Aku selalu teringat binar itu. Sebuah cahaya purba yang ganjil, muncul dari sepasang bola mata yang kini telah selamanya terpejam. Bola mata mendiang Ayahku. Cahaya itu bukanlah pantulan lampu neon di ruang tengah, bukan pula kilau ambisius dari seorang penakluk dunia. Itu adalah binar yang lahir dari sebuah tempat yang jauh lebih dalam, sebuah tempat di mana ketenangan atau barangkali kepasrahan, telah menemukan bentuknya yang paling murni.
Cahaya itu berkilat paling terang ketika Beliau berbicara tentang satu-satunya bahasa universal yang ia percaya: matematika.
"Ada kenyamanan dan ketenangan yang bisa ditemukan dalam kebenaran matematika," ujar Beliau pada suatu senja, suaranya pelan, seakan berbisik pada angin yang menyelinap lewat celah jendela. "Bahwa di dalam ambiguitas sekalipun, terdapat logika penyelesaiannya."
Aku, yang kala itu masih bergelut dengan aljabar yang terasa asing, hanya bisa diam. Mencoba mencerna. Mencoba melihat apa yang Beliau lihat dalam deretan angka dan simbol yang bagi banyak orang adalah labirin yang menyesatkan. Bagi Ayahku, itu adalah katedral. Sebuah rumah ibadah yang sunyi, di mana setiap pilar berdiri di atas fondasi kebenaran mutlak. Dua tambah dua adalah empat. Di Tulungagung, di Tokyo, di bulan, di galaksi Andromeda. Selalu empat. Sebuah kepastian yang menenangkan di tengah riuh rendah dunia yang gaduh.
"Sebuah soal mungkin sulit dipahami," lanjut Beliau, dan binar di matanya itu seakan menari, "tetapi jawaban masih bisa ditemukan."
Aku memikirkan postulat-postulat itu. Memikirkan X dan Y yang bersembunyi di balik persamaan rumit. Betapapun peliknya sebuah soal, selalu ada jalan setapak yang, jika ditelusuri dengan sabar, akan membawa kita pada sebuah jawaban. Sebuah titik. Sebuah 'Q.E.D.'—quod erat demonstrandum. Apa yang harus dibuktikan, telah terbukti. Selesai. Ada kelegaan dalam penyelesaian itu. Ada logika yang membebaskan kita dari keraguan. Matematika adalah dunia di mana tidak ada abu-abu; hanya ada benar atau salah, terbukti atau tidak terbukti.
Itulah cahaya yang kulihat di mata Ayahku. Cahaya seorang pria yang menemukan suaka di dalam struktur yang logis, di dalam sebuah dunia di mana segalanya masuk akal, sekalipun akal kita belum sampai untuk memahaminya.
Dan aku ingat bagaimana cahaya itu menjadi redup.
Sepersekian detik, binar itu goyah. Seperti nyala lilin yang ditiup angin ragu. Senyum tipisnya memudar sedikit di ufuk bibir. Beliau menghela napas, napas yang terdengar seperti sejarah panjang penderitaan yang coba didamaikan.
"Namun tidak demikian dengan hidup," bisik Beliau.
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin. Senja di luar jendela tiba-tiba berubah menjadi malam yang pekat.
"Tidak demikian dengan hidup."
Dua kalimat itu. Dua vonis itu. Diucapkannya dengan nada yang sama pelannya, namun dengan bobot yang mampu meruntuhkan katedral logika yang baru saja Beliau bangun dalam benakku.
Tidak demikian dengan hidup. Sebuah antitesis yang brutal.
Ayahku benar. Dan kebenaran itu menyakitkan.
Jika matematika adalah kenyamanan dalam kepastian, hidup adalah teror dalam ambiguitas yang tak terpecahkan. Hidup bukanlah soal yang sulit dipahami namun masih bisa ditemukan jawabannya. Hidup, seringkali, adalah soal yang jawabannya memang tidak pernah ada.
Kita adalah X dan Y dalam persamaan yang variabelnya terus bertambah setiap detik. Variabel bernama cinta. Variabel bernama rindu. Variabel bernama kehilangan. Variabel bernama waktu yang tak bisa diputar mundur.
Logika penyelesaian apa yang bisa ditemukan untuk hati yang patah? Rumus apa yang bisa digunakan untuk mengukur kedalaman duka? Berapa akar kuadrat dari sebuah kenangan yang menolak untuk pergi?
Ayahku, sang pecinta matematika itu, telah menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dalam persamaan yang tak ia pahami. Persamaan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Persamaan takdir yang tak bisa ia elakkan. Beliau mungkin mencari 'logika penyelesaian'-nya, mencari di mana letak kesalahan hitung dalam takdirnya. Tapi ia tidak menemukannya. Karena memang tidak ada.
Tidak demikian dengan hidup.
Kini, aku berdiri di sini, bertahun-tahun setelah senja itu. Ayahku telah lama pergi. Beliau telah menjadi bagian dari ambiguitas itu sendiri. Dan aku, mewarisi cintanya pada logika sekaligus kesadarannya yang pedih akan batas logika itu.
Aku masih mencari kenyamanan dalam matematika. Aku masih tersenyum ketika menemukan sebuah pola yang rapi, sebuah jawaban yang elegan. Itu adalah caraku untuk tetap terhubung dengan binar cahaya di mata Beliau.
Namun aku hidup di dunia yang Beliau gambarkan di akhir kalimatnya. Dunia di mana dua tambah dua bisa jadi adalah lima. Bisa jadi seribu. Bisa jadi adalah ruang hampa di samping tempat tidur.
Kita merindukan kebenaran matematika, namun kita terperangkap dalam prosa kehidupan. Kita ingin segalanya terbukti, namun kita dipaksa untuk percaya pada sesuatu yang tak terlihat. Kita mencari jawaban, padahal yang kita butuhkan mungkin adalah kekuatan untuk hidup dengan pertanyaan yang tak terjawab.
Aku selalu teringat binar cahaya harapan itu. Dan aku selalu teringat bagaimana cahaya itu meredup. Keduanya adalah warisan yang sama pentingnya. Yang satu memberiku alat untuk berpikir. Yang satu lagi memberiku alasan untuk merasa.
Karena kenyamanan dan ketenangan mungkin ada dalam kebenaran matematika. Tapi kehidupan?
Tidak. Tidak demikian dengan hidup.
Komentar
Posting Komentar