Langsung ke konten utama

Sebuah Perjalanan Hati

Kita selalu memulai dengan kata-kata. Kata-kata yang kita rangkai seperti manik-manik pada seutas benang tak terlihat, lalu kita kalungkan pada leher harapan. Kata-kata cinta, tentu saja. Frasa-frasa yang kita pinjam dari langit senja, dari keheningan malam, dari debar yang berdesir saat nama seseorang tak sengaja disebut. Kita merapalkannya seperti mantra, meniupkannya dalam pesan-pesan singkat yang menyala di tengah kegelapan kamar. Dan kita selalu dibuat kagum, bagaimana bisa susunan aksara yang begitu sederhana memiliki daya ledak sedahsyat itu; mampu menggerakkan lempeng-lempeng perasaan yang telah lama beku di dasar hati.

Lalu, seperti para filsuf yang gelisah di beranda rumahnya, kita mulai bertanya. Sebuah pertanyaan yang lahir dari luka-luka lama, dari jejak-jejak perpisahan yang belum sepenuhnya kering. Jika di ujung jalan yang sedang kita tempuh dengan riang ini, yang kita panen ternyata adalah bencana—sebuah kehancuran yang tak terelakkan—akankah kata-kata cinta yang kita rapalkan hari ini tetap terdengar manis? Akankah ia tetap istimewa, atau hanya akan menjadi memoar getir tentang sebuah kebodohan yang indah?

Sebab sejatinya, kita adalah sepasang musafir yang lelah. Lelah perihal stasiun-stasiun perkenalan dan terminal-terminal pendekatan yang selalu berujung pada keberangkatan sepihak. Lelah pada akhir. Selalu tentang akhir. Namun waktu itu, di tengah kelelahan yang akut, semesta mengirimkan sesuatu yang lain. Aku tidak sedang mencari, tidak pula menanti. Aku hanya percaya, bahwa ada perasaan yang terlalu jujur untuk bisa didustakan saat matamu, entah bagaimana, menembak tepat ke dalam mataku. Bukan sekadar tatapan. Itu adalah sebuah invasi tanpa senjata, sebuah deklarasi tanpa suara. Dan seluruh benteng pertahananku yang dibangun dari puing-puing masa lalu, runtuh seketika.

Hingga suatu hari, di antara jeda percakapan digital kita, kau lemparkan pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan sederhana yang menusuk langsung ke jantung niat. "Kamu tuh tujuannya apa sih deketin aku?" Pertanyaan itu tidak terdengar sinis. Ia terdengar seperti sebuah permohonan, sebuah permintaan agar aku tidak datang hanya untuk singgah lalu pergi seperti turis. Kau tidak butuh turis. Kau butuh seseorang yang datang untuk menetap.

Aku bisa saja menjawabnya dengan puisi. Dengan seribu kiasan tentang bintang jatuh atau takdir yang terjalin. Tapi aku tahu, hatimu yang lelah tidak butuh kata-kata lagi. Ia butuh bukti. Maka aku tertantang, bukan olehmu, tapi oleh perasaanku sendiri yang tiba-tiba menjadi begitu berani.

"Baik," kataku, lebih pada diriku sendiri. "Aku akan ke kotamu!"

Dan begitulah. Cinta, yang tadinya hanya berkelebat sebagai sinyal-sinyal data antar kota, akhirnya menemukan wujud fisiknya. Ia mekar di mana-mana. Di antara derai tawa kita yang pecah saat menyusuri jalanan kotamu yang asing bagiku. Di dalam canda yang kita ciptakan dari hal-hal paling sepele. Ia menjelma menjadi debar gugup saat tanganmu kusambut di hadapan orang tuamu. Ia menjadi angka-angka dalam diskusi kita tentang biaya hidup, tentang masa depan yang perlu dirancang, bukan hanya diimpikan. Cinta ternyata tidak hanya melulu soal hati, ia juga soal rencana dan keberanian mengambil risiko.

Kita, dua jiwa yang katanya sudah terlalu matang untuk drama, sepakat untuk berhenti bermain-main. Kita sepakat mengukuhkan hubungan ini ke level proficient. Sebuah istilah ganjil yang kita tertawakan, tapi kita maknai dengan kesungguhan penuh. Persetan usia! Usia hanyalah deret angka yang menghitung berapa kali bumi mengelilingi matahari. Ia bukan cinta. Ia tidak bisa mengukur kedalaman perasaan atau ketulusan sebuah niat. Tuhan, kita percaya, menciptakan perasaan di antara kita ini dengan bersungguh-sungguh, bukan? Maka satu-satunya cara menghormati anugerah-Nya adalah dengan terus memeliharanya, dengan kesungguhan yang sama.

Maka, bersama doa-doa yang diwariskan oleh ibu kita masing-masing, kita menyanggupi sebuah perjanjian tak tertulis. Bahwa pada akhirnya, apa yang kita cari bukanlah dongeng yang gemerlap atau roman picisan yang penuh liku. Tidak.

Cerita kita 'kan berjalan perlahan dan sederhana.
Saling mengerti hanya lewat bicara.
Bukan sekadar bicara untuk didengar, tapi juga memberi kita ketulusan untuk saling mendengar. Untuk memahami jeda, untuk membaca makna di balik diam.

Semoga. Ya, semoga apa-apa yang kita niatkan dari sebuah tatapan mata, yang kita perjuangkan dengan sebuah perjalanan antar kota, dan yang kita rawat dengan percakapan-percakapan sederhana, akan menjadi sesuatu yang baik di depan sana. Sesuatu yang mengutuhkan, bukan lagi mematahkan. Sesuatu yang membuat kita, dua musafir yang pernah lelah ini, bisa menemukan alasan untuk jatuh cinta lagi dan lagi. Setiap hari. Kepada orang yang sama. Dan jika pun di ujung sana yang menanti adalah bencana, kita tahu, setidaknya kita pernah memiliki semua ini. Kesungguhan ini. Dan itu saja, sudah lebih dari cukup.

Komentar