Langsung ke konten utama

Tuhan, Barangkali, Adalah Derak yang Nyaring

Alkisah, di sebuah kota yang tak pernah benar-benar tidur di mana lampu jalanan sering kali lebih mengerti kesepian daripada manusia itu sendiri, kita sering membayangkan Tuhan sebagai sosok tua yang duduk di kursi goyang, siap menyodorkan sapu tangan setiap kali kita menangis. Kita diajarkan, entah oleh siapa dan sejak kapan, bahwa kehadiran-Nya adalah sinonim dari pelipur lara. Bahwa Ia adalah semacam apoteker agung yang selalu punya stok obat pereda nyeri bagi jiwa-jiwa yang lebam.

​Namun, barangkali, kita salah sangka. Atau setidaknya, kita terlalu naif dalam membaca peta nasib.

​Cobalah dengarkan baik-baik saat malam jatuh dan hujan menyisakan genangan di aspal yang hitam. Kadang-kadang, Tuhan tidak datang sebagai belaian lembut di kepala. Tidak. Kadang Ia datang sebagai derak. Sebuah bunyi krak yang kering dan nyaring di dalam dada. Ia menjelma sebagai retak yang tak terelakkan pada fondasi hubungan yang kita kira abadi. Ia hadir sebagai sunyi yang menusuk, jenis sunyi yang membuat detak jam dinding terdengar seperti palu godam yang menghantam sisa-sisa kewarasan.

​Dan di momen itu, saat patah hati terasa seperti kiamat kecil yang personal, kita sering kali mengutuk langit. Kita bertanya dengan wajah basah dan mata bengkak: "Kenapa?"

​Padahal, di situlah letak seni-Nya yang paling pelik. Patah yang tak bisa disembuhkan oleh waktu itu bukanlah sebuah hukuman. Itu bukan tanda bahwa langit sedang murka atau nasib sedang mempermainkanmu di papan catur semesta. Justru sebaliknya. Derak itu adalah intervensi.

​Bayangkan sebuah jembatan yang rapuh. Kau bersikeras melewatinya karena di seberang sana ada fatamorgana bernama "Cinta". Kau berdoa, memohon agar jembatan itu kuat. Kau melantunkan doa-doa dengan buta, meminta agar apa yang kau genggam tidak lepas. Tapi Tuhan, dengan cara-Nya yang Maha Asyik dan sering kali tak terduga, tahu persis konstruksi bangunan perasaanmu. Ia tahu, jika cinta itu diteruskan, jika jembatan itu dibiarkan tegak, kau tidak akan sampai ke seberang dengan selamat. Kau hanya akan menunda kehancuran yang lebih tajam, lebih fatal, dan lebih mematikan.

​Maka, Ia mematahkannya. Sekarang.
​Ia mengirimkan perpisahan. Ia mengirimkan pengkhianatan, atau jarak, atau sekadar rasa hambar yang tiba-tiba muncul di meja makan tanpa permisi. Ia membiarkan hatimu menjadi reruntuhan.

​Di atas reruntuhan itulah, jika kau mau duduk sebentar dan tidak sibuk meraung, kau akan menemukan sisa-sisa doa yang dulu kau lantunkan. Doa-doa yang meminta kebahagiaan. Kau akan sadar, bahwa dengan mematahkan hatimu hari ini, Tuhan sebenarnya sedang mengabulkan doamu akan keselamatan di masa depan. Ia sedang menyelamatkanmu dari seseorang yang salah, dari jalan yang buntu, atau dari versi dirimu sendiri yang kerdil jika terus bertahan di sana.

​Kita sering merasa ditinggalkan saat doa kita dijawab dengan "Tidak". Tapi cobalah lihat dari sudut pandang seekor burung yang didorong jatuh dari sarangnya. Apakah ia sedang dibuang? Tidak. Ia sedang diajarkan bahwa sayapnya bukan sekadar hiasan.

​Begitu pula kita. Kita tidak sedang ditinggalkan. Kita sedang dipeluk, hanya saja cara memeluk-Nya sedikit kasar, sedikit keras, dan harus diakui sangat membingungkan bagi logika manusia yang manja. Ini adalah pelukan yang memaksa kita bangun dari tidur panjang bernama ilusi. Pelukan yang meremukkan tulang rusuk ego kita, supaya jantung yang asli bisa kembali berdetak dengan irama yang benar.

​Tuhan Maha Tahu bahwa keutuhan manusia terkadang bermula dari kepatahan yang tepat waktu. Seperti keramik Jepang yang pecah lalu direkatkan kembali dengan emas atau kintsugi nilai kita justru muncul setelah kita hancur.

​Jadi, barangkali besok atau lusa, ketika kau mendengar bunyi derak itu lagi atau bunyi sesuatu yang patah di dalam dirimu, jangan buru-buru mencari obat bius. Jangan buru-buru lari ke keriuhan kota untuk melupakannya. Diamlah sejenak. Nikmati nyerinya. Resapi sunyinya.

​Karena bisa jadi, itu bukan suara kehancuran. Itu adalah suara Tuhan yang sedang mengetuk pintu hatimu, membongkar ruang-ruang yang sesak oleh harapan palsu, dan berkata: "Sudah, sampai di sini saja lukanya. Aku punya rencana lain yang lebih seru."

​Tuhan memang sutradara yang gemar plot twist. Dan kita, aktor-aktor kecil di panggung dunia yang fana ini, hanya perlu belajar satu hal: percaya bahwa dalam setiap retakan, cahaya sedang mencari jalan untuk masuk.

Komentar