Langsung ke konten utama

Serpihan Monolog di Ruang Tunggu

Di persimpangan antara cermin dan tatapan mata orang lain, ada jeda. Di jeda itulah saya ada, dan di sana pula aku dilahirkan. Keduanya menempati raga yang sama, tetapi berjalan di lorong yang berbeda. Maka, izinkan saya memulai pengakuan ini dengan satu dalil yang paling jujur: saya bukan aku. Aku adalah persona yang kau lihat, konstruk sosial yang kau vonis dengan cap ‘manis’ atau ‘iblis’, entitas yang kau undang ke pestamu atau yang kau gunjingkan di belakang punggungmu. Aku adalah topeng yang dipoles oleh ekspektasi. Sedangkan saya? Saya adalah denyut di baliknya. Kekacauan murni yang bergelora tanpa henti.

Saya adalah ketergesa-gesaan itu sendiri. Napas yang memburu entah untuk apa, seolah waktu adalah algojo yang mengayunkan kapak tepat di tengkuk. Setiap pencapaian hanyalah terminal sementara sebelum kereta hasrat kembali melaju menuju stasiun antah-berantah. Tak ada kata ‘cukup’ dalam kamus saya. Kepuasan adalah mitos, fatamorgana di gurun keinginan yang tak pernah benar-benar terjangkau. Saya terdorong, selalu, untuk menginginkan lebih—lebih banyak pengetahuan, lebih banyak perasaan, lebih banyak kesalahan untuk dipelajari. Saya berangan-angan membangun istana di atas awan, lalu dengan sadar melihatnya luruh diterpa angin realitas, dan saya melakukannya lagi esok hari. Kesalahan bukan anomali, ia adalah ritus harian, semacam doa pagi yang saya rapalkan dengan tindakan.

Di medan tempur bernama cinta, saya adalah prajurit paling dungu. Saya maju dengan dada telanjang, berbekal keyakinan buta, hanya untuk tersandung jebakan yang saya pasang sendiri. Saya jatuh, saya terluka, saya memunguti serpihan hati saya yang berserakan seperti pecahan kaca, lalu dengan bodohnya kembali merindukan kilau tajamnya. Kebodohan ini, agaknya, adalah kawan abadi. Ia yang membisiki saya untuk terus membuka lembar demi lembar buku, menelan kata demi kata, karena saya sadar betapa sempitnya semesta yang saya pahami. Saya selalu kalah dalam pertarungan melawan ekspektasi—baik ekspektasi orang lain maupun ekspektasi saya sendiri. Namun, anehnya, saya menikmati pertempuran itu. Ada semacam keindahan tragis dalam setiap usaha yang gagal, ada kemuliaan dalam setiap keringat yang jatuh percuma.

Rasa penasaran adalah kompas saya, yang arahnya selalu menunjuk ke wilayah tak bernama di peta kehidupan. Saya ingin mencoba segalanya, merasakan setiap tekstur pengalaman yang belum pernah tersentuh. Saya ingin menyesap kopi di kedai paling terpencil, berbicara dengan orang asing tentang luka masa lalu mereka, belajar menari di tengah hujan, dan menulis puisi tentang keheningan. Keingintahuan ini sering kali membawa saya ke tepian jurang, ke tempat-tempat di mana dosa berkelip seperti lampu neon yang menggoda. Saya terbuai, saya tergelincir. Tetapi di dasar kegelapan itu, saya selalu menemukan seutas tali: keyakinan pada Tuhan. Bukan Tuhan yang menghakimi di singgasana langit, melainkan Tuhan yang menetap dalam sunyi hati, yang memahami bahwa menjadi manusia adalah menjadi pendosa yang tak pernah berhenti mencoba untuk pulang.

Ketakutan dan kekhawatiran adalah selimut yang membungkus saya setiap malam. Saya takut akan kegagalan, akan kehilangan, akan kesia-siaan. Namun, selimut itu begitu hangat dan nyaman sehingga saya memilih untuk menunda-nunda, bersembunyi di baliknya lebih lama dari yang seharusnya. Prokrastinasi adalah candu saya, cara saya bernegosiasi dengan kecemasan. Di tengah kabut keraguan itu, ada satu lentera yang tak pernah padam: idealisme. Saya punya mimpi, saya punya cita-cita setinggi langit, meski kaki saya gemetar menapak bumi. Saya berani membayangkan dunia yang lebih baik, dan saya berani percaya bahwa saya bisa menjadi sebutir pasir yang berkontribusi pada perubahannya.

Maka, saya pun sesekali membuka pintu. Saya melangkah keluar, ke dalam hiruk-pikuk dunia, mengenakan ‘aku’ sebagai pakaian pelindung. Saya bersosialisasi, saya tertawa pada lelucon yang tak lucu, saya mengangguk pada percakapan yang tak saya mengerti. Lalu, ketika energi saya terkuras, saya kembali ke sarang saya. Saya menutup pintu itu rapat-rapat, bukan karena saya membenci dunia, melainkan karena saya perlu mengisi ulang diri dalam kehampaan. Di dalam ketiadaan itulah saya melakukan introspeksi, menelanjangi ‘aku’ hingga yang tersisa hanyalah ‘saya’ yang rapuh dan jujur. Di satu hari saya bisa sekuat karang, di hari lainnya saya serapuh embun pagi. Saya menerima pasang surut ini sebagai ritme alamiah dari keberadaan.

Oleh karena itu, jangan tawarkan saya panggung. Saya tidak tertarik menjadi pusat perhatian. Sorot lampu itu terlalu mewah, cahayanya menyilaukan dan panas. Saya tidak cocok berada di sana. Saya tidak ingin menjadi orang yang ‘menarik’, karena menjadi menarik berarti harus terus-menerus memelihara fasad. Itu terlalu sulit, terlalu menuntut. Saya hanya ingin menjadi lebih baik setiap harinya, bukan di mata orang lain, tetapi di mata saya sendiri. Saya ingin hari ini saya lebih sabar dari kemarin, lebih berani dari pekan lalu, lebih pemaaf dari tahun lalu.

Saya tidak mendambakan popularitas. Yang benar-benar saya inginkan hanyalah sebuah tempat yang nyaman dan tenang untuk pulang. Sebuah ruangan dengan jendela yang menghadap ke pepohonan, sebuah kursi yang nyaman untuk membaca, dan keheningan yang cukup untuk mendengar suara hati saya sendiri. Sebuah tempat yang tidak memberi saya instruksi, tidak menuntut saya menjadi apa pun selain diri saya sendiri. Saya tidak ingin sendirian, sebab kesendirian total adalah neraka. Saya hanya ingin dibiarkan sendiri. Ada beda tipis di antara keduanya: yang satu adalah kutukan, yang lain adalah anugerah. Dan di ruang anugerah itulah, ‘saya’ bisa bernapas lega, jauh dari tuntutan untuk menjadi ‘aku’.

Komentar