Maka, dengarlah ini baik-baik. Di sebuah tikungan jalan yang remang, di kedai kopi yang riuh, atau di kesunyian kamarmu yang paling privat, ada sesuatu yang meronta di dalam dirimu. Sesuatu itu adalah kata-kata. Jangan pernah, jangan sekali-kali, kau penjarakan kata-katamu.
Sebab kata-kata bukanlah sekadar getar di pita suara atau guratan tinta di atas kertas. Kata-kata adalah kehidupan itu sendiri. Ia adalah denyut bagi mereka yang nadinya coba dihentikan. Ia adalah napas bagi mereka yang dadanya coba dihimpit. Memenjarakannya di balik jeruji gigi yang terkatup rapat, atau menguburnya di bawah tanah-tanah ketakutan, adalah sebuah kejahatan—bukan kepada orang lain, tetapi pertama-tama kepada kemanusiaanmu sendiri.
Kau kira diam itu emas? Mungkin. Tapi hanya di negeri dongeng di mana keadilan tak perlu diperjuangkan. Di sini, di hamparan tanah tempat kita menjejakkan kaki, kebisuan di hadapan ketidakadilan adalah karat yang menggerogoti tiang-tiang peradaban. Setiap kali kau memilih bungkam saat melihat hak dirampas, setiap kali kau memalingkan muka saat mendengar jerit yang tak sampai ke telinga para penguasa, kau sedang menandatangani selembar surat tak terlihat. Surat persetujuan. Sebuah persetujuan diam-diam atas lahirnya barisan-barisan baru kesengsaraan kaum termarjinalkan.
Lihatlah mereka. Para petani yang tergusur dari tanah leluhurnya, yang kini menjadi beton-beton asing yang angkuh. Para buruh yang keringatnya dihargai lebih murah dari sebotol minuman soda impor. Para perempuan yang tubuhnya dianggap sekadar objek tanpa suara. Mereka semua adalah bagian dari sebuah opera tragedi yang dirigennya adalah kebisuan kita bersama. Kesunyianmu adalah dinding kedap suara yang meredam tangis mereka. Keacuhanmu adalah panggung yang kau sediakan bagi para penindas untuk menari di atas penderitaan.
Apakah kau pikir dengan diam, hidupmu akan lebih nyaman? Mungkin untuk sesaat. Kau bisa menikmati secangkir kopimu tanpa cemas, tidur nyenyak di malam hari tanpa mimpi buruk. Namun, kenyamanan itu palsu. Itu adalah kenyamanan yang dibangun di atas pondasi penderitaan orang lain. Itu adalah selimut hangat yang ditenun dari benang-benang air mata mereka yang haknya kau biarkan terinjak-injak. Dan perlahan tapi pasti, karat kebisuan itu akan merambat, menggerogoti pagarmu sendiri, hingga suatu hari kau yang menjerit, dan tak ada lagi yang tersisa untuk bersuara untukmu.
Maka jangan tanya apa yang kami inginkan. Ketahuilah, yang kami inginkan bukan tumpukan uang yang berdebu di brankas. Bukan pula kursi jabatan yang empuk namun rapuh. Apalagi sekadar kehormatan semu yang dipoles oleh puja-puji sesaat. Semua itu fana. Semua itu akan lapuk dimakan zaman, menjadi catatan kaki yang terlupakan dalam buku sejarah yang tebal.
Yang kami inginkan jauh lebih purba, jauh lebih hakiki. Kami hanya ingin menjadi generasi yang bisa menatap cermin tanpa harus meludahinya. Generasi yang bermartabat hari ini. Martabat yang lahir dari keberanian mengatakan ‘tidak’ pada ketidakbenaran. Martabat yang tumbuh dari kesediaan untuk berdiri di samping mereka yang dilemahkan, meminjamkan suara kita saat suara mereka coba dibungkam. Martabat untuk menjadi manusia seutuhnya, bukan sekadar sekrup dalam mesin raksasa kekuasaan yang tak punya hati.
Dan lebih dari itu, ada satu keinginan yang menembus batas waktu. Kami ingin menjadi leluhur yang baik untuk anak cucu kami. Sebuah cita-cita yang mungkin terdengar kuno, tetapi justru inilah esensi dari segala perjuangan. Kami tak ingin mewariskan kepada mereka sebuah dunia yang penuh dengan rasa takut untuk berbicara. Kami tak ingin mereka membaca sejarah tentang kita sebagai generasi pengecut yang memilih aman dalam bungkam.
Biarlah kelak mereka bercerita, “Dulu, kakek-nenek kami adalah para pemberani. Mereka mungkin tak punya banyak harta, tapi mereka punya kata-kata. Dan kata-kata itu mereka gunakan untuk membela, untuk melawan, untuk membangun jembatan harapan di atas jurang keputusasaan.” Warisan terbaik bukanlah properti atau gelar, melainkan keberanian yang menginspirasi. Suara kita hari ini adalah dongeng pengantar tidur yang akan mereka ceritakan kepada anak-anak mereka kelak.
Jadi, lepaskan kata-katamu. Biarkan ia terbang seperti merpati, membawa pesan perdamaian bagi yang tertindas dan pekik peringatan bagi yang menindas. Biarkan ia mengalir seperti sungai, membersihkan lumpur-lumpur kebohongan. Karena setiap kata kebenaran yang kau ucapkan adalah sebuah batu bata untuk membangun martabat generasi ini, dan sebuah benih yang kau tanam untuk hutan keberanian di masa depan.
Bicaralah. Sebelum namamu hanyalah sebuah nisan bisu di tanah yang kehilangan suara.
Komentar
Posting Komentar