Seandainya saja, di sebuah sore yang lengang ketika langit berwarna jingga sepuhan, seorang kurir mengetuk pintu dan menyerahkan sebuah bingkisan tebal—bukan surat cinta, bukan pula tagihan utang, melainkan naskah lakon hidupku. Lengkap. Dari adegan pembuka hingga epilog yang belum tertulis tanggalnya. Di tanganku, sebuah pena bertinta merah. Sebuah undangan untuk menjadi sutradara sekaligus editor bagi takdirku sendiri.
Ah, betapa memabukkannya kuasa itu. Jemariku pasti akan gemetar, bukan karena ragu, melainkan karena hasrat yang meluap-luap. Adegan pertama yang akan kucoret tanpa ampun adalah fragmen-fragmen kehilangan. Dialog-dialog perpisahan yang membelah jiwa, monolog sunyi di kamar yang basah oleh air mata—semua akan lenyap. Aku akan merobek halaman di mana nama-nama tertentu terucap dengan nada pengkhianatan, menghapus paragraf yang menceritakan kejatuhan yang memalukan di depan mata keramaian. Panggung ini akan kubersihkan dari para antagonis, dari figuran bermuka dua, dari setiap properti yang menjadi saksi bisu sebuah duka. Aku akan menulis ulang alurnya, menjadikannya sebuah pementasan yang mulus, sebuah komedi romantis tanpa secuil pun tragedi. Tepuk tangan penonton akan selalu riuh, lampu sorot tak akan pernah redup.
Tetapi kemudian, setelah tinta kering dan naskah terasa lebih tipis, aku akan menatap cermin. Siapakah sosok yang balas menatapku dari sana? Ia mungkin tersenyum lebih lebar, kulitnya lebih kencang tanpa guratan cemas, matanya lebih jernih tanpa bayang-bayang masa lalu. Ia tampak utuh, sempurna, seperti patung pualam yang dipahat oleh seniman paling presisi. Namun, di balik keutuhan itu, ada kekosongan yang menganga.
Sebab, jika adegan patah hati itu tak pernah ada, dari mana ia belajar membedakan cinta yang tulus dari sekadar nafsu yang singgah? Tanpa peran pahit seorang kawan yang menikam dari punggung, bagaimana ia bisa mengerti harga sebuah kesetiaan? Jika ia tak pernah terjerembap di lumpur kegagalan, akankah ia tahu betapa nikmatnya udara di puncak setelah pendakian yang terjal dan melelahkan? Sosok di cermin itu adalah aku yang steril. Aku yang tak pernah diuji. Aku yang tak pernah tahu bagaimana rasanya menyembuhkan luka sendiri, menjahit robekan di hati dengan benang kesabaran.
Luka-luka itu, yang begitu ingin kuhapus, diam-diam adalah guru paling bisu sekaligus paling fasih. Mereka tidak mengajar di ruang kelas berpendingin udara. Mereka mengajar di lorong-lorong sepi, di tengah malam buta, melalui bahasa sunyi yang hanya dimengerti oleh jiwa yang remuk. Mereka mengajari cara bertahan justru ketika satu-satunya pilihan adalah menyerah. Mereka mengajari cara menemukan secercah cahaya di dalam terowongan yang paling gelap. Tanpa retakan-retakan itu, aku hanyalah sebuah bejana yang indah namun tak pernah tahu kapasitasnya.
Ini memang berat. Mengakui bahwa setiap sayatan, setiap memar, adalah bagian tak terpisahkan dari mozaik yang membentuk diriku. Ada kalanya aku masih ingin berteriak pada sutradara agung di atas sana, memprotes alur cerita yang terasa begitu kejam. Ada kalanya aku masih ingin melempar naskah ini ke dalam api.
Namun, aku tetap di sini. Berdiri di atas panggung yang kadang megah, kadang compang-camping. Aku ingin mengenal diriku yang ini—diriku yang tumbuh dari retakan-retakan itu. Diriku yang belajar berdiri dengan kaki yang pernah pincang, yang belajar percaya lagi dengan hati yang pernah hancur lebur. Sebab di sanalah, di antara puing-puing adegan yang tak sanggup kuterima, aku justru menemukan alasan paling hakiki dari keberadaanku. Bahwa aku bukan sekadar peran yang memainkan naskah. Aku adalah naskah itu sendiri, yang ditulis dengan tinta yang terbuat dari campuran tawa, air mata, dan darah. Dan naskah ini, dengan segala coretan dan halamannya yang kusut, tak akan pernah ingin kutukar.
Komentar
Posting Komentar