Sore ini, sewaktu aku terbangun dari tidurku, aku tidak bertanya tentang langit yang mendung di luar jendela; tidak pula tentang kopi yang barangkali tidak akan pernah dibuat di dapur; tidak tentang tanggal yang tercetak di sudut gawai yang mati; tidak tentang hari yang akan menuntut peranku sekali lagi. Aku tidak bertanya tentang salah dan benarku yang telah menjadi arsip usang di kepala, tidak pula aku bertanya tentang apa yang sedang bergolak di dalam atau di luar diriku. Aku hanya di sana—diam, membeku dalam hening, dengan kaki berpangku di tepi ranjang. Aku telah menjadi sejenis tumbuhan langka yang, setelah kemarau panjang, hanya meminta bagian gerimisnya.
Dalam keheningan yang absolut itu, aku menemukan sejenis kemerdekaan yang paling purba. Tidak ada teman yang menggunakanku sebagai sandaran bagi keluh-kesah mereka; tidak ada musuh yang diam-diam menyelidiki riwayat hidupku untuk mencari celah menyerang. Telepon genggam membisu, dan notifikasi yang biasanya berteriak-teriak menuntut perhatian kini tak lebih dari ikon-ikon bisu di layar gelap. Aku bebas, sepenuhnya bebas, di dalam kesepian yang kubangun sendiri sebagai benteng terakhir. Bebas dari keharusan untuk menjadi seseorang, bebas dari tuntutan untuk memiliki sebuah opini, bebas dari kewajiban merespons dunia yang tak pernah berhenti bicara. Kesepian ini bukanlah ruang hampa yang menakutkan, melainkan sebuah kanvas kosong di mana aku, untuk sesaat, tidak perlu melukis apa pun.
Hari ini, seperti ribuan hari lainnya yang telah lewat tanpa nama: sebuah perputaran yang sama dalam poros yang tak terlihat; kecenderungan yang sama untuk jatuh ke dalam lubang perenungan; kekhawatiran yang sama tentang masa lalu yang tak bisa diubah dan masa depan yang tak bisa diraba. Semua itu menjelma menjadi sebuah paradoks ganjil yang mendiami diriku. Tubuhku terasa seringan kapas, seolah satu embusan angin mampu menerbangkannya, namun jiwaku seberat dunia, menekan setiap sel hingga ke inti atomnya. Jiwa ini adalah sauh raksasa yang terbuat dari semua percakapan yang tak selesai, semua janji yang diingkari, semua harapan yang patah, dan semua cinta yang tak pernah sampai. Aku adalah paradoks itu sendiri: astronaut yang melayang di angkasa hampa dengan skafander yang dipenuhi batu-batu dari bumi.
Lalu, dari luar jendela, dari balik tirai kelabu langit sore, suara itu datang. Burung-burung gereja berkicau riang, namun di telingaku, kicauan itu terdengar seperti sebuah interogasi, sebuah sanggahan atas keberadaanku. Mereka seolah bernyanyi sambil mendustaiku sebagai manusia. Suara mereka, yang bagi dunia adalah musik alam, bagiku adalah sebuah pertanyaan tajam yang menelanjangiku: kau ini apa? Jika kau manusia, kau pasti sedang terburu-buru. Kau pasti sedang mengejar sesuatu atau dikejar sesuatu. Manusia tidak pernah diam.
Aku menjawab dalam hati, kepada paduan suara yang tak akan pernah mengerti. Kataku: aku masih memastikannya. Aku masih berada di ruang antara, di perbatasan antara menjadi dan tiada, antara kepastian peran dan kebebasan untuk tidak menjadi apa-apa. Aku adalah jeda dalam sebuah kalimat panjang yang ditulis oleh takdir.
Mereka seolah mendengar getar jawabanku. Kicauan mereka berubah nada, lebih pelan, lebih menusuk. Kata mereka: apa kau takut dengan kematian? Pertanyaan yang paling kuno, yang paling sering ditanyakan manusia kepada dirinya sendiri di tengah malam, kini dilontarkan oleh makhluk-makhluk kecil bersayap yang hidup seolah tanpa beban.
Aku menarik napas. Udara sore yang lembap terasa dingin di paru-paru. Kataku: apa yang bisa menjaga kita dari kematian? Kekayaan? Kekuasaan? Pengetahuan? Semua itu akan luruh seperti daun kering ketika waktu memanggil. Kita membangun istana pasir di tepi pantai, tahu bahwa ombak pada akhirnya akan datang untuk meratakannya.
Jawaban mereka datang bersamaan dengan rintik pertama gerimis yang menyentuh kaca jendela. Jawaban yang tidak pernah kuduga. Mereka menjawab: tak ada yang bisa menjaga kita dari kematian. Tapi setidaknya…
Ada jeda. Aku menunggu. Rintik hujan mulai menciptakan musiknya sendiri, sebuah irama yang melankolis dan jujur.
Kataku, mendesak: apa?
Kata mereka, dengan kebijaksanaan yang melampaui rentang hidup mereka yang singkat: setidaknya cinta dan kebaikan menjaga kita dari kehidupan.
Aku tertegun. Kalimat itu bergema, memecah keheningan di dalam diriku. Bukan kematian yang merupakan horor terbesar, melainkan kehidupan itu sendiri. Kehidupan, dengan segala tuntutannya, dengan ketergesaannya, dengan kekejamannya, dengan siklus harapan dan kekecewaannya yang tanpa henti. Kehidupan adalah arena tempat kita saling melukai, tempat kita dipaksa berlari hingga napas tersengal, tempat jiwa kita terbebani hingga seberat dunia.
Dan di sanalah fungsi cinta dan kebaikan. Keduanya bukanlah perisai untuk melawan akhir yang tak terhindarkan. Keduanya adalah obat penawar untuk luka-luka yang kita dapatkan selama perjalanan. Sebuah kebaikan kecil yang kita berikan atau terima adalah seteguk air di tengah gurun kehidupan. Sebuah cinta yang tulus adalah tempat berteduh di tengah badai eksistensi. Keduanya tidak membuat kita abadi, tetapi membuat perjalanan fana ini menjadi mungkin untuk ditanggung.
Gerimis di luar semakin deras. Aku, tumbuhan langka di dalam kamar ini, akhirnya mendapatkan bagianku. Bukan dari langit, tetapi dari bisik burung-burung gereja itu. Aku masih di sana, duduk berpangku kaki. Tapi kini, jiwaku yang seberat dunia terasa sedikit lebih ringan. Aku tidak lagi bertanya siapa diriku. Untuk sore ini, cukuplah menjadi seseorang yang baru saja mengerti, bahwa untuk selamat dari kehidupan, yang kita butuhkan hanyalah sedikit kebaikan, dan sekepal cinta.
Komentar
Posting Komentar