Dunia selalu menuntut yang riuh. Panggung-panggung dibangun untuk mereka yang paling gemerlap, sorak-sorai ditujukan bagi mereka yang paling lantang bersuara, dan mata kita dilatih untuk mencari yang paling rumit, yang paling berbunga-bunga. Kita diajari bahwa keindahan adalah soal lapisan, soal kerumitan yang butuh waktu untuk diurai. Lalu, kau datang. Dan kau membantah semuanya tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Kau adalah antitesis dari segala kebisingan itu. Kau begitu sederhana.
Aku mencoba mencari kata yang tepat untuk mendefinisikan caramu tersenyum. Itu bukan senyum yang mekar seperti mawar di pagi hari, bukan pula senyum yang dirancang untuk memenangkan hati banyak orang. Senyummu adalah urusan yang selesai bahkan sebelum benar-benar dimulai; sebuah lengkung tipis di bibir, sebuah koma dalam kalimat panjang kehidupan yang seolah berkata, "mari berhenti sejenak." Tak ada pretensi, tak ada undangan berlebihan. Hanya sebuah pengakuan hening bahwa ada sesuatu yang patut disyukuri di antara dua tarikan napas. Dan kesederhanaan itu, entah bagaimana, terasa lebih jujur daripada semua tawa lebar yang pernah kutemui.
Lalu ada caramu berbicara. Kata-katamu tidak meluap-luap seperti banjir bandang yang menyeret apa saja. Kalimatmu adalah aliran sungai kecil yang jernih, mengalir tenang tetapi selalu sampai ke muaranya. Kau memilih diksi bukan untuk memamerkan perbendaharaan, melainkan untuk menyampaikan makna seakurat mungkin. Tidak ada kiasan yang berlebihan, tidak ada metafora yang dipaksakan. Suaramu tidak meninggi untuk merebut perhatian; ia hanya ada, dan justru dalam keberadaannya yang tak menuntut itulah, semua orang di sekitarmu memilih untuk diam dan mendengarkan Kesederhanaan dalam tuturanmu adalah sebuah keanggunan yang langka.
Pun begitu caramu berbusana. Kau seakan tidak peduli dengan warna apa yang sedang menjadi tren atau potongan apa yang sedang digandrungi. Kau mengenakan warna-warna bumi, kain-kain yang jatuh mengikuti gerak tubuhmu tanpa perlawanan. Pakaianmu tidak pernah berteriak lebih kencang dari kepribadianmu. Ia hanya selubung, pembungkus yang wajar untuk jiwa yang jauh lebih penting. Di tengah dunia yang menjadikan busana sebagai pernyataan identitas yang paling nyaring, kau memilih diam. Kau memilih menjadi kanvas kosong, membiarkan dirimu sendiri yang menjadi lukisan.
Segalanya tentangmu di permukaan adalah proklamasi tentang kesederhanaan. Senyummu, bicaramu, busanamu—semuanya adalah not-not sunyi dalam sebuah simfoni yang hingar-bingar. Aku bisa saja berhenti di sana, mengagumimu sebagai sebuah anomali yang menenangkan.
Tapi ada binar mata yang tidak pernah sederhana.
Ah, matamu. Di sanalah seluruh dalil tentang kesederhanaanmu runtuh berkeping-keping. Jika seluruh dirimu adalah padang rumput yang tenang, maka matamu adalah sepasang mercusuar yang menyorotkan cahaya ke kedalaman samudra paling gelap. Di sana, di dalam bola mata berwarna jelaga itu, aku melihat semesta yang bergolak. Aku menemukan narasi-narasi yang tak terucap, pertanyaan-pertanyaan filosofis yang tak butuh jawaban, dan sebuah pemahaman tentang dunia yang melampaui usia. Binar itu bukan cahaya pantulan lampu. Itu adalah api yang menyala dari dalam, api dari perpustakaan sunyi yang terus menambah koleksi bukunya setiap kali kau berkedip.
Dan api itu mewujud dalam dua hal lain yang membuatku takluk.
Pertama, caramu memperlakukan orang lain. Kau melihat manusia bukan sebagai fungsi atau status. Kau melihat mereka sebagai sebuah cerita. Kepada seorang pramusaji, kau memberi senyum yang sama tulusnya seperti kepada seorang pejabat. Kau mendengarkan keluh kesah seorang teman bukan untuk segera memberi solusi, melainkan untuk menyediakan ruang agar ia merasa aman. Ada keistimewaan dalam caramu memberi martabat pada setiap orang yang kau temui, seolah kau tahu persis letak kerapuhan mereka dan memilih untuk menjaganya, bukan memanfaatkannya. Itu bukan kebaikan yang naif. Itu adalah kearifan yang lahir dari pemahaman mendalam tentang luka.
Kedua, apa yang keluar dari isi kepalamu. Pikiranmu. Di balik tutur katamu yang sederhana, tersimpan gagasan-gagasan yang berkelindan rumit namun indah. Kau bisa bicara tentang retak di cangkir kopi dengan cara yang membuatku berpikir tentang ketidaksempurnaan alam semesta. Kau bisa mengomentari awan yang bergerak lambat dan menghubungkannya dengan konsep keikhlasan. Kau menata ulang dunia di hadapanku dengan kalimat-kalimat yang tak pernah kuduga. Kau menunjukkan bahwa wawasan tidak harus diteriakkan dari atas mimbar; ia bisa dibisikkan dalam sebuah percakapan sore hari, dan dampaknya justru lebih dahsyat.
Aku merangkum banyak sekali tenang dalam dirimu. Di dekatmu, kebisingan dunia terasa jauh. Kegelisahan terasa konyol. Kau adalah personifikasi dari kata "teduh". Dan dalam keteduhan itu, aku mencari-cari celah, satu saja kekurangan, satu saja hal buruk yang mungkin luput dari mataku. Aku tidak menemukannya. Bukan karena kau sempurna seperti dewi tanpa cacat. Mungkin saja ada retak di sana-sini. Namun, bahkan jika ada, retak itu tampak seperti bagian dari sebuah desain agung yang sengaja dibuat demikian.
Maka, di hadapan kesederhanaan yang menyimpan semesta, di hadapan keheningan yang berbicara lebih nyaring dari badai, aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa melawannya.
Aku jatuh.
Aku jatuh cinta.
Komentar
Posting Komentar