Langsung ke konten utama

Perihal Menemukanmu, Tanpa Sebuah Alasan

​Jika nanti, di suatu pagi yang hening atau di antara riuh senja yang memerah, aku memberanikan diri mengatakan bahwa aku menyukaimu, tolong jangan pernah bertanya kenapa. Sungguh, jangan. Sebab, jika kau tanyakan itu, aku akan serupa daun kering yang gugur, gamang dan kebingungan mencari arah angin. Aku akan terdiam, menatap matamu dengan jawaban yang tak pernah ada di bibirku. Aku akan kesulitan merangkai kata, sebab perasaan ini tidak lahir dari barisan aksara yang terencana.

​Percayalah, semua ini tidak dalam kendaliku. Ia datang tanpa permisi, serupa gerimis yang tiba-tiba menitik dari langit yang semula terang. Rasanya seperti muncul begitu saja, terbilang tiba-tiba, dan memang—memang kamu orangnya. Tidak ada almanak yang menandai harinya, tidak ada pertanda yang mendahuluinya. Suatu waktu, aku hanya menatapmu, mungkin saat kau tertawa lepas atau saat kau terdiam menatap jendela, dan saat itulah aku tahu, ada sesuatu yang berdetak berbeda di dalam diriku. Perasaan ini, serupa hujan yang turun ke bumi; ia hanya menjalankan takdirnya untuk jatuh. Dan aku, aku tidak bisa memaksanya berhenti, sama seperti aku tak bisa meminta awan menahan airnya.

​Lalu, jika nanti aku mengatakan bahwa aku memilihmu, di antara jutaan wajah yang berlalu lalang dalam hidupku, tolong jangan pernah bertanya kenapa harus kamu orangnya. Sebab, lagi-lagi, aku tidak akan tahu harus menjawab apa. Ini bukan perkara memilih jalan di persimpangan yang sudah tergambar di peta. Tidak ada pertimbangan untung-rugi, tidak ada daftar kelebihan dan kekurangan yang aku centang satu per satu.

​Memilihmu bukanlah sebuah kesimpulan logis dari premis-premis yang panjang. Ini semua benar-benar tidak ada dalam rencana. Aku tidak pernah mencarimu, namun semesta seolah menuntunku kepadamu dengan cara yang paling sederhana. Mungkin melalui secangkir kopi yang kita minum di kedai yang sama, atau melalui buku yang tak sengaja kita bicarakan. Tiba-tiba saja, di tengah ketiadaan rencana itu, aku sadar: aku mau. Aku mau berjalan bersamamu, entah ke mana pun arahnya. Dan sekali lagi, memang hanya kamu orangnya. Kehendak ini tumbuh begitu saja, kuat dan tak terbantahkan, seperti akar pohon yang diam-diam menembus tanah, mencari sumber airnya sendiri tanpa perlu bertanya. ​Dan puncaknya, jika nanti, dengan segenap kerendahan hati dan keberanian yang ku kumpulkan, aku mengatakan bahwa kamu sempurna, maka ketahuilah, itu bukan bualan, bukan pula rayuan seorang penyair. Itu adalah kebenaran paling sunyi yang bersemayam di hatiku. Aku ingin kamu mengerti bahwa segala apa yang ada padamu—caramu berbicara, kerutan kecil di sudut matamu saat tersenyum, bahkan diammu yang penuh makna—adalah lebih dari cukup.

​Mungkin kau akan menolaknya, mungkin kau akan berkata bahwa kau punya banyak sekali kekurangan. Mungkin kau merasa dirimu biasa-biasa saja, seperti jutaan orang lainnya di dunia ini. Tapi bagiku, kau tetap luar biasa dengan apa adanya dirimu. Segala yang kau sebut sebagai kekurangan, bagiku adalah bagian dari sajak yang utuh tentangmu. Segala yang kau anggap biasa, bagiku adalah keajaiban kecil yang membuat hariku terasa berbeda. Maka, jangan pernah bilang aku berlebihan. Bagiku, kau memang pantas menerima seluruh kekaguman ini. Kau pantas, dan memang kamu orangnya.

​Pada akhirnya, kau akan mengerti. Aku tidak punya alasan apa-apa. Aku tidak bisa menjelaskan mengapa matamu terasa meneduhkan, atau mengapa suaramu mampu menenangkan badai dalam pikiranku. Aku tidak memiliki teori tentang bagaimana kehadiranmu bisa membuat hal-hal yang rumit terasa begitu sederhana.

​Ini bukan tentang mencari sebab. Ini hanya tentang aku yang menemukanmu. Sesederhana itu. Dan aku bahagia atas segala perasaan yang menyertainya; debar yang datang diam-diam, senyum yang mekar tanpa alasan, dan harapan yang tumbuh perlahan seperti tunas di musim semi. Semuanya hadir karena satu hal: karena memang kamu orangnya. Dan bagiku, jawaban itu sudah lebih dari segala-galanya.

Komentar