Begitu kata mereka.
Selalu ada 'mereka' yang gemar memberi kabar, yang gemar membisikkan rumus-rumus kehidupan, seolah hidup adalah soal matematika yang pasti. Mereka datang dengan simpati, menepuk bahu, lalu berkata, "Kabar buruknya: kamu kesepian. Tapi kabar baiknya: kamu berkembang."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Ringan. Menghakimi. Seolah kesepian adalah vonis yang tak terhindarkan bagi siapa saja yang berjalan sendirian. Seolah ia adalah harga yang harus dibayar, pajak yang wajib dilunasi, untuk sebuah tiket bernama 'perkembangan'.
Tapi, benarkah?
Benarkah kesendirian adalah kabar buruk? Benarkah ruang yang hening ini bernama kesepian? Mereka, barangkali, tidak pernah benar-benar sendirian. Mereka hanya pernah merasa sepi di tengah keramaian. Mereka tidak tahu bedanya. Mereka menyamakan kesendirian fakta fisik dengan kesepian fakta batin yang remuk.
Bagi mereka, sepi adalah ruang kosong yang bergaung. Dinding-dinding yang memantulkan ketiadaan. Gema yang mencari sumber suara, tapi tak pernah ketemu. Dingin. Hampa. Sebuah kutukan. Kabar buruk.
Barangkali, apa yang mereka sebut 'kesepian' itu, hanyalah 'kesendirian' yang disalahpahami. Kesendirian yang belum selesai berdialog dengan dirinya.
Justru di sinilah, di dalam apa yang mereka sebut 'kabar buruk' itu, aku menemukan segalanya. Di dalam kesendirian yang mereka takuti, aku menemukan keramaian yang paling jujur.
Aku menemukan seorang sahabat. Sahabat yang tak pernah lelah mendengar, bahkan pada pukul tiga pagi, ketika dunia terasa berhenti berputar dan hanya detak jam yang terdengar. Ia tidak pernah menghakimi. Ia hanya duduk di situ, di dalam diriku, mendengarkan.
Aku menemukan seorang teman. Teman yang paling jujur, yang berani menamparku dengan kenyataan paling pahit. Ia yang berbisik, "Kamu salah," tepat ketika aku merasa paling benar. Ia yang mengingatkan, "Kamu bisa lebih baik dari ini," tepat ketika aku ingin menyerah.
Aku menemukan sebuah keluarga. Keluarga yang memeluk tanpa syarat, yang mengerti luka-luka lama yang tak pernah terucap. Ia yang memaafkan kesalahan-kesalahan yang bahkan malu kuakui. Ia yang menyediakan rumah paling aman, tempat aku bisa menjadi diriku sendiri, telanjang bulat tanpa topeng.
Aku bisa berperan. Menjadi apa saja. Menjadi siapa saja. Untuknya. Untuk diriku.
Saat aku butuh didisiplinkan, aku menjadi hakim yang adil. Saat aku butuh dimanja, aku menjadi kekasih yang paling lembut. Saat aku butuh bimbingan, aku menjadi guru yang bijak.
Maka, di mana letak kesepian itu?
Mereka tidak tahu asyiknya percakapan ini. "Mengobrol dengan diri sendiri," begitu katamu. Mereka akan menyebutnya gila. Mereka akan menunjuk-nunjuk dari kejauhan, berbisik-bisik. "Lihat, dia bicara sendiri."
Biarlah.
Mereka tidak tahu bahwa ini bukan monolog. Ini dialog. Selalu dialog. Percakapan paling intim, paling jujur, tanpa basa-basi. Percakapan di mana "Apa kabar?" bukan sekadar pembuka kata, tapi sebuah interogasi batin yang mendalam.
"Apa maumu?" tanyaku.
Dan 'aku' yang lain menjawab. Terbata-bata pada awalnya, lalu mengalir deras.
"Kenapa kau terluka?" tanyaku lagi.
Dan 'aku' yang lain mulai bercerita. Panjang. Lirih. Mengurai benang kusut yang selama ini terbiar.
Di dalam dialog hening inilah aku memahami. Memahami apa yang diinginkan diri sendiri. Memahami peta lukaku, memahami di mana letak harta karunku.
Lalu, "kabar baiknya: kamu berkembang."
Nah, di sini, di bagian ini, aku setuju. Setuju sekali.
Tapi pertumbuhan ini bukanlah kabar baik yang datang setelah kabar buruk. Pertumbuhan ini bukanlah kompensasi atas derita kesepian.
Pertumbuhan ini adalah karena. Karena kesendirian itu. Karena dialog itu. Karena aku memilih untuk tidak lari dari hening. Karena aku memilih untuk menjadi sahabat, teman, dan keluarga bagi diriku sendiri.
Berkembang bukanlah berarti menjadi lebih ramai. Bukan berarti koleksi teman di buku telepon bertambah. Bukan berarti tawa di kedai kopi terdengar lebih nyaring.
Berkembang adalah ketika akarmu menancap lebih dalam. Menembus lapisan-lapisan tanah batinmu yang paling keras. Kau jadi lebih kokoh, tak mudah goyah oleh badai pujian atau terpaan cacian. Kau tahu batas-batas wilayahmu. Kau tahu kekuatanmu.
Kau belajar. Belajar memaafkan dirimu. Belajar menerima rapuhmu. Belajar merayakan kuatmu. Belajar melepas apa yang tak bisa kau genggam.
Setiap hari adalah pelajaran. Dan gurunya? Dirimu sendiri. Muridnya? Juga dirimu sendiri. Proses belajar itu, dialog itu adalah pertumbuhan itu sendiri.
Jadi, mari kita revisi kalimat 'mereka' tadi.
Kalimat itu keliru. Kalimat itu ditulis oleh mereka yang takut pada bayangannya sendiri.
Bukan. Kabar buruknya tidak ada. Yang ada hanya kabar baik.
Kabar baiknya: kamu sendirian.
Dan kabar lebih baiknya: justru karena itu, kamu bisa berbicara dengan dirimu, menjadi apa saja untuk dirimu, dan akhirnya, kamu berkembang.
Kesendirian bukanlah penjara. Ia adalah sebuah taman. Mungkin taman yang hening. Mungkin taman yang rimbun oleh pikiran-pikiran yang liar. Tapi itu tamanmu. Kau merawatnya. Kau yang menanam bunga-bunga di sana, kau juga yang mencabut rumput liarnya.
Dan di taman itu, kau tidak pernah benar-benar sepi.
Kau selalu bersama dirimu. Sahabat paling sejati. Teman paling abadi.
Begitu. Bukan kata mereka. Tapi kataku.
Komentar
Posting Komentar