Langsung ke konten utama

Yang Mana Sebetulnya Aku?

Sejenak. Hanya sejenak. Di antara deru knalpot yang memekakkan telinga dan lampu-lampu kota yang menusuk retina, pertanyaan itu datang tanpa diundang. Ia menyelinap, seperti pencuri di tengah malam sunyi, membongkar paksa brankas kesadaran yang sudah lama tak tersentuh. Aku berpikir, sejenak: apa aku sebelum dilahirkan?

​Sebelum ada nama yang dilekatkan, sebelum ada tangis pertama yang merobek keheningan sebuah ruang persalinan, sebelum ada dekapan hangat dan aroma bedak bayi yang asing. Apa aku? Kekosongan? Sebuah kemungkinan yang belum genap? Ketiadaan yang bahkan tak sadar bahwa ia tiada? Tak ada jawaban. Hanya ada sunyi. Sunyi yang lebih purba dari kata-kata, lebih dalam dari ingatan manapun.

​Kemudian, pada suatu waktu, ada ledakan. Bukan ledakan dahsyat yang menghancurkan galaksi, melainkan ledakan sunyi yang justru menciptakan sebuah semesta. Aku lahir. Aku mulai menubuh. Dari ketiadaan itu, tiba-tiba aku adalah daging, adalah tulang, adalah darah yang mengalir dengan ritmenya sendiri. Tubuh ini menjadi jangkar pertamaku pada dunia. Melalui pori-pori kulit, aku merasakan udara—kadang lembap, kadang kering, kadang membakar. Melalui lubang hidung, aku menghirup segalanya. Aroma anyir darah ibu yang samar, bau tajam disinfektan rumah sakit, wangi parfum ayah yang mencoba menenangkan, dan kelak, ribuan aroma lain yang akan membangun perpustakaan memoriku: bau tanah basah setelah hujan pertama, aroma sangit kopi di pagi buta, wangi buku-buku tua, dan anyelir di pekarangan rumah nenek.

​Aku menubuh. Aku menjelma.

​Setiap harinya adalah proses menjadi. Dari aku yang hanya bisa menangis dan merasa, menjadi aku yang bisa merangkak dan meraih. Dari aku yang hanya mengenal rasa lapar dan kenyang, menjadi aku yang mengenal rasa rindu dan kecewa. Aku yang kemarin terbuat dari dongeng sebelum tidur dan luka di lutut. Aku yang hari ini terbuat dari rumus matematika yang tak kumengerti dan debar pertama saat mata kami bertemu. Aku yang besok, entah akan terbuat dari apa. Kepingan-kepingan pengalaman, serpihan-serpihan ingatan, membentuk mosaik yang selalu berubah. Dari aku yang satu, menjadi aku yang lainnya. Terus-menerus. Tanpa henti. Sebuah metamorfosis tanpa kepompong.

​Lalu, di tengah proses menjelma yang tanpa jeda itu, kapan persisnya momen krusial itu tiba? Kapan aku sadar bahwa aku ini adalah aku?

​Bukan ibu yang memelukku. Bukan guling yang kupeluk. Bukan bayangan hitam di dinding kamar saat lampu dimatikan. Bukan pula makhluk mungil di seberang cermin yang meniru setiap gerakanku dengan patuh. Kapankah persisnya kesadaran itu membelah, menciptakan jarak antara ‘aku’ dan ‘yang lain’?
​Mungkin saat itu, aku balita, berdiri di depan cermin besar di lemari orang tuaku. Aku mengangkat tangan, dan makhluk di seberang kaca itu pun mengangkat tangannya. Aku tertawa, dan ia membuka mulutnya tanpa suara. Untuk waktu yang lama, ia adalah teman bermain, sosok lain yang ada di sana. Namun pada suatu pagi, entah kenapa, saat menatap mata di seberang sana, sesuatu bergetar. Sebuah pengakuan tanpa kata. Tatapan itu bukan tatapan orang lain. Itu adalah tatapanku. Makhluk itu… adalah aku.

​Di sanalah semesta terbelah dua. Ada ‘Aku’, sebagai pusat pengamatan, sebagai entitas persona tertentu dalam segala eksistensinya. Dan ada ‘Dunia’, segala sesuatu yang bukan aku. Sejak saat itu, aku menjadi tahanan dalam benteng tubuh dan pikiranku sendiri, memandang dunia dari balik jendela mataku. Sebuah kesadaran yang agung sekaligus mengerikan. Agung, karena ia memberiku identitas. Mengerikan, karena ia memberiku kesepian yang paling hakiki.

​Dan kini, puluhan tahun setelah momen di depan cermin itu, kesadaran akan ‘aku’ telah menjadi begitu otomatis, begitu lumrah. Ia menjadi kebisingan latar yang tak lagi kuperhatikan. Dunia yang penuh misteri ini terbentang di hadapan kita, namun kita terlalu sibuk. Sibuk menjalani yang tak diketahui. Sibuk mengejar tenggat, membayar tagihan, membalas pesan singkat, tertawa pada lelucon hambar di kedai kopi, dan mengomentari hidup orang lain di dunia maya. Kita begitu sibuk menjadi berbagai versi ‘aku’—aku sebagai pekerja, aku sebagai teman, aku sebagai anak, aku sebagai kekasih—sehingga kita lupa pada pertanyaan mendasar itu.

​Misteri tentang ketiadaan sebelum kelahiran dan kesadaran yang tiba-tiba muncul itu tetap menjadi lubang hitam di pusat eksistensi kita. Kita hanya mengisinya dengan kebisingan, dengan kesibukan, dengan rutinitas. Mungkin karena menatapnya terlalu lama terasa begitu menakutkan.

​Hingga suatu malam, sejenak, di tengah hiruk pikuk yang kita ciptakan sendiri, pertanyaan itu kembali menyelinap. Sejenak aku berpikir, setelah menubuh dan menjelma menjadi ribuan ‘aku’ yang berbeda setiap harinya, di antara segala topeng dan peran ini, yang mana sebetulnya aku?

Komentar