Ada terlalu banyak penghuni di dalam kepala saya. Mereka tidak membayar sewa, tetapi menempati setiap sudut ruangan pikiran dengan perabotan yang berat dan usang. Ada seorang anak kecil yang menggambar denah sebuah keluarga di atas kertas buram, dengan garis senyum yang dipaksakan dan matahari di pojok kanan atas yang cahayanya terasa dingin. Ada seorang arsitek muda yang membangun cetak biru menara-menara impian yang menjulang ke langit, tetapi fondasinya terbuat dari keraguan yang rapuh. Ada juga seorang pasien yang duduk diam di ruang tunggu, memegang nomor antrian yang tak pernah dipanggil, mendengarkan detak jam yang bunyinya lebih mirip hitung mundur.
Mereka semua adalah saya. Dan saya adalah panggung bagi mereka semua.
Setiap hari, pertunjukan dimulai. Tirai di kedua mata saya terbuka, lampu sorot dari dunia luar menyorot tajam, dan saya mulai memainkan peran utama: peran sebagai seseorang yang baik-baik saja. Dialognya sederhana, sering kali hanya satu kata: "Aman." Naskahnya fleksibel, bisa berupa senyum tipis saat ditanya "Bagaimana kabarmu?", atau tawa renyah yang menimpali lelucon hambar. Kostumnya adalah pakaian sehari-hari, tetapi di baliknya tersembunyi lapisan-lapisan zirah tak kasat mata yang saya kenakan untuk melindungi—entah melindungi siapa, saya sendiri sering kali lupa. Apakah untuk melindungi mereka yang menonton, atau justru melindungi para penghuni rapuh di dalam kepala saya?
Ironi adalah secangkir kopi pahit yang harus saya teguk setiap pagi. Saya membenci kebohongan. Saya muak pada kalimat yang dibungkus pemanis buatan, pada wajah yang dipoles kepalsuan, pada janji yang ditenun dari benang lapuk. Kebohongan, bagi saya, adalah pengkhianatan terhadap kata-kata itu sendiri. Kata-kata semestinya menjadi jembatan, bukan dinding. Namun, di sinilah saya, berdiri setiap hari di depan cermin, berlatih menjadi pembohong paling ulung yang pernah saya kenal.
Saya berbohong kepada ibu saya. Ketika beliau bertanya bagaimana nak kabarnya baik baik saja kan, saya mengangguk, menyembunyikan segala keresahan dan kecemasan yang terasa sesak di dada. Saya tidak ingin menambah kerut di dahinya yang sudah dipenuhi peta kekhawatiran. Saya berbohong kepada ayah saya. Ketika beliau menasihati tentang pentingnya menjaga badan, saya menjawab, "Tentu," sambil merasakan nyeri samar di kepala yang saya abaikan selama berminggu-minggu. Saya tidak ingin menjadi beban di pundaknya yang sudah menopang seluruh dunia kami. Kebohongan saya adalah tameng. Saya menipu mereka dengan ilusi ketenangan, agar mereka bisa tidur nyenyak di atas ranjang yang saya bangun dari dusta-dusta kecil berwarna putih.
Lalu, ada dusta yang saya ceritakan kepada mimpi-mimpi saya sendiri. Impian itu, arsitek muda di kepala saya yang merancangnya, adalah sebuah kota kaca yang berkilauan. Tetapi dunia menuntut bangunan dari bata dan semen. Maka saya berkata pada arsitek itu, "Sabar, belum waktunya," atau "Mungkin desainmu perlu direvisi." Saya terus menundanya, membiarkannya menggambar di ruang bawah tanah pikiran, takut jika cetak biru itu saya bawa ke dunia luar, ia akan diremukkan oleh kaki-kaki realitas yang tak punya belas kasihan. Maka, impian itu tetap menjadi maket bisu, sebuah monumen untuk keberanian yang tak pernah diambil.
Dan kebohongan paling keji adalah yang saya bisikkan pada tubuh saya sendiri. Rasa sakit adalah alarm, sinyal bahwa ada sesuatu yang salah, ada yang terbakar di dalam mesin. Tetapi saya mematikannya. Saya menganggapnya sebagai gangguan, sebagai suara bising yang mengganggu pertunjukan. "Hanya lelah," kata saya pada diri sendiri, ketika napas terasa berat. "Kurang tidur," dalih saya, ketika dunia terasa berputar. Saya menjadi dokter dan pasien sekaligus; mendiagnosis diri dengan penyakit-penyakit ringan yang resepnya adalah pengabaian. Saya takut pada kebenaran yang mungkin diungkap oleh seorang profesional. Saya takut pada vonis yang akan meruntuhkan panggung tempat saya berpura-pura. Lebih baik menjadi nahkoda di kapal yang bocor, pura-pura tidak melihat air yang sudah setinggi mata kaki, daripada mengakui bahwa kami semua akan tenggelam.
Maka saya memilih diam.
Diam, saya kira, adalah jalan tengah. Diam bukanlah kebohongan, tetapi juga bukan kejujuran. Diam adalah ruang hampa, zona netral tempat kata-kata tidak perlu mempertaruhkan dirinya. Namun, saya keliru. Ternyata, diam bukanlah ruang hampa. Diam adalah sebuah ruangan kedap suara yang menggemakan semua yang tidak terucap hingga memekakkan telinga. Di dalam diam, kekhawatiran tentang keluarga bermetamorfosis menjadi monster bayangan. Di dalam diam, impian yang terkubur membusuk dan meracuni tanah pikiran. Di dalam diam, nyeri di tubuh tidak hilang, ia hanya belajar berteriak tanpa suara.
Diam, yang seharusnya menjadi perisai, justru menjadi belati yang saya genggam dengan gagangnya mengarah ke dada saya sendiri. Semakin erat saya memegangnya, semakin dalam ia menusuk. Setiap kata yang saya telan menjadi bongkahan batu di kerongkongan. Setiap emosi yang saya pendam menjadi racun yang mengalir pelan di pembuluh darah. Saya membangun penjara untuk melindungi orang lain, tetapi sayalah satu-satunya narapidana di dalamnya.
Saya benci pembohong, tetapi setiap helaan napas saya adalah bagian dari kebohongan itu. Saya takut jika saya jujur, semuanya akan berantakan. Gelas kaca hubungan keluarga yang retak mungkin akan pecah berkeping-keping. Menara impian yang rapuh mungkin akan roboh sebelum sempat dibangun. Kesehatan yang terabaikan mungkin akan menagih utangnya dengan bunga yang tak sanggup saya bayar.
Tetapi malam ini, ketika semua lampu padam dan hanya ada saya dan para penghuni di kepala saya, sebuah pertanyaan muncul: jika semuanya sudah terasa seberat ini, bukankah itu artinya semua memang sudah berantakan? Mungkin kejujuran bukanlah badai yang akan menghancurkan segalanya. Mungkin ia adalah hujan deras yang akhirnya turun, membersihkan udara yang menyesakkan, memperlihatkan puing-puing apa adanya, dan memberi kesempatan bagi sesuatu yang baru—sesuatu yang nyata—untuk tumbuh dari tanah yang basah.
Mungkin.
Tapi untuk malam ini, pertunjukan sudah selesai. Tirai sudah ditutup. Saya membiarkan para penghuni itu keluar dari persembunyiannya. Kami duduk bersama dalam senyap, di tengah reruntuhan panggung yang megah. Dan kami menunggu fajar, bertanya-tanya, naskah apa lagi yang harus kami mainkan esok hari.
Komentar
Posting Komentar