Dengarlah, dengarlah bisik syukurku ini. Ia tidak lahir dari puji-pujian atas kemenangan yang gemilang, tidak pula dari riuh tepuk tangan atas pencapaian yang terpajang. Tidak. Syukurku ini merambat sunyi dari balik pintu-pintu yang terkunci, dari abu rencana-rencana yang hangus terbakar, dari stasiun-stasiun di mana kereta kesempatan telah lama berlalu tanpa pernah aku menaikinya. Aku telah belajar, setelah sekian lama meninju dinding dan mengutuki nasib, bahwa semesta memiliki tata bahasanya sendiri yang tak selalu bisa kumengerti saat itu juga.
Aku bersyukur untuk setiap derit engsel yang menutup sebuah kemungkinan di depan wajahku. Dulu, kudengar itu sebagai suara penolakan, sebagai gema kegagalan yang memantul di lorong-lorong jiwaku yang kosong. Kini, aku mendengarnya sebagai melodi perlindungan. Di balik pintu kayu yang tak jadi kubuka itu, mungkin ada jurang menganga, ada serigala yang lapar, atau ada ruang hampa yang akan menyedot habis sisa cahayaku. Aku tidak tahu, dan selamanya tidak akan pernah tahu. Justru dalam ketidaktahuan itulah iman menemukan napasnya. Aku percaya, sebuah tangan tak terlihat telah menahan kenop pintu itu untukku, membisikkan, "Bukan yang ini. Belum saatnya." Sebagian yang tak terjadi bukanlah kehilangan; ia adalah arsitektur takdir yang sedang bekerja dalam senyap, melindungiku dari reruntuhan yang tak kulihat.
Aku bersyukur untuk peta-peta yang terlipat rapi dalam laci angan, yang kini tak lebih dari sekadar kertas usang. Rencana-rencana itu—begitu teliti kurancang, dengan setiap kelokan dan pemberhentian yang telah kuperhitungkan—ternyata hanyalah sketsa fana. Ketika jalan yang kuanggap lurus tiba-tiba longsor dan memaksaku berbalik arah, aku merasa tersesat. Aku menganggapnya sebagai pengalihan yang kejam, sebuah deviasi dari tujuan agung yang telah kutetapkan. Namun, di jalan memutar yang tak terduga itulah aku menemukan pemandangan yang tak pernah ada dalam petaku. Aku bertemu wajah-wajah baru, menghirup udara yang berbeda, dan menemukan potongan diriku yang takkan pernah kutemui di jalan tol yang mulus itu.
Kegagalan dalam rencana telah menciptakan sesuatu yang jauh lebih berharga: ruang. Ruang untuk bernapas. Ruang untuk improvisasi. Ruang bagi sesuatu yang jauh lebih selaras untuk menyelinap masuk ke dalam hidupku, tanpa perlu kurencanakan, tanpa perlu kupaksakan. Seperti tanah yang dibiarkan bero setelah panen, kekosongan yang ditinggalkan oleh rencana yang remuk redam justru menjadi lahan paling subur bagi benih-benih kejutan untuk bertunas.
Maka, aku menengadah ke langit malam yang sama, langit yang telah mendengar jutaan doaku yang seolah tak berjawab. Setiap pinta yang tak terkabul, setiap jalan sunyi yang nampak menyimpang, setiap penundaan yang menguji kesabaran, setiap kesalahan yang membekaskan luka, setiap kegagalan yang meremukkan ego—semuanya bukan titik, melainkan koma dalam sebuah kalimat panjang yang sedang dituliskan untukku. Mereka adalah orkestrasi sunyi yang setiap notnya, meski terdengar sumbang pada masanya, ternyata sedang menggiringku menuju sebuah komposisi yang utuh, menuju apa yang memang ditakdirkan untukku.
Aku tidak perlu lagi memusingkan semuanya, mencoba menyusun kepingan-kepingan puzzle dalam gelap. Jalan itu terbentang seiring langkah, bukan terhampar sekaligus di depan mata. Satu-satunya tugasku, ternyata, jauh lebih sederhana dari yang pernah kubayangkan: percaya.
Maka, biarkan aku bernapas. Biarkan aku menyesap kopi pagiku dengan lebih tenang, merasakan hangatnya merayap dalam darah tanpa tergesa oleh agenda. Biarkan aku merenung lebih damai, menatap gerimis di jendela tanpa merasa dikejar oleh waktu. Biarkan aku dengan caraku, dengan ritmeku sendiri. Alam semesta tidak pernah berlari terengah-engah untuk mengejar fajar, ia berputar dalam temponya yang abadi. Aku pun seharusnya tidak perlu terburu-buru.
Sebab pada akhirnya, aku memegang teguh keyakinan ini: apa yang memang harus melewatiku, entah itu cinta, pekerjaan, atau sekadar senja di pantai, kepergiannya tidak akan pernah sia-sia. Ia lewat untuk memberiku pelajaran, untuk melapangkan jalan. Dan apa yang ditakdirkan menetap untukku, ia tidak akan pernah benar-benar berlalu, bahkan jika aku mencoba untuk lari darinya. Ia akan menemukan jalannya kembali, dalam bentuk yang paling tepat, pada waktu yang paling sempurna.
Tugasku hanyalah berdiri di sini. Dan bernapas.
Komentar
Posting Komentar