Langsung ke konten utama

Sang Maestro Absurditas

Maka aku tepuk tangan.

Bukan, jangan salah sangka. Tepuk tangan ini bukan lahir dari rahim kekaguman. Sama sekali bukan. Tidak ada decak kagum yang bergetar di telapak tanganku, tidak ada rasa hormat yang mengalir deras di pembuluh darahku. Ini adalah tepuk tangan yang berbeda. Tepuk tangan yang lahir dari kesadaran penuh atas sebuah pertunjukan akbar. Sebuah perayaan.

Perayaan untuk absurditas.

Lihatlah dia di atas panggung itu. Berdiri di bawah sorot lampu yang membutakan. Jasnya mahal, potongannya sempurna, seolah dijahit untuk menyembunyikan setiap cacat yang mungkin ada. Senyumnya. Oh, senyumnya adalah sebuah mahakarya. Terlatih di depan cermin ribuan kali, dikalibrasi untuk kadar kehangatan yang pas, untuk tingkat ketulusan yang paling meyakinkan. Setiap jeda dalam kalimatnya adalah sebuah kalkulasi. Setiap gerak tangannya adalah sebuah koreografi. Dia adalah seorang maestro.

Dan dia bicara. Tentu saja dia bicara. Kata-kata mengalir dari bibirnya seperti sungai madu di negeri dongeng. Kata-kata tentang harapan, tentang masa depan yang gemilang, tentang pengorbanan yang tak akan sia-sia. Kata-kata yang dirangkai menjadi melodi indah, sebuah orkestra janji yang membuai telinga siapa pun yang mendengarnya. Penonton di sekitarku terhanyut. Mereka mengangguk. Mereka tersenyum. Sebagian bahkan meneteskan air mata haru. Mereka menelan setiap kata itu bulat-bulat, tanpa dikunyah, tanpa dirasa.

Aku? Aku tepuk tangan. Karena di balik semua kemegahan itu, aku melihat kanvas yang sesungguhnya. Dan di atas kanvas itu, sang maestro sedang melukis dengan lincahnya.

Bukankah kita semua seniman?

Kita semua adalah pelukis ulung. Kita bangun di pagi hari dan sapuan kuas pertama adalah senyum yang kita pasang untuk dunia, menutupi mendung yang mungkin menggelayut di dalam kepala. Kita bertemu rekan kerja dan melukis gambar efisiensi dan semangat, menyembunyikan kelelahan dan rasa muak yang sudah di ubun-ubun. Di media sosial, kita adalah Rembrandt dan van Gogh sekaligus, memoles potret diri dengan filter-filter cerah, memilih palet warna yang paling bahagia, memamerkan lanskap kehidupan yang telah kita kurasi dengan saksama. Kebohongan? Mungkin itu kata yang terlalu kasar. Mungkin ini hanyalah seni bertahan hidup.

Sang maestro di panggung itu hanya melakukannya dalam skala yang lebih besar. Kanvasnya adalah bangsa. Catnya adalah retorika. Kuasnya adalah media massa. Ia melukis kebohongan, ya, tapi ia melukisnya dengan warna-warna paling terang. Warna-warna harapan, warna-warna persatuan, warna-warna kemakmuran. Begitu terang, begitu menyilaukan, hingga tak ada yang sempat bertanya, apa sebenarnya yang ada di balik lapisan cat tebal itu? Apa yang terjadi jika kita menggores sedikit saja permukaan lukisan indah itu? Mungkin kita akan menemukan kayu yang lapuk, paku yang berkarat, atau bahkan kekosongan yang menganga.

Tapi siapa yang peduli? Pertunjukannya terlalu indah untuk diinterupsi. Melodinya terlalu merdu untuk diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan sumbang. Maka, koor tepuk tangan pun membahana. Sebagian besar tulus, lahir dari kekaguman pada lukisan itu. Mereka percaya pada keindahannya. Mereka ingin percaya.

Tepuk tanganku berbeda. Tepuk tanganku adalah untuk sang pelukis, bukan lukisannya. Aku bertepuk tangan untuk keberaniannya memegang kuas sebesar itu. Untuk kecermatannya memilih warna. Untuk ketenangannya saat mencampur kebenaran dan kepalsuan hingga tak bisa lagi dibedakan. Ini adalah sebuah pengakuan. Pengakuan atas sebuah keterampilan tingkat dewa dalam sebuah lakon yang kita semua, sadar atau tidak, ikut mainkan setiap hari.

Absurditasnya justru terletak di sana. Kita hidup dalam sebuah galeri raksasa yang memajang lukisan-lukisan kebohongan kita masing-masing. Namun, kita berdecak kagum pada lukisan terbesar dan paling berkilau di tengah ruangan, seolah-olah lukisan itu berbeda dari lukisan-lukisan kecil yang kita gantung di dinding kita sendiri. Kita mengutuk sang maestro, sambil diam-diam mengagumi tekniknya, barangkali berharap suatu hari bisa melukis seindah dirinya.

Maka, biarlah mereka bertepuk tangan karena kagum. Biarlah mereka larut dalam keindahan semu yang ditawarkan. Aku akan tetap di sini, di kursiku, bertepuk tangan dengan alasan yang paling jujur.

Bukan untuk kebenarannya. Bukan untuk ketulusannya.

Aku tepuk tangan, karena absurditas ini begitu agung, begitu teatrikal, begitu nyata, sehingga tidak merayakannya adalah sebuah dosa. Ini adalah tepuk tangan untuk sebuah seni pertunjukan paling kolosal: peradaban itu sendiri. Dan sang maestro di atas panggung itu? Dia hanyalah seniman terbaik di antara kita semua.

Komentar