Langsung ke konten utama

Untuk Diriku di Masa Depan

Duhai, diriku, kutulis ini untukmu; untuk sebuah masa yang kelak akan kau sadari. Jikalau nanti engkau membaca surat usang ini, di sebuah senja yang entah berwarna apa, di sebuah ruang yang entah beraroma apa, kuharap napasmu tidak tersengal oleh penyesalan akan waktu yang merayap lambat laksana siput yang sekarat. Kuharap engkau telah menyadari, bahwa salah satu hal terbaik dalam hidup adalah menghabiskan usiamu pada sesuatu yang membuat waktu tidak lagi ada.

Waktu, bukankah ia adalah monster yang paling mengerikan sekaligus kekasih yang paling dirindukan? Ia bisa menjadi sipir penjara yang menghitung setiap detik penderitaanmu dengan ketukan yang membosankan pada jeruji sel jiwa. Setiap detaknya adalah pengingat akan kekosongan, akan penantian yang tak berujung, akan hidup yang dijalani hanya sebagai formalitas dari fajar ke petang. Namun, ia juga bisa menjadi angin yang tak terasa, yang mendorong perahumu di tengah lautan gairah, dan tahu-tahu kau sudah tiba di sebuah pulau tanpa pernah merasa lelah mendayung.

Inilah yang kumaksudkan, duhai diriku. Kuharap engkau telah menemukan kesibukan yang selalu berhasil menimbulkan suka cita; pada rutinitas yang melenyapkan rasa khawatir. Bukan rutinitas mekanis seorang robot yang mengejar tenggat, melainkan sebuah ritme, sebuah tarian jiwa yang kau lakukan setiap hari dengan senyum yang tak perlu dipalsukan. Pada gairah—ah, passion—yang membuat batin dan pikir terasa seperti mengalir, seperti sungai deras yang jernih dan tak terbendung, yang membersihkan segala cemas dan ragu dari dasar kesadaranmu. Ketika kau berada di dalam aliran itu, tidak ada lagi ‘aku’ yang terpisah dari ‘pekerjaan’. Yang ada hanya laku. Yang ada hanya karya. Yang ada hanya kelebatan momen yang menjelma menjadi keabadian kecil.

Dan manusia, duhai diriku, manusia adalah makhluk sosial. Maka adalah penting, teramat penting bagi jiwamu, untuk menghabiskan waktumu pada percakapan-percakapan yang betul-betul membuatmu tertarik. Percakapan yang tidak mencekik. Percakapan yang tidak memaksamu memakai topeng demi topeng kepalsuan. Temukanlah manusia-manusia—atau cukup satu manusia saja—yang selalu membuat potensi jiwamu terpantik. Orang-orang yang ketika kau berbicara dengannya, ide-ide baru berloncatan seperti kembang api di langit malam. Orang-orang yang membuatmu lupa waktu, sehingga tanpa kau sadari, jam akan berlalu terasa seperti detik.

Di sanalah paradoks kehidupan yang paling indah akan berjalan untukmu: semakin cepat waktu terasa berlalu, semakin kau mengerti bahwa kau menikmati itu. Kita begitu sering mendengar nasihat usang untuk “menikmati setiap momen”, seolah kita harus mempreteli waktu satu per satu, mengunyahnya perlahan-lahan. Namun, bukankah kenikmatan tertinggi justru terjadi ketika kita begitu larut hingga tak lagi sadar akan adanya momen-momen itu? Seperti seorang pelukis yang baru tersadar hari sudah gelap setelah kanvasnya penuh warna, atau seorang musisi yang baru merasa pegal setelah sebuah simfoni tercipta dari jemarinya. Mereka tidak menghitung detik. Mereka hidup di dalamnya.

Maka, jika nanti engkau menoleh ke belakang, pada kalender yang lembarannya entah sudah berapa kali kau sobek, dan engkau merasa tahun-tahun berganti terlalu singkat, janganlah engkau panik. Jangan biarkan keresahan merayapimu, membisikkan bahwa kau telah menyia-nyiakan hidupmu dalam ketergesaan. Tidak. Pahami ini sebagai sebuah pertanda. Sebab waktu yang berlalu dengan cepat adalah waktu yang telah digunakan dengan baik. Ia adalah bukti bahwa hari-harimu tidak dipenuhi kekosongan yang melengking, melainkan oleh kepadatan makna, oleh keriuhan tawa, oleh keheningan yang syahdu saat kau tenggelam dalam duniamu.

Waktu yang terasa lambat adalah neraka. Ia adalah penanda bahwa jiwamu tidak berada di tempat yang seharusnya. Sebaliknya, waktu yang melesat laksana anak panah adalah surga kecil di dunia, sebuah anugerah tersembunyi yang hanya dipahami oleh mereka yang telah menemukan apinya.

Jadi, duhai diriku di masa depan, saat kau memegang surat ini, entah dengan tangan yang masih kencang atau sudah berkerut, coba pejamkan matamu sejenak. Rasakanlah jejak waktu pada dirimu. Jika yang kau rasakan adalah kelelahan yang memuaskan, seperti seorang pengembara yang telah menempuh perjalanan jauh dan penuh cerita, maka tersenyumlah. Kau telah berhasil. Kau telah hidup.

Komentar