Langsung ke konten utama

Sebuah Catatan untuk 10 Oktober

Dan begitulah, tanggal itu akan tiba lagi. Kalender digital di gawai-gawai kita, dengan presisi dinginnya, akan menandai 10 Oktober 2025. Di linimasa, spanduk-spanduk virtual akan berkibar dengan slogan-slogan penuh warna: “Jiwamu Berharga”, “Bicara Itu Sehat”, “Akhiri Stigma”. Akan ada seminar-seminar daring, utas-utas pencerahan, dan orang-orang yang tiba-tiba menjadi sangat bijak perihal kesehatan jiwa. Semua merayakan sebuah hari. Sebuah perayaan untuk sesuatu yang, ironisnya, sering kali dirayakan dengan dalih untuk melenyapkannya: penderitaan.

Pesta pora kesadaran ini terasa ganjil. Sebab di luar festival satu hari itu, ada sebuah kebenaran yang tak terucap, sebuah kontrak yang kita tanda tangani tanpa sadar saat pertama kali menghirup udara dunia. Kontrak itu menyatakan bahwa penderitaan adalah bagian intrinsik dari paket bernama “kehidupan”. Itu hal yang normal. Setiap orang, tanpa kecuali, akan mendapatkannya.

Kau akan mendapatkan jatah sedihmu, entah karena kehilangan atau karena sesuatu yang tak pernah kau miliki. Kau akan memiliki kesepianmu, bahkan mungkin di tengah keramaian yang paling hingar-bingar. Kau akan menamai versimu sendiri dari rasa sakit, memberinya wajah dan suara. Kau akan menelan kekecewaanmu, merasakan pahitnya di pangkal lidah, saat realitas tak sudi berkompromi dengan harapan. Dan mungkin, sangat mungkin, kau akan melintasi sebuah lembah trauma di titik terendah dalam hidupmu, sebuah tempat gelap yang petanya hanya kau yang punya.

Lihatlah mereka. Kesedihan, kesepian, rasa sakit, kecewa, trauma. Hari Kesehatan Mental Sedunia, dalam semangatnya yang paling mulia sekaligus paling naif, seolah ingin memberangus mereka. Mengusir mereka seperti hantu dari rumah angker. Tapi mereka bukan hantumu. Mereka bukan temanmu, dan anehnya, bukan pula musuhmu. Anggap saja mereka petugas semesta, para birokrat kosmik yang tak punya emosi, yang datang dengan map berisi surat tugas: mengujimu. Hanya itu. Fungsi mereka adalah menjadi batu ujian, menjadi ampelas yang menggesek permukaan jiwamu untuk melihat terbuat dari apa dirimu sebenarnya. Kehidupan berbanding lurus dengan ujian, ingat?

Maka di sinilah letak ironi terbesarnya. Kita diajari untuk “berdamai dengan keadaan”, “berdamai dengan kesedihan”. Sebuah nasihat yang keliru kaprah. Jika ingin berdamai, berdamailah dengan dirimu sendiri—dengan segala kerapuhan dan kekuatanmu. Bukan dengan aspek-aspek penderitaan itu. Sebab mereka tidak butuh perdamaianmu. Mereka hanya menjalankan tugas dan akan pergi setelah tugasnya selesai. Berdamai dengan mereka sama artinya dengan membiarkan mereka tinggal lebih lama, menjadi tuan di rumah yang seharusnya menjadi kedaulatanmu. Mereka hadir untuk mengujimu, bukan untuk mengendalikanmu.

Kaulah yang mengendalikan dirimu. Titik.

Kau tidak salah saat hatimu remuk redam dilanda duka. Emosi itu netral, ia hanya sinyal. Tapi kau, dan hanya kau, yang jelas bertanggung jawab atas lemah dan kuatnya sikap yang akan kau putuskan untuk dirimu setelah sinyal itu menyala. Kau tak bisa menyalahkan badai karena datang. Tapi kau memegang kendali atas kemudi kapalmu, memutuskan apakah akan menghindar, melawan, atau membiarkan kapal itu pecah berkeping-keping. Pada akhirnya, esensi masalah tidak pernah terletak pada apa yang menimpa kita, melainkan pada bagaimana etika (attitude) kita dalam merespon kehidupan yang menimpa itu. Reaksi itulah yang mendefinisikan segalanya.

Maka, di tengah riuh-rendah perayaan 10 Oktober 2025 itu, mungkin ada baiknya kita mengambil jeda sejenak dari parade kesadaran kolektif. Mungkin kita tak perlu lagi membeli slogan-slogan yang menjanjikan jiwa yang selalu cerah ceria tanpa awan. Mungkin kita hanya perlu berbisik pada diri sendiri, di ruang paling sunyi di dalam batin.

Teruntuk jiwamu, kuatkan.
Hatimu, yakinkan.
Tanganmu, kepalkan.

Maksudku, semua ini sudah cukup sulit tanpa perlu kita membuatnya lebih rumit. Penderitaan tidak seharusnya memiliki lapisan. Kita tidak perlu melapisi rasa sakit dengan rasa bersalah karena merasakannya. Kita tidak perlu melapisi duka dengan kecemasan karena tak kunjung sirna. Kurasa, kita tidak perlu menderita di dalam penderitaan. Biarkan penderitaan itu datang, layaknya petugas yang menunaikan tugasnya, lalu biarkan ia pergi. Dan kau, tetaplah berdiri di sana. Sebagai sang pemilik kedaulatan atas dirimu. Utuh.

Komentar