalau skenarionya begini, nanti hasilnya bisa A, B, atau C. Kalau hasilnya A, aku harus segera eksekusi langkah X. Kalau meleset ke B, tenang, aku sudah siapkan Plan Y. Kalau gagal total? Jangan khawatir, Plan cadangan sudah siap di laci belakang."

Saya berbicara tentang hidup seolah-olah hidup adalah sebuah persamaan matematika yang variabelnya bisa dikendalikan sepenuhnya. Saya merasa gagah. Saya merasa memegang kendali. Tiga kawan saya hanya manggut-manggut. Entah karena paham, entah karena bosan, atau mungkin karena kantuk sudah mulai menyerang kelopak mata mereka yang berat.

Namun, di sudut meja, ada satu kawan yang sejak tadi diam. Sebut saja dia Blawong. Dia kawan lama, kawan senasib sepenanggungan sejak zaman kami masih sama-sama menjadi santri di pondok, menghafal kitab kuning di bawah lampu yang sering mati. Blawong tidak banyak bicara malam itu. Dia hanya menyimak, seperti arca yang hidup.

Lalu, ujug-ujug, tanpa aba-aba, dia berdiri. Gerakannya tenang namun tegas. Dia membetulkan letak sarungnya yang agak miring—sebuah gestur khas kaum sarungan yang menandakan perpisahan atau keputusan final. Dia menatap saya, tatapan yang tidak tajam tapi menembus.

"Sampeyan," katanya datar. Suaranya rendah, bersaing dengan desau angin sawah. "Dari dulu penyakitnya cuma satu: terlalu asyik mengandalkan isi kepala sendiri."

Saya terdiam. Kalimat itu menggantung di udara, membekukan sisa uap kopi.

"Semua dihitung. Semua dikalkulasi," lanjutnya. "Hidup kok dianggap macam main skak (catur). Padahal papan catur kehidupan itu bukan kamu yang buat."

Dia menyeruput sisa kopi terakhirnya sampai tandas, meninggalkan ampas yang mengendap di dasar gelas. Lalu, sebelum benar-benar melangkah pergi ngeloyor ke dalam gelap, dia melemparkan kalimat pamungkas.

"Sesekali," katanya, "rebahkan kepala sampeyan. Biar Tuhan yang ngurus."

Jlebbb.

Dia bersalaman sekilas, lalu menghilang di balik keremangan jalan desa, meninggalkan saya dengan tagihan kopi dan sebuah pertanyaan yang rasanya jauh lebih pahit dari kafein mana pun yang pernah saya telan.

Sekarang, saat saya menulis esai ini, kenangan itu melompat keluar lagi, membawa saya pada sebuah perenungan tentang apa yang pernah diucapkan oleh Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab kita sapa Cak Nun. Kalimat Blawong malam itu seolah menjadi jembatan kasar menuju kehalusan doa yang diajarkan Cak Nun:

"Doa yang terbaik adalah Engkau yang mengetahui kebutuhanku, dalam jangka panjang maupun jangka pendek, hari ini maupun besok, maka penuhilah yang aku butuhkan itu ya Allah, yang menurut pengetahuan-Mu yang Maha Mengetahui (al-Alim)."

Ada sebuah kesombongan intelektual yang seringkali tidak kita sadari ketika kita berdoa. Kita sering datang kepada Tuhan dengan membawa daftar belanjaan. Kita mendikte Tuhan. "Ya Tuhan, aku mau mobil ini, tahun ini, warnanya merah." Atau, "Ya Tuhan, jadikan aku manajer bulan depan supaya aku bisa pamer pada tetangga."

Kita merasa tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Kita merasa bahwa rencana A, B, dan C yang kita susun di kedai kopi itu adalah jalan kebenaran mutlak. Padahal, apa yang kita ketahui tentang masa depan? Pengetahuan kita tentang "hari esok" hanyalah sebatas asumsi, spekulasi, dan harapan yang rapuh. Kita tidak benar-benar tahu apakah yang kita minta itu madu atau racun.

Cak Nun, lewat doa itu, mengajarkan sebuah seni kepasrahan tingkat tinggi. Sebuah "kudeta" terhadap ego diri sendiri.

Mengucapkan "Engkau yang mengetahui kebutuhanku" adalah sebuah pengakuan kekalahan yang indah. Ia adalah momen ketika manusia meletakkan "raja" dalam permainan catur kehidupannya, mengakui bahwa ia tidak bisa melihat keseluruhan papan permainan. Kita hanya pion yang melihat satu kotak di depan, sementara Dia, Al-Alim, melihat keseluruhan bentang waktu—masa lalu, masa kini, masa depan, jangka pendek, jangka panjang, dunia, dan akhirat—dalam satu pandangan yang utuh.

Betapa sering kita meminta pisau tajam karena kita melihat kilauannya yang indah, tanpa tahu bahwa pisau itu kelak akan melukai tangan kita sendiri? Betapa sering kita menangis karena kehilangan sesuatu, padahal Tuhan sedang menyingkirkan hal itu agar tangan kita kosong dan siap menerima sesuatu yang jauh lebih baik?

Penyakit saya, seperti kata Blawong, adalah terlalu mengandalkan isi kepala. Kepala yang kecil ini. Kepala yang sering pening hanya karena memikirkan cicilan atau komentar orang lain. Kita terlalu sibuk menjadi tuhan-tuhan kecil bagi nasib kita sendiri. Kita lelah karena kita memanggul beban dunia di pundak, padahal kita tidak didesain untuk itu.

"Rebahkan kepala sampeyan," kata Blawong.

Merebahkan kepala bukan berarti tidur. Bukan berarti pasif. Bukan berarti berhenti berusaha lalu duduk diam menunggu emas jatuh dari langit. Merebahkan kepala adalah metafora untuk mengistirahatkan kesombongan logika. Ia adalah tindakan spiritual untuk berkata: "Tuhan, aku sudah berusaha membuat Plan A sampai Z. Aku sudah melangkah. Tapi hasil akhirnya? Itu wilayah-Mu. Aku tidak akan memaksakan definisiku tentang 'sukses' kepada-Mu. Berikanlah apa yang menurut-Mu aku butuhkan, bukan sekadar apa yang aku inginkan."

Mungkin yang kita butuhkan hari ini adalah kegagalan, supaya kita belajar rendah hati. Mungkin yang kita butuhkan adalah kehilangan, supaya kita belajar ikhlas. Atau mungkin, yang kita butuhkan adalah kesunyian, seperti malam di Tulungagung itu, agar kita bisa mendengar suara hati yang selama ini tertutup bisingnya ambisi.

Tuhan adalah Al-Alim, Yang Maha Mengetahui. Pengetahuan-Nya melintasi dimensi waktu. Dia tahu apa yang kita butuhkan lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, bahkan di kehidupan setelah mati nanti. Sementara kita? Kita bahkan sering lupa di mana menaruh kunci motor lima menit yang lalu.

Maka, barangkali benar. Sudah saatnya kita berhenti mendikte Tuhan dengan proposal-proposal hidup yang kaku. Sudah saatnya kita belajar pada sunyi, pada angin sawah, dan pada kepasrahan kopi yang membiarkan dirinya diseduh air panas demi memberikan kenikmatan.

Doa terbaik bukanlah proposal bisnis yang kita ajukan ke meja Tuhan agar ditandatangani. Doa terbaik adalah surat cinta penuh kepercayaan. "Penuhilah yang aku butuhkan itu ya Allah, yang menurut pengetahuan-Mu..."

Karena pada akhirnya, di ujung segala rencana dan kalkulasi yang rumit itu, kita hanyalah manusia yang merindukan kedamaian. Dan kedamaian itu tidak datang dari terpenuhinya semua keinginan, melainkan dari keyakinan bahwa kita sedang diurus oleh Dzat yang paling tahu, dan paling mencintai kita.

Di luar jendela, malam semakin larut. Kopi saya sudah habis. Tapi kali ini, tidak ada rasa pahit yang tertinggal. Hanya ada rasa lega, seolah-olah beban berat di kepala baru saja saya letakkan di lantai, di samping sarung Blawong yang miring itu.

Komentar