Langsung ke konten utama

Melipat Waktu, Menggugat Makna

Membaca adalah sihir. Sihir paling purba. Dalam sekali duduk, dalam keheningan sebuah kamar yang hanya ditemani decak jam dan aroma kopi, kita bisa melompat, melipat, dan menembus sekat-sekat yang paling absolut: ruang dan waktu. Fisika punya dalilnya sendiri tentang itu, dalil yang rumit dan penuh angka. Tapi kita, para pembaca, punya cara yang jauh lebih sunyi, jauh lebih intim. Cuma buku-buku dan pikiran.

​Dalam sekali duduk membaca, kita bisa ‘hadir’ di majelis Imam Syafi’i, merasakan udara Baghdad yang kering sambil menyimak untaian argumen fikih yang lincah laksana tarian pedang. Belum kering tinta di halaman itu, kita sudah menyusuri lorong-lorong temaram perpustakaan Cordova, menghirup aroma perkamen tua yang menyimpan kearifan Ibnu Rusyd, jari-jemari kita seolah menyentuh debu zaman yang sama. Lalu, dengan sekali membalik halaman, kita telah berdiri di bawah pohon rindang di Woolsthorpe, di samping Newton, ikut menahan napas saat apel itu jatuh—gravitasi bukan lagi rumus mati, ia adalah peristiwa yang kita saksikan dengan mata kepala sendiri.

​Membaca bukan hanya memperkaya wawasan. Itu deskripsi yang terlalu klinis, terlalu dingin. Membaca adalah membentuk kedalaman jiwa. Ia semacam alkimia batin. Dari timah pengalaman orang lain yang beku dalam aksara, kita menempa emas pemahaman kita sendiri. Membaca menciptakan pikiran yang luas, hati yang halus, dan pandangan yang bijak. Semua itu tidak datang seperti ilham yang jatuh dari langit. Ia tumbuh perlahan, dari lembar demi lembar yang kita baca, dengan penuh cinta dan renungan. Seperti akar yang merayap sabar menembus tanah gembur.

​Karena membaca adalah satu-satunya cara kita berbicara dengan orang mati tanpa perlu menjadi arwah. Plato, Rumi, Kartini, Pramoedya—mereka tidak benar-benar lenyap. Suara mereka terperangkap dalam baris-baris kalimat, menunggu untuk dibebaskan. Dan kita, dengan membaca, adalah pembebas itu. Kita undang mereka masuk ke dalam kepala kita, kita ajak mereka berdebat, kita tangisi kisah mereka, kita tertawakan lelucon mereka. Ia memperluas cakrawala hidup, melampaui batas usia, tempat, dan prasangka. Tanpa membaca, pikiran kita layu, terkungkung oleh sempitnya pengalaman sendiri. Dinding penjara terkokoh bukanlah terali besi, melainkan pikiran yang tak pernah berkelana. Saya lebih percaya pada pikiran yang telah membaca banyak buku, daripada yang hanya sibuk mendengar suaranya sendiri bergema di kepala. Membaca, singkatnya, adalah latihan kebebasan.

​Tapi jangan salah. Membaca bukan sekadar menyerap. Itu pasif. Itu penyerahan diri yang naif. Membaca adalah tindakan menggugat. Menyelami. Membedah. Merombak. Lalu melahirkan ulang makna dari reruntuhan wacana yang mapan. Setiap kalimat adalah tawaran, dan kita berhak menolaknya. Setiap paragraf adalah sebuah bangunan ide, dan kita punya hak penuh untuk membongkarnya, mencari di mana fondasinya retak. Kita tidak datang ke sebuah buku sebagai gelas kosong, kita datang dengan palu godam keraguan.

​Di situlah letak kenikmatan tertingginya: nyasar di arah yang benar. Cuma buku-buku dan pikiran. Seperti diempaskan ke sebuah dunia yang benar-benar baru. Dunia warna-warni dengan sedikit sepuhan biru tua langit pagi yang mengintip dari gumpalan awan putih. Langit putih. Tembok warna-warni. Pegunungan hijau. Jalanan hitam. Kita tersesat dalam labirin argumen Foucault, terombang-ambing dalam samudra kesedihan Gabriel García Márquez, lalu menemukan jalan pulang di ketenangan sajak-sajak Sapardi. Kutipan tanpa tafsir pribadi hanya jadi etalase ide milik orang lain. Benda pajangan yang cantik namun tanpa nyawa, tanpa perlawanan.

​Maka, orisinalitas bukan soal menutup diri dari rujukan. Itu kesombongan seorang pertapa yang dungu. Orisinalitas adalah keberanian untuk membaca ulang, meragukan ulang, dan menyuarakan ulang kebenaran versi diri—bukan versi yang diwariskan begitu saja seperti pusaka karatan. Orisinalitas lahir dari keberanian bertarung melawan teks, melawannya dengan segenap pengalaman dan luka yang kita punya.

​Lalu ada yang berkata, membaca adalah seni untuk merayakan rasa. Itu benar. Sebab begitu banyak perasaan yang bisa meledak hanya dari rentetan aksara hitam di atas kertas putih. Aku mampu menenggelamkan diri, dan kemudian larut dalam bermacam ragam perasaan di dalamnya. Aku bisa merasakan pedihnya Santiago saat merindukan Fatima di padang pasir, merasakan amarah Achiles yang membakar Troya, merasakan harapan Seto yang tak pernah padam pada Tira. Rasa adalah jembatan paling kokoh antara pembaca dan cerita.

​Maka, ketika ada suara-suara sumbang, "Semua orang berhak berpendapat, termasuk meremehkan bacaan fiksi," kita hanya bisa tersenyum. Ya, memang betul, berpendapat adalah hak. Tapi orang-orang yang benar-benar menggemari buku dan segala jenis literasi, yang jiwanya pernah diguncang oleh kekuatan kata-kata, tidak akan pernah tercetus untuk meremehkan genre apa pun dalam buku, terlebih fiksi. Itu seperti seorang pelaut yang meremehkan samudra, atau seorang pendaki yang mencibir gunung.

​Membaca fiksi juga bisa jadi gerbang awal untuk seseorang menyenangi buku. Dari petualangan Lima Sekawan, seseorang bisa berakhir menyelami pemikiran Camus. Dari roman picisan, seseorang bisa tergelincir ke dalam epos Mahabharata. Fiksi adalah pemanasan jiwa sebelum ia siap melahap dunia yang lebih kompleks. Emang kebayang hidup di dunia yang kelabu ini tanpa cerita fiksi? Tanpa dongeng, tanpa mitos, tanpa kebohongan-kebohongan indah yang justru menyuarakan kebenaran paling dalam?

​Karena fiksi, pada akhirnya, adalah cara terbaik menceritakan fakta. Fakta hanya memberimu angka korban perang. Fiksi memberimu nama, wajah, dan tangis seorang ibu yang kehilangan anaknya dalam perang itu. Fakta hanya memberimu data statistik kemiskinan. Fiksi memberimu bau gang senggol yang pengap dan mimpi seorang anak pemulung. Fiksi menerjemahkan kebenaran yang beku menjadi sesuatu yang berdenyut, bernapas, dan bisa dirasakan.

​Membaca adalah perjalanan tanpa akhir, sebuah pemberontakan sunyi melawan kefanaan dan kebodohan. Ia adalah cara kita menegaskan bahwa kita lebih besar dari sekadar tubuh yang terkurung oleh waktu dan geografi. Dengan setiap buku yang kita buka, kita melipat semesta, kita undang masa lalu untuk mengajari kita, dan kita bangun masa depan dari reruntuhan makna yang berani kita gugat. Kita menjadi lebih dari diri kita sendiri. Kita menjadi tak terbatas.

Komentar