Di hadapan cinta, kita semua adalah pemula. Selalu. Dan di hadapan rindu, kita semua adalah pecandu. Selamanya.
Kita bisa membaca seribu buku filsafat. Kita bisa menghafal setiap baris puisi Sapardi. Kita bisa membedah The Art of Loving karya Erich Fromm sampai ke halaman terakhir. Tapi ketika ia datang, cinta itu, kita akan selalu gagap. Seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat laut. Ternganga. Takjub. Dan sedikit takut. Kita menjadi pemula, lagi.
Lalu rindu datang setelahnya. Mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan oleh pertemuan. Rindu bekerja dalam sunyi, merayap pelan-pelan seperti kabut. Ia tidak meminta izin. Ia tahu-tahu ada. Dan kita? Kita menyerah padanya. Kita menikmatinya. Kita menjadi pecandu.
Ada yang mencoba memetakannya. Merapikan misteri ini dalam kotak-kotak yang bisa dipahami nalar. Sujiwo tejo pernah bilang begini, "Menikah adalah nasib, mencintai adalah takdir. Kau bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa."
Kalimat itu mencoba memberi kita pegangan. Sebuah pemisahan yang waras.
Maka, pernikahan adalah urusan yang rasional. Ia adalah kertas. Ia adalah upacara. Ia adalah kesepakatan dua keluarga. Ia adalah rencana lima tahun ke depan, cicilan rumah, dan sekolah anak. Kita bisa memilih. Kita menimbang. Kita menghitung. Kita merencanakan pernikahan di hari Sabtu yang cerah, dengan katering A dan dekorasi B. Kita memilih pasangan yang masuk akal. Yang sepadan. Yang restu orang tua menyertainya. Pernikahan adalah sebuah upaya. Sebuah pilihan sadar.
Tapi cinta?
Ah, cinta adalah takdir. Ia urusan yang sama sekali lain. Ia tidak ada dalam agenda. Ia tidak bisa diatur dalam rapat. Ia tidak bisa direncanakan. Cinta adalah sesuatu yang jatuh. Dan kita, yang tertimpa.
Cinta adalah misteri. Sesuatu yang datang begitu saja, seringkali pada orang yang paling tidak kita duga, di tempat yang paling tidak kita sangka, di waktu yang paling tidak tepat. Kau tidak bisa merencanakan cintamu untuk siapa. Hati punya logikanya sendiri, yang seringkali tidak masuk akal bagi kepala.
Untuk saat ini, kita kesampingkan dulu konsep cinta Erich Fromm. Kita singkirkan dulu teori bahwa cinta adalah keputusan dan tindakan. Biarkan. Biarkan kali ini hati yang merasakan. Biarkan misteri itu tetap menjadi misteri. Karena bukankah itu indahnya? Bahwa di dunia yang serba terukur ini, masih ada satu hal yang lolos dari segala perhitungan kita. Sesuatu yang murni milik takdir.
Lalu, apa yang terjadi ketika cinta yang adalah takdir itu terpisah oleh jarak?
Rindu.
Kita kembali pada candu itu. Rindu yang paling banal adalah rindu yang berisik. Yang menuntut pertemuan. Yang terus-menerus mengecek ponsel. Yang cemas. Yang gelisah. Itu rindu. Tapi itu rindu yang baru belajar.
Ada level yang lebih tinggi. "Puncak kangen paling dahsyat," kata mbah tejo, "adalah saat dua orang tidak berkomunikasi secara fisik atau digital, tetapi diam-diam dua-duanya saling mendoakan."
Ini adalah rindu yang sudah melampaui kebutuhan. Ia tidak lagi butuh bukti untuk terhubung. Ia tidak lagi butuh kata "aku kangen kamu" yang diketik terburu-buru di sela-sela kesibukan.
Ini adalah kerinduan yang tulus. Murni. Sebuah keinginan tanpa pamrih akan kebaikan orang yang dirindukan. Doa adalah bentuknya. Dalam sunyi malam, dalam hening pagi, sebuah nama disebut dalam percakapan paling privat dengan Tuhan.
Itu adalah cinta yang diekspresikan melampaui ruang dan waktu. Fisik boleh terpisah benua. Sinyal boleh hilang di pedalaman. Tapi doa? Doa selalu sampai.
Dan sungguh, sebenarnya tidak harus saling. Tak perlu ada kesepakatan untuk saling mendoakan. Satu saja cukup. Satu hati yang mendoakan dalam diam. Satu nama yang dilangitkan dengan tulus. Itu sudah cukup untuk membuat semesta bergetar. Itu sudah cukup menjadi jembatan. Itu adalah puncak kangen yang paling sunyi, namun paling dahsyat.
Pada akhirnya, kita mencoba memberi nama pada semua kerumitan ini. Kita mencoba memahaminya lewat tata bahasa.
"Mencintai itu kata kerja, dicintai itu kata sifat. Tapi cinta bukan kata benda, cinta itu kata hati."
Di sinilah kita bisa memanggil Fromm kembali. Di sini, analisisnya boleh mengambil tempat.
Mencintai itu kata kerja.
Ini adalah aksi. Ini adalah usaha. Ini adalah keputusan sadar untuk bertindak. Mencintai adalah bangun di pagi hari dan memilih untuk setia. Mencintai adalah merawat, adalah mendengarkan, adalah memberi ruang. Ia adalah pekerjaan. Seperti petani merawat padinya, seperti seniman menggarap karyanya. Mencintai adalah sebuah seni. Dibutuhkan disiplin, kesabaran, dan keberanian. Ini adalah cinta yang aktif.
Dicintai itu kata sifat.
Ini adalah keadaan. Ini adalah hasil. Ini adalah rasa. Ketika seseorang mencintai (kata kerja) kita, kita merasa dicintai (kata sifat). Ia adalah anugerah. Ia adalah bonus. Ia adalah sesuatu yang kita terima. Kita menjadi terkasih. Kita menjadi berharga.
Tapi cinta bukan kata benda.
Ini yang paling penting. Cinta bukan objek mati. Ia bukan piala yang bisa kau menangkan dan kau pajang di lemari. Ia bukan barang yang bisa kau miliki, kau simpan, lalu kau lupakan. Kau tidak bisa memiliki cinta. Kau hanya bisa berada di dalam cinta.
Cinta itu kata hati.
Ia adalah esensi. Ia adalah sumber. Ia adalah bahan bakar yang menggerakkan kata kerja itu. Ia adalah alasan yang melahirkan kata sifat itu. Ia adalah misteri yang kita bicarakan di awal. Sesuatu yang dirasakan, bukan dipikirkan. Sesuatu yang hidup di dalam rasa.
Maka, lingkaran itu kembali utuh.
Kita boleh merencanakan pernikahan (kata benda, objek rasional). Kita boleh bekerja keras untuk mencintai (kata kerja). Kita boleh bersyukur saat dicintai (kata sifat).
Tapi di hadapan cinta (kata hati) itu sendiri, di hadapan energi yang menggerakkan itu semua kita selamanya pemula. Selamanya ternganga.
Dan di hadapan rindu, yang lahir dari ketiadaannya? Ah, kita semua tahu. Kita semua pecandu, yang diam-diam, dalam sunyi, melipat nama seseorang di dalam doa.
Komentar
Posting Komentar