Langsung ke konten utama

Kau, Mereka, dan Bising yang Tak Kau Suka

Mereka bilang, kalau banyak orang tak suka padamu, berarti kau yang bermasalah.

Sebuah adagium. Sebuah vonis jalanan. Dipalukan di kepala setiap orang yang mencoba berjalan sedikit miring dari garis lurus yang mereka sepakati bersama. Simpel, bukan? Demokrasi rasa suka. Kebenaran yang lahir dari jajak pendapat bisik-bisik di belakang punggungmu. Jika mayoritas jari menunjuk ke arahmu, maka kau pesakitannya. Selesai.

Tapi tunggu dulu. Mari kita seret logika picisan itu ke pengadilan sejarah.

Sejarah adalah kuburan orang-orang hebat yang dibenci di zamannya. Sejarah adalah panggung bagi mereka yang suaranya dianggap sumbang oleh koor massal. Lihat Socrates. Lelaki tua yang kerjanya hanya bertanya, mengusik nyaman para penguasa Athena dengan logika. Apa yang ia dapat? Piala berisi racun cemara. Ia mati karena mulutnya dianggap lebih berbahaya dari pedang. Menurut standar “disukai banyak orang”, Socrates adalah produk gagal. Ia bermasalah.

Lihat Yesus. Kisahnya tentang cinta dan pengampunan justru membakar amarah kaum yang berkuasa. Sistem mapan yang ia gugat balik menggugatnya. Ia diseret, diludahi, dan akhirnya dipantek di kayu, di antara dua penjahat. Seluruh kota menyorakinya, memilih Barabas ketimbang dirinya. Jika kebenaran diukur dari tepuk tangan, maka kebenaran Yesus kalah telak hari itu. Ia bermasalah.

Lihat Galileo. Hanya karena ia berbisik bahwa bumi ini gasing yang berputar mengelilingi matahari, bukan pusat alam semesta yang angkuh, ia dicemooh. Gereja murka. Para ilmuwan terhormat menertawakannya. Ia dipaksa berlutut dan menarik kembali kata-katanya di bawah ancaman api. Selama sisa hidupnya, ia menjadi tahanan rumah. Lagi-lagi, menurut voting, Galileo adalah orang sinting. Ia bermasalah.

Kalau saja tolok ukur kebenaran adalah “disukai banyak orang”, maka kita mungkin masih meyakini bumi ini datar, perbudakan itu wajar, dan para tiran adalah utusan dewa. Kebenaran sejati seringkali lahir sebagai anak haram di tengah keluarga besar kemapanan. Ia kesepian, dibenci, sebelum akhirnya—seringkali setelah kematiannya—diakui sebagai pahlawan.

Maka, kenapa kita begitu mudahnya menelan vonis “kau bermasalah” itu?

Jawabannya ada di dalam kepala kita. Di sirkuit purba yang tertanam di otak. Neurosains memberitahu kita satu hal yang brutal: manusia adalah binatang kawanan. Otak kita punya kabel-kabel super sensitif yang didesain untuk mendeteksi penerimaan sosial. Ditolak oleh kelompok, bagi nenek moyang kita di sabana Afrika, artinya mati. Diterkam binatang buas atau mati kelaparan sendirian. Rasa sakit akibat penolakan sosial, kata para ahli, mengaktifkan bagian otak yang sama dengan rasa sakit fisik. Ditampar caci maki sering terasa lebih ngilu ketimbang ditampar telapak tangan.

Mekanisme bertahan hidup inilah yang menjadi bug di era modern. Kita tidak lagi hidup di sabana, tapi insting itu tersisa. Makanya, ketika seisi ruangan menatapmu dengan aneh, ketika komentar di media sosialmu penuh dengan hujatan, otakmu langsung menarik tuas darurat: “Aku dalam bahaya. Aku yang salah. Aku harus berubah agar diterima kembali.” Refleks. Otomatis. Sebuah kepanikan biologis.

Padahal, bisa jadi kau tidak salah.

Bisa jadi kau hanya menolak ikut dalam tarian massal yang gerakannya kau anggap konyol. Bisa jadi nada batinmu memang tidak diciptakan untuk diputar di panggung karaoke dangdut yang riuh. Kau membawa biolamu ke konser musik metal, tentu saja kau akan dilempari botol. Itu bukan berarti biolamu fals. Itu berarti kau berada di ruang yang salah, di hadapan penonton yang salah.

Dan soal “sefrekuensi”, itu bukan cuma istilah puitis anak-anak senja. Itu fisika. Manusia, seperti garpu tala, memang beresonansi. Ada orang yang frekuensi hidupnya seperti getar gitar akustik yang hangat dan renyah. Ia mudah nyambung di tongkrongan mana saja, di api unggun mana saja. Ada yang seperti denting piano di aula yang hening; indah, dalam, tapi butuh pendengar yang tepat untuk bisa menikmatinya. Ada pula yang seperti biola Stradivarius; suaranya menusuk jiwa, tapi di telinga yang tak terlatih, ia hanya terdengar seperti gesekan yang menyiksa. Dan tentu, ada yang seperti drum rusak: berisik, tanpa irama, tapi anehnya tetap dipuja di festival musik murahan.

Jika suaramu tidak didengar, jika warnamu tidak dilihat, mungkin bukan karena kau tak bersuara atau tak berwarna. Mungkin kau hanya sedang berteriak di ruang hampa atau berdiri di tengah kerumunan orang buta warna.

Jadi, tidak. Tidak otomatis berarti kau bermasalah jika banyak orang membencimu.

Tapi—dan ini ‘tapi’ yang penting—bukan berarti kau selalu benar juga. Ini bukan tiket untuk menjadi seorang martir delusional. Kadang, kita memang brengsek. Kadang kita arogan, egois, tuli pada nasihat, dan menyebalkan tanpa kita sadari. Kadang, bau busuk itu memang datang dari badan kita sendiri, bukan dari lingkungan.

Di sinilah letak pertarungan dewasanya. Kuncinya ada pada refleksi yang brutal dan jujur pada diri sendiri. Tanyakan ini: apakah kebencian yang kau terima lahir dari kejujuranmu yang tak populer, atau dari ketololanmu yang menyakitkan orang lain? Apakah mereka membencimu karena kau menunjukkan kebenaran yang tak ingin mereka lihat, atau karena kau menginjak-injak kaki mereka tanpa peduli?

Dua-duanya mungkin. Bedanya tipis, tapi dampaknya sejauh langit dan bumi. Jika kebencian itu lahir dari kejujuranmu, dari prinsipmu, dari musik sejatimu, maka kau hanya perlu menunggu. Waktu akan menjadi hakimnya. Tapi jika ia lahir dari ketololanmu, dari kebodohan dan arogansimu, maka kau harus belajar. Kau harus menelan pil pahit itu dan berubah.

Pada akhirnya, tidak semua orang harus dan akan suka padamu. Itu adalah ilusi paling kekanak-kanakan yang masih kita pelihara. Bahkan jika seluruh dunia sepakat dalam satu koor raksasa untuk meneriakkan kebencian mereka padamu, itu tidak serta-merta menjadikanmu salah.

Mungkin, kau hanya sedang menyanyikan sebuah lagu dengan bahasa yang belum mereka mengerti.

Dan percayalah, tidak ada musik sejati yang lahir dari upaya putus asa untuk menyenangkan semua telinga.

Komentar