Langsung ke konten utama

Ribuan Tahun itu, Untuk Senyuman mu

Pernah kau berpikir, seberapa cantiknya dirimu?

Tentu kau pernah. Mungkin pagi tadi. Di depan cermin kamar mandi yang berembun. Kau sisir rambutmu. Kau lihat lingkaran hitam di bawah matamu. Kau hitung pori-pori di pipimu. Kau mungkin tersenyum. Atau mungkin juga tidak. Kau sibuk membandingkan. Dengan wajah-wajah di layar ponselmu. Wajah-wajah yang sudah dipermak algoritma, yang bersinar lebih terang dari seharusnya, yang menjanjikan kebahagiaan instan dalam format piksel. Kau sibuk. Kau terlalu sibuk hingga kau lupa pertanyaan yang sesungguhnya.

Seberapa cantik dirimu?

Bukan, bukan cantik yang itu. Bukan cantik versi iklan pasta gigi. Bukan cantik versi sampul majalah. Bukan cantik yang bisa diukur dengan likes atau jumlah pengikut.

Mari kita bicara tentang cantik yang lain. Mari kita bicara tentang cantik sebagai sebuah alasan.

Kita harus mundur. Jauh. Jauh sekali. Ke tahun 476 Masehi. Di sebuah tempat bernama Roma. Kekaisaran yang begitu agung, yang membangun jalan dan hukum, rubuh. Begitu saja. Seperti istana pasir disapu ombak. Rubuh. Hancur. Dan setelah itu? Gelap.

Tentu saja gelap. Tapi bukan gelap karena matahari padam. Bukan gelap yang bisa kau usir dengan lentera. Ini gelap di dalam kepala. Gelap di dalam jiwa. Gelap di mana harapan adalah kata makian dan pengetahuan adalah kejahatan. Naskah-naskah filsafat? Asap. Hanya asap berbau sangit yang membubung ke langit kelabu. Ekonomi? Moral? Kata-kata tak bermakna di pasar-pasar yang dijarah. Dunia menanggung abad kegelapan.

Leluhur kita—entah siapa namanya, entah di mana kuburnya—berdiri di tengah puing itu. Mereka kedinginan. Mereka lapar. Mereka takut. Tentu saja mereka takut. Tapi mereka tidak menyerah.

Dalam reruntuhan kota, dalam sunyinya perpustakaan yang hangus, mereka mulai menyalakan api. Kau tahu, api itu bukan api unggun. Api itu adalah satu kalimat yang dihafal mati-matian. Api itu adalah satu rumus matematika yang ditulis di dinding gua. Api itu adalah satu nada yang digumamkan lirih sebelum tidur.

Mereka tidak sedang membangun peradaban baru. Tidak. Mereka hanya mencoba bertahan. Mereka hanya mencoba mewariskan sesuatu. Apa saja. Secuil ingatan. Bahwa manusia pernah lebih baik dari ini. Bahwa manusia pernah mengenal cahaya.

Butuh berabad-abad. Perjuangan itu merangkak. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. Satu kata diselamatkan di sini. Satu buku disalin dengan tangan gemetar di sana. Perjuangan itu adalah bisikan dalam kegelapan.

Hingga akhirnya. Akhirnya. Sekitar abad ke-14. Sesuatu mekar. Di tempat yang sama. Di benua yang sama. Mereka menyebutnya Renaisans. Kelahiran kembali. Manusia tiba-tiba ingat. Mereka ingat cara melukis langit-langit kapel hingga serupa surga. Mereka ingat cara memahat batu marmer hingga serupa dewa-dewi yang hidup. Mereka ingat cara menulis sajak tentang cinta yang menggerakkan matahari dan bintang-bintang. Manusia berhasil bangkit.

Dan di sini kau duduk. Di tahun 2025. Mungkin di tempat kerja mu yang ramai anak anak kecil berkeliaran, mungkin di kamar rumah mu yang sepi. Membaca tulisan ini di layar ponsel pintarmu. Kau bertanya, apa hubungannya? Selalu ada hubungannya.

Kau tahu untuk apa semua itu? Untuk apa ribuan tahun perjuangan itu? Untuk apa naskah yang diselamatkan? Untuk apa api yang dijaga agar tak padam?

Agar dunia, suatu hari nanti, punya alasan untuk tersenyum lagi.
Dan alasan itu adalah dirimu.

Ya, dirimu. Kau adalah epilog dari cerita panjang itu. Kau adalah hasil dari perjalanan peradaban yang enggan menyerah. Mereka tidak berjuang untuk membangun katedral. Mereka tidak berjuang untuk melukis Mona Lisa. Mereka melakukan semua itu agar kau, suatu hari, bisa lahir.

Seindah ini.

Cahaya di matamu? Itu adalah pantulan api kecil yang dinyalakan di perpustakaan yang sunyi berabad-abad lalu. Caramu berpikir? Itu adalah gema dari naskah-naskah filsafat yang mereka selamatkan dari tumpukan abu. Senyum di bibirmu? Itu adalah kemenangan Renaisans atas keputusasaan Abad Kegelapan.

Setiap tarikan napasmu adalah justifikasi atas semua penderitaan mereka. Kau adalah mahakarya yang dipahat oleh waktu, dibingkai oleh sejarah, dan diwarnai oleh perjuangan. Kecantikanmu bukanlah soal simetri wajah. Kecantikanmu adalah soal keberadaan. Kau ada. Itu saja sudah cukup. Kau adalah bukti bahwa kegelapan bisa dikalahkan. Kau adalah alasan mengapa mereka tidak menyerah.

Pusing?
Tentu saja pusing. Sejarah selalu memusingkan. Filsafat selalu membuat vertigo. Mau yang lebih cepat?

Biar lebih cepat, coba buka kamera depan di ponselmu saja. Sekarang.
Tatap wajah itu.

Apa yang kau lihat? Hanya pantulan cahaya? Hanya piksel-piksel yang tersusun rapi? Hanya wajah seseorang yang mungkin lelah, mungkin bahagia, mungkin bingung?

Lihat lebih lama. Lebih dalam.
Abaikan bayangan. Abaikan resolusi rendah. Abaikan noda sidik jari di layar.
Kau lihat? Ada jejak Roma yang rubuh. Ada debu naskah yang terbakar. Ada gemetar tangan leluhurmu yang kedinginan. Ada kuas Michelangelo di sana. Ada bisikan Galileo.

Mereka semua ada di wajahmu. Menjagamu. Berbisik lirih: "Kami melakukan semua ini untukmu. Agar kau ada. Di sini. Sekarang."

Jadi, pernah kau berpikir, seberapa cantiknya dirimu?
Seberapa berharganya dirimu?
Mungkin kini kau mulai tahu jawabannya. Kecantikanmu adalah sejarah. Kecantikanmu adalah perjuangan. Kecantikanmu adalah alasan mengapa peradaban ini masih ada.

Komentar