Maka, bungkam saja aku. Silakan. Jika pada akhirnya riwayatku harus ditutup sebagai pembangkang atas pilihan yang kuambil dengan kesadaran penuh, tinggal susun rencana saja mau diapakan jasad ini kelak. Mau kau lempar ke kawah gunung berapi yang apinya menjilat-jilat angkasa, atau kau larung ke samudra paling dalam tempat cahaya matahari pun tak sudi menyapa, itu urusanmu. Tugasku bukan lagi memikirkan nasib jasad yang membatu. Tugasku adalah menuntaskan tarian ini, di atas panggung yang telah aku pilih sendiri, dengan musik yang kudengar dari dalam sanubari.
Sebab suara yang hendak kau redam ini bukanlah gema sesaat, melainkan akumulasi dari ribuan kebisuan yang terpaksa kutelan hingga menjadi batu di kerongkongan. Amarah dan sakit hati itu, sekian lama, telah menjadi sungai bawah tanah yang menggerogoti fondasi jiwaku. Ia mengalir deras dalam gelap, mencari celah untuk meluap. Aku telah membangun bendungan tinggi bernama "kesabaran", "pemakluman", dan "demi kebaikan bersama". Aku menambalnya setiap hari dengan senyum palsu dan anggukan patuh. Tapi air bah tak bisa ditahan selamanya. Dinding bendungan itu kini retak, dan dari celah-celahnya mengalir lahar panas berisi segala sesuatu yang tidak aku sukai; segala kata yang tak terucap, segala perlakuan yang tak adil, segala skenario yang ditulis orang lain untukku.
Cukup.
Hidup ini hanya sekali berkelebat, serupa kunang-kunang di pekat malam. Singkat dan berharga. Dan setelah sampai pada titik ini, pada persimpangan jalan di mana peta tak lagi berguna, aku menolak untuk terus berjalan sambil menahan napas. Aku tidak mau lagi menjadi aktor yang patuh pada sutradara tiran, melafalkan dialog yang hampa, dan bergerak sesuai blokade panggung yang menyesakkan. Topeng ini terlalu berat. Kostum ini terlalu panas. Aku ingin merobeknya, membiarkan kulitku merasakan udara apa adanya, membiarkan paru-paruku menghirup kebebasan hingga sesak olehnya. Rasa sakit karena menjadi diri sendiri, aku yakin, tak akan pernah lebih perih daripada luka membusuk karena menjadi orang lain.
Mungkin kau sebut ini kebodohan. Ketergesa-gesaan. Sebuah pertaruhan tanpa perhitungan. Tapi aku tidak sendiri dalam kegilaan ini. Aku yakin 100% kali ini, semesta bersekutu denganku. Semesta tidak pernah berteriak, ia hanya berbisik. Bisikannya adalah gemerisik daun kering yang kuabaikan, tetes hujan di jendela yang tak kupedulikan, atau konstelasi bintang yang tak pernah sempat kupandangi. Selama ini aku terlalu sibuk mendengar hingar bingar dunia luar, hingga tuli pada simfoni agung yang dimainkan alam raya untukku. Kini, aku mendengarnya. Angin meniupkan arah. Tanah memberikan pijakan. Dan malam membentangkan peta bintang sebagai kompas abadi. Semesta selalu mendampingiku, dan aku baru menyadarinya sekarang.
Maka aku melangkah. Bukan lagi berlari dari sesuatu, melainkan berjalan menuju sesuatu. Aku akan menuju pada apa yang seharusnya menjadi kehidupanku. Setiap jejak yang kutinggalkan adalah selarik sajak perpisahan pada masa lalu. Setiap embusan napas adalah proklamasi atas kemerdekaan jiwa. Aku mungkin akan tersesat. Aku mungkin akan jatuh. Aku mungkin akan sendirian dan kedinginan di tengah belantara ketidakpastian. Tapi biarlah. Lebih baik menggigil dalam perjalanan mencari api, daripada mati kedinginan di dalam istana es yang dibangun dari kepatuhan buta.
Jadi, sekali lagi kukatakan, jika harga dari perjalanan ini adalah pembungkaman, maka siapkan saja segalanya. Aku tidak akan melawan. Pembangkangan terbesarku bukanlah pada pekik perlawanan, melainkan pada keheningan pilihan. Saat kau pikir telah berhasil membungkamku, sesungguhnya aku hanya sedang memulai percakapan yang lebih jujur dengan semesta. Saat kau sibuk menyusun rencana untuk jasadku, rohku telah menemukan jalan pulang menuju takdirnya.
Hidup sekali. Dan aku memilih untuk menjalaninya, bukan sekadar bertahan di dalamnya. Sisanya, biarlah menjadi catatan kaki dalam sejarah kecil seorang pembangkang yang akhirnya menemukan keheningannya sendiri.
Komentar
Posting Komentar