Langsung ke konten utama

Naskah Sunyi Seorang Aktor

Maka, di panggung yang Engkau sebut kehidupan ini, izinkan aku memulai monolog. Bukan dengan suara yang lantang, melainkan dengan bisik yang lahir dari gemetar paling purba di dasar jiwa. Sebuah bisik yang ditujukan hanya kepada-Mu, Sang Sutradara Agung, Sang Penulis Naskah yang tinta-Nya tak pernah kering.

Dengan segala Rahmat yang Engkau hembuskan pada setiap pori-pori semesta, aku bersaksi. Rahmat itu tidak hanya tertera pada mawar yang mekar sempurna atau fajar yang membelah cakrawala dengan warna keemasan. Tidak. Aku melihatnya, aku merasakannya justru pada detail-detail yang sering kali terlupakan. Pada urat daun yang mulai meranggas, pada retak tipis di cangkir porselen tua, pada guratan lelah di wajah seorang pejalan kaki saat senja. Engkau Rahmati setiap bentuk ciptaan, bahkan yang paling bengkok, yang paling sumbing, yang paling dianggap tak berarti. Dan di dalam diriku, dalam sosok yang penuh tambal sulam ini, aku percaya Rahmat-Mu pun menyusup, mengalir di antara segala compang-camping yang ada.

Lalu, dengan rasa segala kegagalan diri ini pada hidup, aku datang. Kegagalan yang bukan lagi sekadar peristiwa, melainkan telah menjadi prasasti yang terukir di tulang-belulang. Setiap nama yang pernah kulupakan, setiap janji yang tak mampu kutepati, setiap puncak yang hanya sanggup kutatap dari lembah paling curam—semuanya menjelma menjadi bayang-bayang yang menari setiap kali aku memejamkan mata. Mereka adalah penonton setia di teater sepiku, bertepuk tangan dengan sinis, mengingatkanku pada setiap dialog yang salah kuucapkan, pada setiap langkah yang keliru kuambil. Rasa ini, ya Tuhan, rasa menjadi debu di tengah badai, menjadi riak kecil yang segera lenyap ditelan samudra.

Dan badai itu datang. Dengan segala sakit dan tangis yang menghujam setiap bait-bait hari. Sakit bukanlah lagi kata sifat, ia telah menjadi udara yang kuhirup. Tangis bukan lagi air mata, ia adalah hujan abadi yang membasahi lanskap batinku. Ada hari-hari di mana langit di dalam kepala terasa begitu rendah, menekan, menghimpit, hingga napas menjadi sebuah perjuangan. Ada malam-malam di mana sunyi berteriak lebih nyaring dari seribu pekikan, menggemakan kembali setiap luka, setiap pengkhianatan, setiap kehilangan. Hujan belati-belati bening itu, yang Kau izinkan jatuh, telah mengajariku betapa rapuhnya kulit dan betapa dalamnya sebuah ruang bernama hati.

Namun, anehnya, di sela-sela denting belati dan gemuruh badai itu, ada sesuatu yang berkeras untuk tumbuh. Dengan segala syukur yang terkadang masih mengubur dengan rapat dan dalam. Syukur yang malu-malu, yang sering kali terbungkam oleh keluh kesah. Ia seperti benih yang tertimbun longsoran kerikil tajam, namun menolak untuk mati. Syukur atas napas yang masih berembus di antara sesak. Syukur atas detak jantung yang masih setia menjadi musik latar bagi segala kekacauan ini. Syukur karena bahkan dalam sakit yang paling menghujam sekalipun, aku tahu aku masih hidup. Aku masih merasa. Dan merasa adalah bukti paling sahih dari sebuah keberadaan. Terkadang, aku harus menggali begitu dalam hanya untuk menemukan serpihan syukur itu, menariknya dari timbunan amarah dan putus asa, lalu membersihkannya dengan sisa-sisa harapan.

Maka, di titik inilah, di persimpangan antara rahmat dan luka, antara kegagalan dan syukur yang pemalu itu, sebuah permohonan terakhir kuutarakan. Atas apapun yang terjadi pada hidup, atas segala adegan yang telah dan akan Kautuliskan untukku, izinkan aku memilih jalan hidup ini tanpa sedikit keraguan.

Izinkan aku untuk tidak lagi gemetar di hadapan dua sisi mata uang yang sama.

Terang gelap! Biarlah keduanya menjadi warna dalam lukisanku. Aku tak akan hanya merindukan matahari jika aku bisa belajar menari di bawah cahaya bulan yang pucat.

Baik buruk! Biarlah keduanya menjadi notasi dalam laguku. Aku tak akan hanya memuja melodi yang merdu jika aku bisa menemukan keindahan dalam disonansi yang menggetarkan.

Berhasil dan gagal! Biarlah keduanya menjadi guru yang sama berharganya. Aku akan merayakan kemenangan dengan segelas anggur, dan aku akan menyambut kekalahan dengan secangkir kopi hitam, sama-sama dengan kepala tegak.

Atau apapun itu nama, bahasa, alur cerita, naskah, dan takdir!! Aku tak ingin lagi membacanya dengan ketakutan. Aku ingin menjalaninya dengan kepasrahan seorang aktor yang percaya penuh pada sutradaranya. Aku tak perlu tahu akhir ceritanya. Tugasku bukanlah mempertanyakan naskah, melainkan memainkannya dengan segenap jiwa. Hari ini, aku memilih untuk berhenti berperang dengan takdirku sendiri. Aku memilih untuk memeluknya. Seluruhnya. Tanpa syarat.

Sebab barangkali, keraguan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah kemewahan yang tak lagi kumiliki. Dan di hadapan-Mu, aku hanya ingin berdiri, sebagai aktor yang telah memilih perannya, dan siap untuk adegan berikutnya. Apapun itu.

Komentar