Langsung ke konten utama

Tentang Sunyi di Meja Makan

Senja di kota ini selalu terasa asing. Kaca-kaca gedung memantulkan sisa matahari yang pucat, warna oranye yang sakit, sekarat. Di kamar kos yang disewa dengan harga yang lumayan murah ini, secangkir kopi—yang dibeli dari kedai seberang jalan, bukan diseduh di rumah—perlahan mendingin. Di luar, gerimis mulai turun. Dan setiap kali gerimis turun di atas bangunan tua di sebuah kota, ingatan selalu punya cara untuk melarikan diri, pulang ke sebuah rumah yang berjarak ratusan kilometer dan puluhan tahun yang lalu.

Pulang ke sebuah dunia di mana kasih itu tak perlu diucapkan.

Kita tumbuh dewasa dengan asumsi bahwa cinta adalah apa yang kita lihat di film-film. Cinta adalah pernyataan. "Aku sayang kamu." Bunga. Cokelat. Nyanyian. Kita menuntut kata-kata, kita menagih bukti yang verbal. Kita lupa, atau mungkin tidak pernah diajari, bahwa di rumah yang kita tinggalkan itu, cinta adalah bahasa yang berbeda. Bahasa yang bisu, yang kasar, yang disamarkan dalam peluh dan asap dapur.

Bapak.

Bapak adalah bayang-bayang. Sosok yang hilang sebelum kami benar-benar terjaga, dan kembali ketika kami nyaris terlelap. Kami lebih sering mengenali bau tubuhnya daripada wajahnya di siang hari. Bau keringat yang mengering di kemeja, bercampur aroma tembakau tingwe dan kopi hitam pekat. Bapak adalah diam.

Kasih yang tak terucap itu adalah suara motornya yang menderu di keheningan subuh. Adalah kapalan tebal di telapak tangannya yang tak pernah sekali pun mengelus kepala kami, tapi tangan yang sama itu tak pernah alpa meletakkan amplop berisi uang sekolah di atas meja. Kami, anak-anak yang bodoh, mengira diamnya adalah marah. Kami mengira tatapannya yang lelah adalah jarak.

Kami menuntut sapa, tapi ia memberi kami atap. Kami menuntut pelukan, tapi ia memberi kami sekolah.

Bapak tidak pernah bertanya, "Apa mimpimu, Nak?" Pertanyaannya lebih membumi: "Motor sudah diganti olinya?" atau "Uang SPP kurang berapa?" Itu adalah caranya memastikan mimpi kami tetap hidup, bahkan ketika ia harus membunuh mimpinya sendiri pelan-pelan. Kami baru mengerti sekarang, di kamar sewa yang mahal ini, bahwa setiap tarikan napasnya yang berat sepulang kerja adalah puisi cinta paling menyakitkan yang pernah ditulis.

Dan Ibu.

Jika Bapak adalah bayang-bayang, Ibu adalah aroma. Aroma yang memenuhi rumah. Aroma bawang yang ditumis pukul empat pagi, aroma nasi tanak yang mengepul, aroma cucian yang dijemur di bawah terik. Ibu adalah keriuhan. Suaranya adalah hal pertama yang kami dengar saat membuka mata—teriakan menyuruh mandi, menyuruh sarapan, menyuruh bergegas.

Kasih yang tak terucap itu adalah omelannya. Omelan yang tak putus, yang kami sumpahi dalam hati setiap hari. "Jangan main hujan!" "Belajar yang benar!" "Sudah sholat?"

Kami, anak-anak yang angkuh, mengira riuhnya adalah penjara. Kami mengira perhatiannya adalah kekangan. Kami ingin bebas, kami ingin sunyi. Kami tidak tahu bahwa omelan itu adalah caranya merapal doa, caranya menjaga kami dari dunia yang terlalu buas di luar sana. Tangan Ibu tak pernah berhenti bergerak—memasak, mencuci, menjahit—seolah-olah jika ia berhenti, maka dunia kami akan runtuh bersamanya.

Kami baru mengerti sekarang, di tengah kesunyian kamar kos dan kebebasan yang dulu kami dambakan ini. Kami rindu. Kami rindu pada keriuhan itu. Kami rindu pada aroma masakan yang tak akan pernah bisa ditiru oleh restoran semahal apa pun. Kami sadar, cerewetnya Ibu adalah pelukan paling hangat yang tak pernah kami sadari.

Kita adalah generasi yang terlambat.

Kita pergi meninggalkan mereka. Merantau. Sebuah kata indah untuk proses pelarian diri. Kita kejar apa yang kita sebut "sukses" di kota-kota besar. Kita kumpulkan gelar, kita kumpulkan gaji, kita kumpulkan apartemen dan mobil. Kita pikir, itulah yang akan membuat mereka bangga.

Lalu kita pulang setahun sekali. Membawa oleh-oleh mahal dan tubuh yang lelah. Kita duduk di meja makan yang sama. Tapi semuanya berbeda. Bapak semakin pendiam, keriput di matanya semakin dalam. Ibu semakin pelan, masakannya mungkin sedikit keasinan.

Kita mencoba bicara. Tapi bahasa kita sudah terlalu jauh. “Gimana le kerjanya?" tanya Bapak. Kita menjelaskan tentang deadline, meeting, proyek—kata-kata yang terdengar seperti dengung asing di telinganya. "Sudah makan?" tanya Ibu. Kita mengangguk, padahal kita baru saja menelan pil maag karena telat makan seminggu.

Di sanalah tragedi itu terasa. Di meja makan itu. Bapak dan Ibu tidak butuh uang kita. Mereka tidak peduli pada jabatan kita. Mereka hanya ingin kita duduk di sana, sedikit lebih lama, memakan masakan Ibu, dan mendengarkan diam Bapak. Mereka hanya ingin waktu. Waktu yang kita jual habis di kota demi hal-hal yang kita sebut "masa depan".

Senja di kota ini semakin pekat. Gerimis telah berubah menjadi hujan. Kopi telah dingin sepenuhnya, tak tersentuh.

Kita baru paham sekarang. Bahwa kasih Bapak adalah keringat yang menjadi nasi di piring kita. Bahwa kasih Ibu adalah doa yang menjelma udara yang kita hirup. Mereka tidak pernah meminta balasan, mereka tidak pernah menuntut pujian.

Kasih yang tak terucap itu. Ia hadir dalam diam yang paling hening dan dalam riuh yang paling bising.

Dan kita, para penerjemah yang malang, baru bisa membaca bahasa itu ketika kamusnya—waktu—hampir ditutup. Kita mengerti. Dan justru karena mengerti, kita menangis dalam senja yang asing ini. Kita ingin pulang. Tapi kita tidak tahu lagi, apakah "pulang" masih berarti hal yang sama.

Komentar