Selalu ada harga. Selalu. Kau kira udara yang kau hirup ini gratis? Kau bayar dengan paru-parumu yang perlahan membusuk oleh polusi. Kau kira langkahmu gratis? Kau bayar dengan sol sepatumu yang menipis, dengan lututmu yang linu kelak.
Tapi kita tidak sedang bicara soal itu. Kita tidak bicara soal materi. Sial. Siapa yang peduli dengan uang? Uang bisa dicari. Uang adalah ilusi paling banal yang disepakati bersama.
Kita bicara soal yang tak bisa kau tukar di pegadaian. Kita bicara soal tiket yang kau robek setiap kali kau bangun pagi. Tiket untuk satu hari lagi. Tiket yang harganya adalah hidup itu sendiri.
Dan apa yang kau dapat dari tiket itu? Pengalaman. Ya, pengalaman. Kata yang terdengar agung di seminar-seminar motivasi. Tapi mereka lupa bilang satu hal: pengalaman adalah guru yang kejam. Ia memberimu ujian dulu, baru hikmahnya belakangan. Seringkali, hikmah itu datang dalam bentuk borok.
Lihat dirimu di cermin. Kau lihat apa? Seseorang yang sedang belajar. Belajar apa?
Belajar menahan diri. Emosi itu kuda liar. Ia ingin berlari. Menerjang. Melompat. Tapi kau? Kau harus jadi sais yang baik. Kau pegang tali kekangnya. Kau tarik. Kuda itu meringkik. Marah. Ia ingin bebas. Tapi kau tahu, di luar sana, di tengah-tengah masyarakat itu, kuda liarmu akan menabrak. Akan dihakimi. Akan disembelih.
Maka kau belajar. Kau belajar tersenyum saat hatimu ingin memaki. Kau belajar mengangguk saat otakmu berteriak "Tidak!" Kau belajar menjadi bunglon. Berubah warna. Bukan untuk menipu. Oh, bukan. Ini untuk bertahan hidup. Survival. Di rimba beton ini, yang tak pandai menyembunyikan taringnya, akan mati konyol. Diterkam. Atau menerkam lalu dipenjara. Sama saja.
Itulah harga pertama. Kau bayar senyum tulusmu dengan senyum palsu. Kau bayar kejujuranmu dengan basa-basi. Pahit? Tentu. Tapi kau telan.
Lalu, ada pengorbanan. Kata yang lebih agung lagi. Pahlawan-pahlawan di buku sejarah melakukannya. Tapi pengorbanan kita? Jauh lebih sunyi. Jauh lebih personal. Seringkali, ia memberi luka. Luka yang tak bisa kau tunjukkan pada siapa-siapa.
Kau korbankan apa? Kau korbankan egomu. Ego yang ingin selalu benar. Ego yang ingin selalu menang. Ego yang ingin didengar. Kau korbankan itu demi apa yang kau sebut "kedamaian". Padahal, mungkin itu hanya gencatan senjata sementara.
Dan yang paling tak bisa ditukar? Waktu. Tentu saja. Waktu. Kesempatan.
Setiap pagi, kau dihadapkan pada persimpangan. Selalu. Kiri atau kanan. Bangun atau tidur lagi. Pergi atau tinggal. Bicara atau diam.
Saat itu, Kawan, saat jarum jam berdetak, kau dipaksa memilih. Kau harus memilih. Dan di situlah tragedi kecil itu dimulai.
Saat kau memilih satu jalan, detik itu juga, kau membunuh jalan yang lain. Kau membunuh "dirimu" yang mungkin ada di sana. Kau membunuh seribu kemungkinan. Seribu cerita yang tak akan pernah tertulis. Waktu dan kesempatan itu mati di persimpangan. Tak bisa ditukar. Tak bisa diulang.
Lalu apa?
Lalu kau pikul. Kau pikul pilihanmu itu. Inilah tanggung jawab. Memikul berat yang sering kali tak kau inginkan. Kau kira orang yang berbelok ke kiri itu seratus persen yakin? Tidak. Ia hanya bertaruh. Dan kini ia harus membayar taruhannya.
Kau tidak bisa berhenti. Kau tidak bisa bilang "Stop!" pada dunia. Tidak bisa.
Hidup ini singkat, Kawan. Singkat sekali. Kadang terasa seperti lelucon yang tak lucu. Kau tertatih-tatih. Kakimu berdarah. Napasmu satu-satu. Tapi kau harus maju. Kau lihat ke belakang? Hanya ada debu. Kau lihat ke depan? Kabut. Tapi kau harus maju.
Dan sialnya, ada kalanya keadaan tak memberimu kemewahan untuk berjalan tertatih-tatih. Keadaan menuntut kita untuk berlari. Lari! Tanpa menoleh. Lari dari tagihan. Lari dari kenangan. Lari mengejar sesuatu yang bahkan kau tak yakin apa bentuknya. Kereta terakhir. Kesempatan terakhir.
Maka, belajarlah.
Aku pun ingin terus hidup. Bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk tepuk tangan. Aku ingin hidup untuk melawan egoku sendiri. Ego yang cengeng. Ego yang gampang menyerah. Ego yang selalu merasa jadi korban.
Aku ingin buktikan padanya, bahwa aku, sang sais, masih memegang kendali.
Harga yang harus dibayar memang berat. Selalu berat. Kadang terasa tak adil.
Tapi di antara semua kepahitan itu, di antara semua luka dan lelah itu, ada selipan-selipan kecil. Sentuhan manis. Kopi pagi yang pahitnya pas. Hujan yang turun tiba-tiba saat kau sedang ingin menangis. Lagu lama yang mengingatkanmu bahwa kau pernah bahagia.
Atau sekadar... ya, sekadar berbangga diri. Kebanggaan yang sunyi. Kau tatap lagi cermin itu. Kau lihat borok di wajahmu. Kau lihat mata lelahmu.
Dan kau berbisik.
"Aku berhasil."
Bukan. Bukan berhasil meraih dunia.
"Aku berhasil melewatinya. Satu hari lagi."
Dan untuk satu tiket yang sudah terobek hari ini, harga itu, entah kenapa, terasa sepadan.
Komentar
Posting Komentar