Langsung ke konten utama

Elegi Sebuah Mimpi di Langit Senja

“Bukankah kita bebas bermimpi? Kita bebas bermimpi, kan?” Kataku bertanya dengan teriak lapang pada angkasa.

Langit itu diam. Hanya warna jingga yang mulai memar, disapu kepekatan yang merayap dari ufuk timur. Beberapa burung gereja terbang rendah, pulang ke sarang mereka yang entah di mana, tak peduli pada satu manusia yang tengah berdebat dengan kekosongan. Angin sore meniup sisa-sisa harapan, membuatnya berderak seperti daun kering yang menunggu remuk diinjak.

Selang beberapa menit kemudian aku kembali mengudarakan semua keluh kesahku, “Adakah mimpi itu yang terasa mustahil?”

Tentu saja ada. Mimpi itu adalah kamu. Kamu yang selalu hadir dalam bentuk siluet di antara keramaian, wajahmu terbuat dari kepingan senja dan suaramu adalah melodi yang hanya bisa kudengar dalam sunyi. Kamu adalah kemustahilan yang paling nyata, sebuah paradoks yang hidup dalam denyut nadiku. Bermimpi tentangmu adalah pekerjaan paling sia-sia sekaligus paling membahagiakan yang pernah ada.

Selang beberapa saat kemudian, masih sama halnya dengan yang sebelumnya. Tidak terjawab. Orang-orang yang melihatku berteriak di pusat taman pasti mengiraku gila. Biarlah. Apa bedanya kegilaan dengan cinta yang tak sampai? Keduanya sama-sama membuatmu bicara sendiri, menertawakan hal-hal yang tak lucu, dan menangisi sesuatu yang tak pernah benar-benar ada. Menyebalkan sekali.

“Woi angkasa,” Teriakku lagi padanya. “Jawab dong…” lanjutku berselang kemudian. Suaraku parau, lebih seperti bisikan yang tersesat daripada sebuah teriakan.

Aku membayangkan angkasa adalah saksi bisu segala drama manusia. Ia melihat kekaisaran bangkit dan runtuh, melihat cinta pertama bersemi di bawah pohon rindang, dan juga melihat air mata jatuh di atas nisan yang dingin. Ia pasti punya semua jawaban. Tapi ia memilih diam. Barangkali ia bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja, pertanyaan tentang cinta, tentang rindu, tentang sebuah nama yang diulang-ulang dalam doa—nama kamu.

Mungkin baginya, kertasku sudah penuh. Ceritaku tentangmu sudah menjadi epik yang membosankan. Tentang bagaimana aku pertama kali melihatmu, bukan dengan mata, tapi dengan perasaan aneh yang berdesir di dada, seolah jiwa ini mengenali jiwamu dari kehidupan lain yang terlupa. Tentang bagaimana aku mengumpulkan setiap detail kecil tentangmu: caramu tertawa yang sedikit tertahan, kerutan di dahimu saat berpikir keras, atau bagaimana jemarimu mengetuk-ngetuk meja saat menunggu. Semua itu adalah data-data rahasia yang kusimpan dalam arsip hati, tak akan pernah kuungkap, tak akan pernah kaubaca.

Lalu, apa gunanya semua ini? Apa guna membangun istana pasir di tepi pantai jika kau tahu ombak pasang akan datang menyapunya tanpa sisa? Mimpi tentangmu adalah istana pasir itu. Indah, megah, penuh detail imajinasi, namun begitu rapuh. Setiap kali kenyataan datang—kenyataan bahwa kamu adalah semesta yang berbeda, dengan orbit yang tak akan pernah bersinggungan denganku—ia datang laksana ombak pasang. Menghancurkan segalanya, menyisakan hanya pasir basah dan rasa asin air mata.

Tapi bukankah kita bebas bermimpi?

Pertanyaan itu kembali lagi, seperti hantu. Mungkin kebebasan itu sendiri adalah kutukan sekaligus anugerah. Kita diberi ruang tak terbatas di dalam kepala untuk menciptakan skenario apa pun yang kita suka. Di sana, di dunia mimpi itu, kamu menatapku dengan cara yang berbeda. Di sana, kita berjalan berdampingan menyusuri kota yang tertidur, bicara tentang segala hal dari filsafat hingga warna kaus kaki yang paling konyol. Di sana, tidak ada kemustahilan.

Dan mungkin, hanya ‘di sana’ itulah satu-satunya tempat yang kita punya. Sebuah tempat rahasia yang tak bisa direnggut oleh siapa pun.

Aku berhenti berteriak. Napasku mulai teratur. Langit sudah menghitam sepenuhnya, menaburkan bintang-bintang seperti garam di atas kain beludru gelap. Angkasa tetap tidak menjawab. Tapi dalam diamnya, aku merasa menemukan sesuatu.

Ia tidak perlu menjawab. Karena pertanyaan itu tidak butuh jawaban dari luar. Jawaban itu ada di sini, di dalam diriku. Ya, kita bebas bermimpi. Dan dalam kebebasan itulah aku memilih untuk terus memimpikanmu. Bukan karena aku berharap mimpi itu menjadi nyata, tapi karena mimpi itu membuatku merasa hidup. Cinta ini, meski terasa mustahil, adalah milikku sepenuhnya. Dalam keheningan taman kota yang mulai lengang, aku memeluk kemustahilan itu erat-erat. Biarlah ia menjadi bintang rahasiaku di langit hatiku sendiri. Dan itu, ternyata, sudah lebih dari cukup.

Komentar