Langsung ke konten utama

Jeda, Spasi, dan Kita

Lihatlah baris-baris kalimat ini. Rangkaian abjad mati yang kau baca dalam sunyi. Seindah apa pun tiap hurufnya terukir—dengan lengkung yang puitis atau garis yang tegas—dapatkah ia menyampaikan makna apabila tak ada jeda? Dapatkah seluruh paragraf ini kau selami artinya jika tak ada spasi yang memisahkan satu kata dari kata lainnya? Tentu tidak. Kata akan tumpang tindih menjadi kebisingan visual yang absurd, gumpalan tinta tanpa pesan. Makna justru lahir dari kekosongan di antara aksara.

Dan begitulah kita, bukan? Aku dan kau. Dua entitas yang seringkali mabuk oleh gagasan romantis picisan bahwa cinta adalah leburan total dua menjadi satu. Dongeng-dongeng mengajarkan kita untuk mencari "separuh jiwa", seolah-akan kita terlahir sebagai makhluk yang timpang dan tak utuh. Maka atas nama kasih sayang, kita berusaha merapatkan diri, menghapus segala jarak, meniadakan semua ruang, hingga lupa caranya bernapas dengan paru-paru milik sendiri.

Kasih sayang yang sejati, aku percaya, tidaklah begitu. Ia tak pernah ingin mencekik. Ia tak pernah meminta jantungmu berdetak untuk dua tubuh sekaligus. Darah harus mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah untuk kemudian ditambal dengan jiwa orang lain, tapi ia bersua—sebuah pertemuan agung antara dua keutuhan yang bergetar dalam frekuensi yang sama, yang memilih berjalan searah.

Maka, jangan pernah lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan cinta. Aku ngeri pada cinta yang menjelma sangkar emas, yang memenjarakan dengan dalih perlindungan. Aku takut pada kasih yang menjadi belenggu, yang membatasi gerak dengan dalih kedekatan. Bukankah kita baru benar-benar bisa bergerak jika ada jarak? Sebuah langkah memerlukan ruang kosong di depannya untuk dijejak. Sebuah tarian menuntut adanya panggung yang lapang agar dua penari bisa berputar tanpa saling menjatuhkan. Jarak bukanlah ancaman, ia adalah syarat dari sebuah gerak, sebuah dinamika. Tanpanya, kita hanya patung bisu yang diam dan terpaku.

Maka, kasih, ulurlah tali itu. Anggaplah aku layang-layang dan kau adalah pemegangnya. Kau tahu aku akan selalu terhubung padamu lewat benang tipis namun kuat itu. Tapi biarkan aku menari di angkasa, menyapa angin, dan melihat cakrawala dari ketinggian. Jika kau menariknya terlalu kencang, benang itu akan putus. Jika kau tak memberinya ruang untuk terbang, ia hanya akan tersangkut di ranting pohon terdekat. Kasih sayang kita adalah tali itu: sebuah ikatan yang memberi kebebasan, bukan yang membelit. Saling menyayang baru terasa nikmatnya bila ada ruang untuk rindu. Dan rindu, bukankah ia anak kandung dari jarak?

Mari kita berkelana. Rapat, tapi tak pernah dibebat. Berdampingan, merasakan hangat bahu satu sama lain, tapi tak saling mendorong atau menyeret. Janganlah kita saling membendung aliran sungai masing-masing. Sebab sungai yang dibendung hanya akan meluap, merusak tepian, dan akhirnya tersandung oleh bendungannya sendiri. Biarkan aku menjadi sungai dengan arusnya, dan kau menjadi sungai dengan jerammu. Toh, kedua sungai kita sama-sama bermuara ke samudra kerinduan yang satu.

Di penghujung renungan ini, aku hanya ingin mengatakan satu hal. Pegang tanganku. Rasakan bagaimana jari-jemariku membalas genggamanmu, mencari kehangatan di sana. Tapi jangan terlalu erat. Jangan sampai buku-buku jariku memutih karena tekananmu. Karena aku ingin berjalan seiring, bukan digiring. Digiring adalah untuk ternak yang tak tahu arah. Seiring adalah untuk dua pejalan yang saling menghormati peta perjalanan masing-masing, namun memilih untuk menempuh badai dan menikmati senja di jalur yang sama. Kita adalah dua sajak utuh yang memilih untuk dibaca dalam satu halaman yang sama, dipisahkan oleh spasi agar lebih bermakna, diberi jeda agar napas kita tak saling mendesak.

Komentar