Maka, kubentangkan lautan ini untukmu.
Bukan lautan biru yang kau kenal di peta-peta buta para petualang, bukan pula samudra ganas yang menenggelamkan kapal-kapal para saudagar. Ini lautanku. Lautan yang tercipta dari setetes tinta pertama yang jatuh karena gemetar jemariku kala pertama kali menuliskan namamu. Dan sejak saat itu, ia terus meluap, pasang tanpa pernah mengenal surut, menjadi seluas-luasnya cakrawala yang hanya bisa kau selami dengan mata hatimu.
Dengarlah. Di kesunyian paling pekat sekalipun, lautan ini tidak pernah diam. Setiap ombak yang memecah di pantai tak bernama itu, itulah degupan rinduku. Ia datang bergulung-gulung, tidak meminta izin, tidak pernah lelah, menghantam karang-karang kesabaranku dengan irama yang sama sejak fajar pertama kita bertemu. Ada kalanya ia landai, hanya bisikan lembut yang menyapu bibir pantai, seperti caraku menyebut namamu dalam doa-doa malam yang tak pernah kau tahu. Namun, ada kalanya ia menjelma badai, gemuruh yang mengguncang semesta batinku, ketika bayangmu terasa begitu dekat namun tubuhmu begitu jauh untuk kuraih. Itulah rinduku, Sayang. Ia hidup, ia bernapas, ia memiliki kehendaknya sendiri.
Dan setiap titisan tinta yang mengalir di atas kertas ini, lihatlah, ia adalah saksi bisu. Ia lebih jujur dari lidah yang seringkali kelu, lebih setia dari ingatan yang bisa lekang oleh waktu. Tinta ini adalah malam yang kusuling dari nira kesepianku, darah yang kuambil dari arteri jiwaku yang paling dalam. Ia mengalir dari ujung pena, bukan sebagai aksara mati, melainkan sebagai fosil-fosil perasaan. Di setiap lekuk huruf ‘a’ dalam namamu, ada kekaguman yang tak terucap. Di setiap garis lurus huruf ‘i’, ada keteguhan hatiku yang memilihmu. Di setiap lengkung huruf ‘u’, ada palung-palung kepasrahan tempat aku menenggelamkan seluruh egoku.
Aku menulis bukan untuk mengisi halaman-halaman kosong sebuah buku harian. Itu pekerjaan orang-orang yang ingin mencatat peristiwa. Aku tidak sedang mencatat peristiwa. Aku sedang menyalin kehidupan. Aku menyalin setiap denyut di urat nadiku yang bergetar hanya karena mengenal satu nama—namamu. Aku adalah seorang kartograf jiwa yang sedang memetakan sebuah benua baru yang kutemukan di dalam diriku, sebuah benua yang keseluruhannya adalah tentangmu. Kertas ini adalah atlasnya, dan setiap kata adalah kontur, sungai, dan gunung dari perasaan yang tak akan pernah bisa kaulihat di dunia nyata.
Sebab dunia ini, pada akhirnya, adalah pelupa yang paling ulung.
Dunia akan melupakan warna matamu saat menatap senja. Dunia akan melupakan nada suaramu saat tertawa lepas. Waktu, perampok paling kejam itu, akan datang mencuri setiap detail kecil yang kita anggap abadi. Kelak, mungkin tak akan ada lagi yang mengingat bagaimana kita pernah duduk berdua dalam diam, membiarkan angin menyampaikan segala yang tak sanggup diutarakan. Kota-kota akan berubah, jalan-jalan akan memiliki nama baru, dan orang-orang akan berlalu lalang dengan cerita mereka sendiri, abai pada jejak kita yang pernah ada.
Maka, sebelum amnesia semesta itu tiba, aku membangun prasasti ini untukmu. Prasasti yang terbuat dari kata-kata. Aku memahatnya dengan sabar, malam demi malam, dalam keheningan yang hanya ditemani desah napasku sendiri. Biarlah tubuh kita rapuh oleh masa, biarlah wajah kita hilang ditelan sepi. Tapi tulisan ini, ia akan tetap hidup. Ia adalah kapsul waktu yang menyimpan detak jantung kita. Ia adalah bahtera Nuh yang menyelamatkan cinta kita dari banjir kelupaan.
Kelak, jika seseorang, entah siapa, menemukan lembaran-lembaran usang ini di masa depan yang jauh, ia mungkin tidak akan mengenal nama kita. Ia mungkin tidak akan tahu siapa kita. Tapi saat ia membacanya, ia akan merasakan sesuatu. Ia akan merasakan getaran ombak itu. Ia akan merasakan kepekatan tinta itu. Ia akan tahu, bahwa dahulu kala, pernah ada sebuah cinta yang begitu besar, begitu dalam, hingga ia meluap menjadi sebuah lautan kata-kata. Ia akan tahu bahwa cinta ini adalah sesuatu yang abadi.
Sebab keabadian tidak selalu berarti hidup selamanya dalam daging dan tulang. Keabadian adalah ketika sebuah rasa terus berbunga, walau hanya dalam kata-kata yang kau baca dengan mata hatimu. Taman ini tak butuh tanah, tak butuh air. Pupuknya adalah rindu, dan mataharinya adalah bayangmu dalam benakku. Setiap kalimat adalah setangkai mawar hitam yang mekar dalam diam, kelopaknya terbuat dari kesetiaan, dan durinya adalah perihnya penantian. Kau tak perlu memetiknya. Cukup kau hirup aromanya dari kejauhan, dan kau akan tahu, taman ini ada dan akan selalu ada, hanya untukmu.
Maka jangan pernah bertanya mengapa aku terus menulis. Ini bukan pilihan, ini adalah takdir. Sama seperti sungai yang ditakdirkan mengalir ke laut, begitu pula seluruh rasaku ditakdirkan mengalir menjadi aksara. Dalam diamku, aku menyimpan segala. Dalam diamku yang paling riuh, aku meneriakkan namamu di setiap paragraf. Aku tidak butuh panggung, tidak butuh pendengar. Audiensku hanya satu: engkau, yang membaca tulisan ini di sebuah waktu dan ruang yang hanya kita yang mengerti.
Bacalah. Bacalah dengan seluruh jiwamu, karena setiap kata di sini ditulis dengan taruhan nyawa sunyiku. Sentuhlah permukaannya, dan kau akan merasakan kehangatan yang kuembuskan di setiap jeda antar kata. Di lautan ini, kau tidak akan tenggelam. Kau akan belajar berenang dalam palung terdalam dari afeksiku. Kau akan menemukan kerang-kerang mutiara yang berisi pengakuan-pengakuan yang tak pernah sampai di telingamu.
Inilah lautanku. Lautan yang tidak bertepi, tempat setiap ombak adalah degup rinduku, dan setiap keheningannya adalah sumpah setiaku. Biarlah dunia dengan segala hiruk pikuknya berlalu. Di sini, di atas kertas ini, waktu berhenti. Yang ada hanya aku, kau, dan sebuah cinta yang terus menulis dirinya sendiri, menjadi abadi. Tidak rapuh, tidak hilang, dan terus berbunga. Selamanya.
Komentar
Posting Komentar