Tulungagung. Malam ini ia basah. Lampu-lampu jalanan mencair di atas aspal yang lebam, menjadi sungai-sungai neon yang mengalir tanpa muara. Dari balik jendela kafe yang berembun, di antara kepul asap rokok dan aroma kopi yang hampir basi, terkadang aku ingin menjadi Tuhan. Atau setidaknya, seorang penulis.
Aku ingin memegang pena, bukan untuk menulis cerita di atas kertas kosong, melainkan untuk menyunting kenyataan itu sendiri. Aku ingin mencoret paragraf-paragraf yang kelam, menghapus dialog-dialog yang melukai, dan mengganti setiap adegan tangis dengan tawa yang paling renyah sekalipun. Aku ingin menarik keluar setiap tokoh dari alur cerita yang menyesakkan dada mereka; lelaki tua yang menjual tisu di pinggir perempatan jalan itu, misalnya, akan kutuliskan sebuah rumah hangat dengan secangkir teh di halaman belakang. Pasangan kekasih yang bertengkar di seberang jalan, akan kuberikan naskah baru berisi kalimat-kalimat rindu, bukan caci maki. Sirene ambulans yang meraung-raung di kejauhan sana, akan kuganti nadanya menjadi melodi pengantar tidur.
Terkadang, aku ingin dunia ini menjadi fiksi. Sebuah fiksi yang bisa kurombak sesuka hati. Sebuah kota di mana hujan turun bukan untuk mengiringi perpisahan, melainkan untuk menumbuhkan bunga di setiap retak trotoar. Sebuah negeri di mana berita pagi tidak pernah berisi angka-angka korban, melainkan hanya puisi-puisi tentang fajar. Aku ingin menjadi penulisnya, penulis tunggal atas naskah raksasa yang bernama kenyataan ini, dengan pena yang tintanya mampu mengubah deru mesin menjadi senandung, mengubah klakson yang memekakkan telinga menjadi alunan harpa surgawi. Dunia tanpa kesedihan. Itulah mahakarya yang ingin kubuat.
Namun penaku hanya berisi tinta biasa. Goresannya tak pernah mampu menembus kaca jendela ini. Lelaki tua itu masih di sana, gemetar menahan dingin. Pasangan itu akhirnya bubar, yang satu berjalan ke utara, yang lain ke selatan, meninggalkan ruang hampa di antara mereka. Dan sirene itu, suaranya semakin dekat, semakin memilukan, merobek suasana malam yang sedang berduka.
Lalu aku tersadar. Mungkin aku tak perlu menjadi penulis. Mungkin aku hanya perlu menjadi pembaca yang lebih baik.
Aku sadar, untuk tidak memandang kenyataan sebagai draf fiksi yang gagal. Karena tulisan Tuhan jauh lebih indah, jauh lebih rumit, jauh lebih agung dari apa pun yang sanggup kubayangkan. Naskah-Nya bukanlah cerita picisan dengan akhir bahagia yang dipaksakan. Ini adalah sebuah epik, dengan jutaan alur, triliunan karakter, dan subplot yang saling berkelindan dalam kerumitan yang menakjubkan. Dalam naskah agung ini, kesedihan bukanlah sebuah kesalahan ketik. Ia adalah tanda baca. Koma yang memberi jeda untuk bernapas, titik yang memberi makna pada sebuah akhir, atau mungkin elipsis yang menandakan harapan yang belum usai.
Siapakah aku yang lancang ingin menghapus tanda baca itu? Siapakah aku yang congkak ingin meluruskan setiap kalimat yang terasa bengkok? Tanpa jeda, bagaimana napas bisa terasa lega? Tanpa akhir, bagaimana sebuah permulaan baru bisa terasa begitu berharga?
Dan yang membuat semua hal menjadi sedih, pada akhirnya, bukanlah alur ceritanya. Yang membuat semua ini terasa getir adalah manusia itu sendiri. Kitalah para pembaca yang buruk itu.
Hujan, ia tidak pernah sedih. Ia hanya air yang jatuh dari langit, menjalankan takdir gravitasinya. Manusialah yang menitipkan kenangan tentang kepergian pada setiap rintiknya, hingga hujan terasa begitu menyayat. Senja, ia tidak pernah melankolis. Ia hanya pergeseran cahaya, fisika optik yang menakjubkan. Manusialah yang menganggap warnanya yang jingga sebagai pertanda usai, sebagai simbol kerinduan pada sesuatu yang segera hilang. Waktu, ia tidak pernah kejam. Ia hanya detak yang konsisten dan abadi. Manusialah yang memberinya label "terlambat" atau "terlalu cepat", yang mengutuknya karena mencuri masa muda.
Karena kitalah yang menganggap suatu hal memiliki nilai sedih dan sebagainya. Kita memberi nama pada kehampaan, kita memberi bobot pada kehilangan, kita melukis wajah duka pada setiap peristiwa yang tidak sesuai dengan fiksi dangkal di kepala kita. Kita adalah para kritikus sastra yang sombong, yang menilai sebuah karya agung hanya dari satu bab yang tak kita sukai, lalu berteriak-teriak meminta revisi.
Malam semakin larut. Hujan mulai reda, menyisakan bau tanah dan aspal yang khas. Aku memandang lagi ke luar jendela. Ke jalanan yang sama, ke kota yang sama. Tak ada yang berubah. Lelaki tua itu sudah tak ada, mungkin sudah menemukan tempat berteduh. Jalanan lengang, menyisakan kilau basah yang memantulkan sisa-sisa lampu kota.
Aku tak lagi ingin menjadi penulisnya. Aku hanya ingin terus membaca. Membaca setiap detailnya, setiap karakternya, setiap koma dan titiknya. Aku tidak akan lagi memandang kenyataan ini sebagai fiksi. Karena tulisan Tuhan jauh lebih indah. Aku hanya pembaca. Dan di antara gemuruh klakson yang menjauh dan sisa rintik hujan di kaca, aku sadar, ini adalah bacaan yang paling indah.
Komentar
Posting Komentar