Hening. Udara di ruangan ini membeku, hanya debu-debu yang menari-nari dalam sebilah cahaya senja yang menerobos jendela. Di tanganku, sebuah album foto tua. Sampulnya kusam, tapi isinya—isinya menyimpan semesta yang pernah begitu benderang. Aku membukanya. Halaman demi halaman. Dan di sanalah ia bersembunyi. Rindu. Ia tidak datang sebagai bisikan, melainkan sebagai sebuah ledakan sunyi yang menggema dari dalam kertas-kertas persegi yang beku.
Foto-foto itu diam. Tentu saja. Mereka hanyalah kertas yang menangkap sepersekian detik dari waktu yang telah mati. Tapi kesunyian mereka menipuku. Dari setiap gambar, dari setiap senyum yang membeku dan tatapan yang tak lagi menatapku, sebuah kolase ingatan menyerbu tanpa ampun. Sebuah montase liar tentang siapa aku dulu. Ya, dulu. Sebuah kata yang begitu dekat sekaligus begitu jauh, seperti cakrawala.
Dan aku melihatnya. Betapa mudahnya tawa terlepas dari bibir bocah itu, dari remaja itu, dari pemuda itu—dari aku yang itu. Tawa yang tak perlu alasan, tawa yang lahir dari lelucon hambar seorang kawan, dari jatuhnya buah mangga di kepala, dari hal-hal remeh yang kini mungkin hanya akan kubalas dengan seulas senyum tipis yang lelah. Tawa itu, di mana ia sekarang? Apakah ia ikut terkubur bersama waktu, di sebuah pemakaman tanpa nisan?
Dulu. Hidup terasa seperti kain sutra yang lembut menyentuh kulit. Begitu ringan, begitu membahagiakan. Aku masih bisa merasakan—bukan sekadar mengingat, tapi merasakan—hangat kecupan ibu di kening sebelum fajar benar-benar terjaga, dan kecupan bapak di pipi yang menyisakan aroma kopi dan tembakau. Sebuah ritual pagi yang menjadi sauh, yang mengatakan bahwa dunia baik-baik saja, bahwa hari ini akan jadi petualangan yang menyenangkan.
Aku masih bisa mendengar decit sepatu kets di selasar sekolah yang licin. Derit itu adalah musik kepanikan, orkestra seorang murid yang berlari karena alarm berkhianat pagi itu. Tapi bahkan dalam panik itu, ada kehidupan. Ada denyut adrenalin yang riang, bukan kecemasan sunyi yang menggerogoti seperti sekarang. Panik yang berujung pada tawa bersama di depan gerbang yang terkunci, bukan kepanikan tentang tenggat waktu dan tagihan yang datang tanpa permisi.
Lalu mataku tertumbuk pada satu foto. Warnanya agak pudar, tapi aku tahu persis warna itu: merah marun. Warna seragam, warna sebuah era. Tujuh belas tahun. Usia di mana hati terbuat dari kaca dan puisi. Di sana, di sudut foto, ada sepasang mata yang menatapku dengan cara yang tak pernah lagi kutemukan di mata siapa pun. Kisah asmara di usia itu adalah sebuah epik. Dialognya ditulis dengan metafora canggung, soundtrack-nya adalah lagu-lagu picisan dari radio, dan setiap pertemuan adalah sebuah perayaan. Semenggembirakan itu. Ya, segila itu.
Ke mana perginya semua itu kini?
Ah, Waktu.
Selalu Waktu. Ia adalah perampok paling bengis, sekaligus paling sopan. Ia tidak pernah mendobrak pintu. Ia hanya berjalan, detik demi detik, dan mengambil semua yang tidak kita genggam erat. Ia merenggut rantaian masa mudaku, satu per satu, tanpa suara. Ia mempreteli keriuhan itu, kelembutan itu, keriangan itu. Dan sebagai gantinya, sebagai semacam uang kembalian yang kejam, ia hanya memberiku ini: rindu. Sebongkah rindu yang berat dan dingin.
Kututup album foto itu. Suaranya seperti menutup sebuah peti mati kecil. Hening kembali mengambil alih ruangan, kali ini terasa lebih pekat, lebih berat. Aku terdiam. Cukup lama. Mungkin sama lamanya dengan rentang waktu antara foto pertama dan terakhir di album itu. Lalu, tanpa bisa kucegah, sesuatu yang hangat mengalir di pipiku. Air mata. Ia jatuh tiba-tiba, seorang tamu tak diundang yang datang dari masa lalu.
Sial…
Kini, di tengah belantara fase dewasa yang melelahkan ini, aku adalah seorang peziarah. Setiap hari adalah perjalanan menembus kabut. Tak ada lagi kembang api yang meletup di dada hanya karena perayaan kecil. Tak ada lagi kecupan pagi yang menjanjikan hari yang riang. Yang ada hanyalah daftar tugas, tanggung jawab yang menumpuk, dan mimpi-mimpi yang harus terus-menerus disemangati agar tidak mati.
Lalu apa yang bisa kulakukan? Melawan Waktu adalah kesia-siaan. Mengutuknya hanya akan menambah lelah. Mungkin, hanya ini yang tersisa. Terus berjalan sambil menghargai setiap detik yang diberikan. Merawat dengan lebih baik setiap pertemuan, karena aku kini tahu betapa berharganya sebuah presensi sebelum ia menjadi foto bisu di dalam album. Rutin menguatkan diri dengan serpihan-serpihan impian yang tersisa, menjadikannya bahan bakar untuk terus bergerak.
Semoga. Ya, hanya itu kata yang kupunya. Semoga di masa depan, saat aku membuka kembali album ini, aku tak lagi merasa kewalahan seperti sekarang. Semoga aku bisa menatap bocah, remaja, dan pemuda di dalamnya, lalu tersenyum dan berkata, "Lihat, kita berhasil. Kita berhasil melaluinya."
Komentar
Posting Komentar