Maka, biarlah ini menjadi sebuah catatan. Bukan untuk dibaca siapa-siapa, apalagi untuk dimengerti mereka. Ini hanya arsip bisu tentang kita; sepasang manusia yang menolak berjalan di atas peta, yang menari persis di garis perbatasan antara surga dan neraka. Hubungan ini, sejak awal mula, adalah sebuah anomali. Goncangan gila yang kita sebut sebagai irama, bukan bencana. Kita tak pernah mengenal kata "wacana" atau "rencana" sebab setiap detik yang kita jalani adalah improvisasi total—sebuah pertaruhan tanpa jaring pengaman.
Kita adalah dua kutub yang dipaksa tarik-menarik dalam satu medan magnet yang sama. Kau, dengan segala ambisimu yang setajam ujung belati, namun bisa luruh menjadi cengeng hanya karena mendung yang salah waktu. Impianmu adalah gedung-gedung pencakar langit yang kau bangun bata demi bata dalam kepalamu, tapi fondasinya adalah air mata yang bisa tumpah kapan saja. Kau adalah paradoks yang hidup: seorang panglima perang di siang hari yang merindukan dongeng sebelum tidur di malam hari. Tangismu bukan kelemahan, melainkan katup pelepasan tekanan dari mesin ambisi yang terus-menerus kau pacu hingga batas tertinggi.
Lalu aku. Aku adalah bola panas yang menggelinding tanpa bisa diprediksi. Energi yang meluap-luap, yang kadang menghangatkan, tapi lebih sering membakar apa saja yang terlalu dekat. Aku adalah reaksi, bukan aksi. Aku adalah ledakan-ledakan kecil yang mencari pembenaran. Terkadang, panas ini bisa menjadi penyeimbang bagi dingin keraguanmu. Aku bisa menjadi api yang menyalakan kembali semangatmu saat padam. Namun tak jarang, panas ini pula yang menghanguskan kesabaranmu yang setipis kertas, mengubah diskusi menjadi abu pertengkaran. Begitu pun sebaliknya. Ada kalanya ambisimu yang terstruktur itu menjadi wadah bagi energiku yang liar, memberinya bentuk dan arah. Tapi di saat lain, ia terasa seperti sangkar yang merampas kebebasanku untuk menggelinding liar.
Maka, tak terhitung lagi berapa kali kita saling membakar dalam api ego kita sendiri. Pertarungan kita sering kali senyap, lebih mematikan dari teriakan. Perang dingin di atas ranjang, kebisuan di meja makan, tatapan mata yang saling menghakimi dari seberang ruangan. Di momen-momen itu, kita adalah dua orang asing yang paling intim. Kita saling melukai dengan senjata yang paling kita tahu titik lemahnya. Kita adalah kombatan ulung dalam perang yang kita ciptakan sendiri. Kobar api itu membakar habis logika, menyisakan hanya jelaga keakuan yang pekat.
Namun, entah bagaimana, selalu ada titik di mana salah satu dari kita—atau mungkin keduanya serentak—merasa lelah. Lelah untuk terbakar. Lelah untuk menjadi pemenang. Di titik itulah kita berhenti. Mengambil jeda. Jeda yang suci, yang tak pernah direncanakan. Seperti dua pelari maraton yang roboh bersamaan tepat di garis finis yang tak pernah ada. Dalam jeda itu, kita membenarkan perasaan. Bukan mencari siapa yang benar atau salah, tapi mengakui bahwa setiap luka itu nyata, setiap amarah punya akarnya, dan setiap air mata punya sebabnya. Kita menyelam ke dalam diri masing-masing, mencoba memahami kenapa kau begitu, dan kenapa aku begini. Sebuah proses pendewasaan paksa demi hadiah yang entah apa bentuknya di depan sana. Mungkin cincin yang melingkar. Mungkin luka batin yang menetap. Kita tak pernah ambil pusing. Kita tak peduli.
Sebab kita punya dunia kita sendiri, dengan hukum dan konstitusinya sendiri. Di luar sana, ada mereka. Mereka yang selalu bertanya, "kapan?", "bagaimana?", "kenapa tidak begitu?". Mereka adalah penonton dengan segudang teori tentang pertunjukan yang tak pernah mereka alami sendiri. Mereka adalah para arsitek yang mencoba merancang rumah untuk orang lain. Kepada mereka semua, kita hanya punya satu jawaban: Persetan. Hidup kita adalah milik kita. Panggung ini, dengan segala dramanya, adalah milik kita. Kita tak butuh sutradara.
Masa depan? Pertanyaan itu adalah lelucon paling getir. Kita menolak punya tebakan. Menebak masa depan adalah pekerjaan para peramal atau para perencana keuangan, bukan kita. Bagi kita, masa depan adalah horor yang paling menakutkan karena ia menuntut kepastian, sesuatu yang tak pernah kita miliki. Esok adalah misteri. Satu-satunya yang nyata adalah detik ini, di mana napas kita masih beradu. Mungkin itu sebabnya pelukan menjadi begitu penting. Pelukan adalah jangkar kita di tengah badai ketidakpastian. Ia adalah komunikasi paling purba dan paling jujur. Dalam hangat pelukan, tak ada lagi kau yang ambisius atau aku yang bola panas. Yang ada hanya "kita". Sebuah entitas tunggal yang rapuh namun menolak hancur. Ia adalah obat paling mujarab, selain percakapan telanjang di dini hari.
Kita bisa baik-baik saja dan tidak baik-baik saja dalam interval waktu yang acak. Pagi tertawa terbahak-bahak, malamnya bisa saling membisu. Siang merajut mimpi, sorenya bisa mempertanyakan segalanya. Siklus ini gila. Tapi dalam kegilaan inilah kita terus berbenah. Lagi, dan lagi. Seperti rumah tua yang terus-menerus kita perbaiki. Atapnya bocor, kita tambal. Dindingnya retak, kita plester. Mungkin tak akan pernah menjadi rumah yang sempurna, tapi ini rumah kita. Dan kita menolak untuk meninggalkannya.
Dari semua kekacauan ini, ada satu hal yang paling mengagetkan: ternyata kita bisa saling menguatkan. Di saat dunia terasa menghimpitmu, bahuku bisa menjadi sandaran. Di saat aku merasa terbakar habis dari dalam, kata-katamu bisa menjadi embun yang menyejukkan. Kita bisa saling menangis. Bukan menangisi hubungan ini, tapi menangisi hal-hal penting dalam hidup: kegagalan, kehilangan, ketakutan. Kita menjadi saksi atas kerapuhan satu sama lain, dan itu, entah bagaimana, justru menjadi semen perekat yang paling kuat.
Satu doa lirih selalu terucap dalam sunyi. Semoga, kita selalu bisa mencintai apa adanya. Mencintai ambisimu sekaligus cengengmu. Mencintai panasku sekaligus rapuhku. Mencintai surga singkat yang kita ciptakan, juga neraka panjang yang sering kali kita datangi. Semoga kita bisa terus mencintai tarian ini, dalam tidur maupun jaga. Sampai nanti, jika semesta mengizinkan, melingkar cincin di jari kita sebagai penanda bahwa kita telah selamat dari perang yang paling indah. Amin.
Komentar
Posting Komentar