Orang-orang bicara tentang cinta seolah ia adalah udara. Sesuatu yang bebas dihirup, sesuatu yang bisa ditemukan di sudut kafe remang-remang, di antara baris-baris sajak, atau dalam tatapan mata yang tak sengaja bertemu di gerbong kereta yang melaju menembus senja. Mereka meracik definisinya dengan kata-kata muluk: pengorbanan, keabadian, penyatuan dua jiwa. Cinta, kata mereka, adalah revolusi sunyi yang bisa meruntuhkan rezim paling lalim sekalipun.
Itu bohong. Bohong besar. Atau setidaknya, itu adalah kemewahan yang hanya bisa dibicarakan oleh perut-perut yang sudah terisi, oleh lambung yang tak pernah menjeritkan protesnya. Sebab sebelum segala fantasi tentang penyatuan jiwa dan debar di dada, ada realitas yang lebih purba, lebih jujur, dan lebih brutal: lapar. Dan cinta, ketika dihadapkan pada realitas absolut bernama lapar, akan menjelma menjadi sesuatu yang lain. Ia menjadi anarkis.
Anarki bukanlah kekacauan tanpa tujuan. Anarki adalah penolakan terhadap struktur, hukum, dan tatanan yang dianggap menindas. Dan bagi tubuh, tidak ada tirani yang lebih absolut daripada perut yang kosong. Ia adalah diktator yang tak kenal negosiasi. Asam lambung yang naik adalah dekritnya, usus yang melilit adalah tentaranya, dan kepala yang pening adalah proklamasi kemenangannya. Dalam rezim tirani ini, semua hal lain menjadi tidak relevan. Konstitusi moral, undang-undang etika, bahkan proklamasi cinta yang paling agung sekalipun, semuanya dibungkam oleh satu suara tunggal yang menggeram dari dalam: lapar.
Maka, bayangkanlah sepasang kekasih yang mencoba merajut romansa di tengah derita ini. Lelaki itu membisikkan janji tentang bintang-bintang, sementara perutnya sendiri sedang mencerna ketiadaan. Perempuan itu tersenyum mendengar puisi, sementara matanya berkunang-kunang menahan hipoglikemia. Apa arti sebuah kecupan di bibir pucat yang kering karena dehidrasi? Apa makna sebuah pelukan hangat pada tubuh yang gemetar menahan dingin karena kekurangan kalori? Itu bukan lagi cinta. Itu adalah teater absurd, sebuah pertunjukan tragikomedi di mana dua orang berpura-pura menjadi manusia utuh, padahal insting hewani mereka sedang mengambil alih.
Di sinilah anarki itu dimulai. Cinta yang seharusnya membangun, kini menjadi alat untuk bertahan hidup. Kesetiaan menjadi barang tawar-menawar. Kejujuran menjadi konsep yang bisa dinegosiasikan dengan sebungkus nasi. Seseorang bisa menjual tubuhnya atas nama cinta, padahal yang ia layani sesungguhnya adalah tirani perutnya. Seseorang bisa menipu kekasihnya atas nama cinta, padahal yang ia tuju hanyalah kepastian makan malam ini. Tidak ada benar atau salah dalam kamus ini. Yang ada hanyalah hidup atau mati, kenyang atau lapar. Hukum rimba mengambil alih, dan cinta tak lebih dari fatamorgana indah di tengah gurun penderitaan.
Orang sering keliru menempatkan pusat semesta manusia. Mereka pikir letaknya di hati, atau mungkin di otak. Tidak. Pusat semesta manusia yang paling elementer terletak pada jengkal perutnya. Dari sanalah energi dipompa, dari sanalah kehidupan dipertahankan. Sebelum seseorang bisa berfantasi liar tentang jengkal selangkangan—simbol hasrat, reproduksi, dan kelanjutan cinta—ia harus lebih dulu menaklukkan persoalan jengkal perutnya sendiri. Karena hasrat pun membutuhkan energi, dan energi datang dari makanan. Tanpa itu, hasrat hanyalah ilusi, gema kosong dari tubuh yang sekarat.
Perut yang kosong tak mampu mengenali makna cinta. Ia tak punya kapasitas untuk memahami kerinduan, cemburu, atau pengorbanan. Baginya, cinta adalah sinonim dari makanan. Wajah kekasih bisa jadi terproyeksi sebagai sepotong roti. Pelukannya bisa jadi terasa seperti semangkuk sup hangat. Otak yang kekurangan glukosa tak akan sanggup memproses filsafat cinta yang rumit; ia hanya bisa memproses satu perintah: cari makan, dengan cara apa pun. Inilah anarkisme paling murni, di mana individu melakukan segala cara untuk meruntuhkan satu-satunya penindas yang nyata baginya: rasa lapar.
Maka, sebelum kita terlalu jauh melambungkan cinta ke langit ketujuh, ada baiknya kita memijakkan kaki kembali ke bumi. Ke realitas paling dasar dari eksistensi kita. Isilah dulu piring-piring yang kosong. Penuhilah lumbung-lumbung yang merintih. Karena cinta, sajak-sajak, dan janji-janji untuk bertemu di bawah rembulan, adalah percakapan orang-orang merdeka. Merdeka dari tirani perutnya sendiri. Sebab cinta dalam keadaan lapar bukanlah revolusi. Ia adalah anarki. Ia adalah perjuangan paling brutal untuk sekadar tetap ada.
Komentar
Posting Komentar