Dan di sebuah meja kopi, di antara kepul asap yang meliuk genit dan ampas yang mengendap pekat, mereka membicarakan ‘aku’. Cangkir-cangkir keramik menjadi saksi bisu, merekam setiap penggal kata yang mencoba merangkai mozaik tentang siapa ‘aku’ ini sesungguhnya. Mereka berbicara dengan keyakinan para ahli bedah yang membelah anatomi, dengan kepastian seorang kartografer yang memetakan wilayah tak bertuan. ‘Aku’ menjadi entitas yang dibaringkan di atas meja, ditelanjangi oleh tatapan dan disimpulkan oleh bisik-bisik. Mereka menyusun sebuah ‘aku’ dari serpihan ingatan mereka, dari fragmen cerita yang pernah mereka dengar, dari prasangka yang mereka pelihara dalam diam. Sebuah ‘aku’ yang nyaman untuk mereka, yang pas dalam kotak pemahaman mereka.
Tetapi ‘aku’ yang mereka bicarakan itu, bukanlah aku. Ia hanya hantu, hanya gema, hanya bayangan pucat yang lahir dari nostalgia dan nestapa percakapan sore hari.
Sebab ‘aku’ yang sejati telah lama beranjak dari sana. Aku adalah ‘aku’ yang telah entas dan enyah dari berbagai ‘entitas’ aku yang pernah ada. Aku telah melepaskan ‘aku’ yang kautemukan dalam foto hitam-putih yang beku, ‘aku’ yang tercatat dalam arsip sekolah dengan nilai-nilai angka, ‘aku’ yang pernah kaudengar namanya dalam jerit tangis atau ledakan tawa di masa lalu. Semua itu adalah kulit-kulit ular yang telah kutanggalkan di sepanjang jalan. Mereka adalah jejak, bukan tujuan. Mereka adalah bab-bab yang telah usai, bukan keseluruhan buku. Mencoba memahami ‘aku’ yang sekarang dengan membaca bab-bab yang lampau adalah kesia-siaan yang puitis, sebuah upaya menimba air dengan keranjang berlubang.
Aku adalah proses menjadi, sebuah kalimat yang belum selesai, sebuah pertanyaan yang terus mencari jawabnya sendiri di dalam sunyi. Aku bukanlah patung pualam yang paripurna untuk dipajang dan dikagumi dari segala sudut. Aku adalah lempung basah di atas meja putar, yang bentuknya terus berubah oleh sentuhan tak terlihat dari waktu, dari perjumpaan, dari kehilangan, dari setiap fajar yang kusesap udaranya dan setiap senja yang mengantarkan kesendirianku. Maka, menyandingkan ‘aku’ dengan ihwal lainnya—dengan ‘dia’ yang kaubandingkan, dengan standar yang kauciptakan, dengan ideal yang kaugantung di langit-langit anganmu—adalah sebuah kekeliruan fatal.
Itu seperti mencoba mengukur dalamnya samudra dengan jengkal atau menimbang berat angin dengan neraca. ‘Aku’ bukanlah komoditas yang bisa diberi label harga, bukan pula spesimen yang dapat diklasifikasikan dalam genus dan spesies. Setiap luka yang pernah tergores di kulitku, setiap kebahagiaan kecil yang pernah membuatku lupa waktu, setiap buku yang kubaca hingga larut, setiap lagu yang menggetarkan sanubari, setiap percakapan tanpa kata di tengah malam—semua itu adalah benang-benang yang menenun diriku. Bagaimana mungkin kau bisa melihat keseluruhan permadani itu hanya dengan memegang sehelai benangnya?
Maka berhati-hatilah. Aku tidak sedang berbicara tentang siapa yang berhak mengkritisi aku. Kritik adalah udara, ia bisa datang dari mana saja, dan aku cukup waras untuk menghirupnya sebagai oksigen atau mengembuskannya sebagai karbon dioksida. Ini bukan soal pertahanan diri. Ini adalah soal penegasan eksistensi. Sebuah manifesto sunyi bahwa ‘aku’ adalah aku, sebuah semesta yang berdaulat dengan hukum gravitasi dan konstelasi bintangnya sendiri. Tak bisa kaupahami galaksiku hanya dengan memandang satu bintang kejora dari kejauhan.
‘Aku’-nya aku adalah wilayah privat yang pagarnya adalah keheningan. Di sanalah aku bercakap-cakap dengan diriku yang paling jujur, menertawakan kebodohanku sendiri, dan menangisi kerapuhanku tanpa perlu mencari pembenaran. Apa yang tampak di permukaan, apa yang tertangkap oleh matamu, sering kali hanyalah beranda dari sebuah rumah yang begitu luas. Kau mungkin melihat jendela-jendelanya, tapi kau tak pernah tahu badai apa yang sedang bergemuruh di ruang tamunya, atau taman rahasia apa yang sedang berbunga di halaman belakangnya.
Jadi, ketika kalian kembali duduk di meja kopi itu, biarkanlah ‘aku’ yang kalian ciptakan itu menari-nari dalam cangkir kalian. Biarkan ia larut bersama gula dan menjadi cerita pengantar senja. Sementara ‘aku’ yang sebenarnya, terus berjalan menyusuri lorong-lorong takdirnya sendiri, lepas dari kata-katamu, bebas dari kesimpulanmu. ‘Aku’-nya aku, pada akhirnya, adalah urusanku dengan Tuhan, dengan waktu, dan dengan cermin. Bukan dengan gunjingan di atas meja kopi. Berhati-hatilah, sebab menyimpulkan adalah membekukan, dan aku adalah sungai yang tak pernah berhenti mengalir.
Komentar
Posting Komentar