Langsung ke konten utama

Peta yang Dilipat Kembali

Kita semua arsitek.

Di dalam kepala, kita membangun katedral. Lengkap dengan pilar-pilar marmer yang kokoh bernama keyakinan, dan jendela-jendela kaca patri warna-warni yang kita sebut harapan. Kita menggambar denah di atas kertas paling bersih, dengan pensil paling tajam. Garis-garisnya lurus, sudutnya presisi. Ekspektasi tersusun rapi.

Lihat, di situlah letak bahagia. Pukul sembilan pagi, hari Selasa, setelah kita berhasil menaklukkan bukit A, B, dan C. Di situlah kemenangan. Di sanalah cinta yang ideal. Semuanya ada di dalam peta. Sebuah skenario besar, skenario agung, di mana kita adalah sutradara sekaligus pemeran utama yang—tentu saja—takkan pernah salah dialog.

Asa. Harapan. Sasaran. Tujuan. Seluruh kosa kata tentang masa depan itu kita susun jadi bait-bait mantera. Kita merapal perkiraan, kita mengukir impian, kita merentang prediksi. Kita menafsir-nafsir tanda-tanda di langit seolah semesta berutang penjelasan pada kita. Segala yang ditargetkan, dikehendaki, diinginkan, dicita-citakan; kita percaya itu semua adalah hak istimewa yang akan diserahkan takdir ke telapak tangan kita yang terbuka. Tinggal digenggam. Tinggal diraih.

Kita lupa satu hal. Kita lupa bahwa ada pemain lain di panggung yang sama. Pemain besar, pemain usil, pemain yang tak pernah repot-repot membaca naskah yang kita tulis dengan susah payah.

Namanya realita.

Dan realita enggan sepakat.

Realita adalah bis yang mogok di tengah jalan tol, persis ketika kita mengejar wawancara kerja terpenting dalam hidup. Realita adalah hujan deras yang mengguyur piknik kita, padahal ramalan cuaca bersumpah hari akan cerah. Realita adalah "tidak" yang diucapkan oleh orang yang paling kita inginkan mengatakan "ya". Realita adalah keheningan di ujung telepon.

Maka, segala yang kita siapkan itu—peta itu, denah itu, katedral itu—mendadak terlihat konyol.

Impian yang kita rawat, prediksi yang kita yakini, orientasi yang kita pegang teguh, mendadak berbalik badan. Menjauh. Tak jadi. Tak sampai. Tak bisa. Tak sanggup. Gak tergapai. Tak tersentuh. Kita mengejarnya, tapi bayangan itu berlari lebih cepat. Target-target itu, yang dulu kita anggap sebagai mangsa, kini berbalik menertawakan kita, si pemburu yang tersesat.

Kita ingin merebutnya. Kita ingin menaklukkannya. Kita ingin memenangkannya. Tapi pintu-pintu tertutup. Tembok-tembok terlalu tinggi. Tangan kita tak cukup panjang untuk menggapai, apalagi menggenggam.

Lalu kita duduk. Di tepi jalan. Di tengah hujan. Dengan peta yang basah dan luntur tintanya.

Ada jeda. Sebuah jeda panjang yang bising diisi oleh pertanyaan "Kenapa?". Kenapa ini tak bisa diwujudkan? Kenapa ini tak bisa diterapkan? Kenapa skenario indah itu tak bisa diimplementasikan, tak bisa dimanifestasikan? Kenapa doa itu tak dituntaskan?

Mungkin belum saatnya, kita mencoba menghibur diri. Sebuah frasa klise yang terasa seperti balsem hangat di luka yang menganga. Mungkin.

Dalam keheningan setelah badai kekecewaan itulah, sesuatu bergeser. Pelan. Sangat pelan. Bukan suara terompet kemenangan, melainkan hanya desah napas yang akhirnya teratur kembali.

Akhirnya mengerti.

Kita mengerti bahwa peta itu, sejak awal, memang bukan kitab suci. Ia hanya fiksi. Sebuah cerita pengantar tidur yang kita tulis untuk diri sendiri agar berani menghadapi gelap. Kita mengerti bahwa kita bukanlah sutradara. Kita, mungkin, bahkan bukan pemeran utama. Kita adalah figuran yang kebetulan mendapat sorotan lampu sepersekian detik, dan kita salah mengiranya sebagai matahari.

Kita mengerti bahwa kegagalan meraih apa yang kita inginkan, tidak serta-merta menjadikan kita gagal sebagai manusia. Gagal menaklukkan, bukan berarti takluk. Tak menang, bukan berarti kalah telak.

Dari sanalah ia datang. Kata-kata sakti itu. Kata-kata yang lelah, namun membebaskan.

Yaudah. Begini pun mungkin sudah tepat.

"Yaudah." Sebuah kata yang pasrah, tapi bukan menyerah. Sebuah penerimaan yang lelah, tapi utuh. Ada keindahan dalam menerima bahwa katedral itu takkan pernah selesai dibangun. Mungkin yang kita butuhkan memang bukan katedral, melainkan hanya tenda sederhana untuk berteduh malam ini.

"Begini pun mungkin sudah tepat." Kita tak lagi melihat peta. Kita akhirnya melihat jalan di depan kita. Berkelok, tak tertebak, mungkin buntu. Tapi ini jalan kita. Yang ada di sini, saat ini. Bukan yang ada di atas kertas imajiner itu.

Mungkin tujuan kita bukanlah sampai di titik X yang kita tandai di peta. Mungkin tujuan kita adalah belajar melipat peta itu dengan rapi, memasukkannya ke dalam saku, dan mulai berjalan. Ke mana saja.

...ya tak apa.

Tak apa-apa.

Komentar