Di peron stasiun waktu ini, aku duduk. Bukan stasiun kereta sungguhan, tentu saja, melainkan sebuah ruang tak bernama di dalam kepala, tempat aku hanya bisa melihat kereta-kereta melesat pergi. Setiap gerbong membawa wajah yang kukenal: teman-teman lama, kawan sepermainan, bahkan orang-orang yang hanya sekelebat kutemui. Mereka melambai dari jendela, atau mungkin juga tidak, barangkali mereka terlalu sibuk menatap cakrawala di depan yang menjanjikan tujuan. Mereka berlari. Derap langkah mereka menjadi musik latar bagi keheninganku, gema yang mengisi cangkir kopiku yang entah sudah berapa kali kuhangatkan kembali.
Aku melihat mereka berlari mengejar gelar, jabatan, cincin di jari manis, atau sekadar foto di puncak gunung yang belum pernah terjamah. Mereka memanggul ransel yang berbeda-beda—ada yang berisi ambisi setebal kamus, ada yang memikul harapan keluarga, ada pula yang hanya membawa sepasang sepatu lari dan keyakinan buta. Dan aku? Aku di sini. Masih di tempat yang sama. Mengukur hidup dengan berapa sendok gula yang kubutuhkan agar kopi pagi ini tidak terasa terlalu pahit, menyaksikan bayang-bayang bergeser dari timur ke barat di lantai kamar.
Orang mungkin akan menyebutnya kemalasan. Atau kepasrahan yang menyedihkan. Tapi ini bukan soal iri. Sungguh. Aku tidak pernah benar-benar menginginkan tiket di salah satu kereta mereka. Aku tidak pernah merasa jalur rel mereka adalah jalur yang ingin kupijak. Tertinggal dari perlombaan yang tak pernah kuikuti sejak awal bukanlah sebuah kekalahan. Aku sudah berdamai dengan itu. Aku sudah menerima bahwa sementara dunia mereka berputar cepat seperti piringan hitam yang memainkan lagu gegap gempita, duniaku berputar pelan, seperti debu yang menari-nari di seberkas cahaya matahari pagi.
Bukan, bukan itu yang menghantuiku di malam-malam panjang ketika suara jam dinding terdengar seperti hitungan mundur.
Yang paling aku takutkan adalah sesuatu yang lebih mendasar, lebih sunyi, dan lebih menusuk. Aku takut jika ternyata ada sebuah kitab panduan—semacam manual—tentang bagaimana cara menjalani hidup sebagaimana seharusnya, dan entah bagaimana, aku tidak pernah mendapatkan salinannya. Aku takut semua orang dilahirkan dengan kompas di dalam jiwa mereka, sementara aku hanya dibekali selembar peta kosong dan sebuah pensil tumpul.
Bagaimana jika hidup ini adalah sebuah ujian, dan aku bahkan tidak tahu apa pertanyaannya?
Aku melihat mereka seperti mengikuti sebuah naskah agung yang tak terlihat. Mereka tahu kapan harus berbelok, kapan harus berlari kencang, kapan harus berhenti sejenak untuk minum. Mereka seolah memahami bab-bab kehidupan: bab pendidikan, bab karier, bab pernikahan, bab membesarkan anak. Semua berjalan dengan ritme yang wajar, teratur seperti detak jantung.
Sementara aku, aku merasa seperti membaca sebuah buku yang halamannya acak. Aku melompat dari satu paragraf ke paragraf lain tanpa mengerti alurnya. Kadang aku terpaku pada satu kalimat selama berhari-hari, mencoba mencari makna di antara titik dan koma, sementara kereta-kereta lain sudah tiba di stasiun berikutnya. Apakah ini sebuah kesalahan? Apakah aku telah melewatkan petunjuk paling penting di halaman pertama yang mungkin tanpa sengaja disobek oleh takdir?
Ketakutan ini bukan tentang materi atau pencapaian. Ini tentang esensi. Tentang menjadi manusia. Apakah menjadi manusia berarti harus terus bergerak maju? Apakah nilai seorang manusia diukur dari jejak yang ia tinggalkan di sepanjang lintasan lari? Jika begitu, apa arti jejakku yang hanya berputar-putar di satu titik, seperti anjing yang mengejar ekornya sendiri?
Aku takut, di penghujung hari, ketika senja datang dan semua kereta telah sampai di tujuannya masing-masing, Tuhan—atau semesta, atau siapa pun yang menjadi juri agung—akan menilaiku. Bukan karena aku tidak sampai di garis finis yang sama dengan yang lain, tapi karena aku dianggap tidak pernah benar-benar berpartisipasi. Aku dianggap gagal memahami premis paling dasar dari permainan yang bernama "hidup". Disangka hanya menjadi penonton di pertunjukan yang seharusnya kumainkan perannya.
Maka di sinilah aku, masih di peron yang sama. Kopi di cangkirku sudah mendingin. Gema derap langkah mereka mulai menjauh, digantikan oleh desau angin yang membisikkan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Mungkin, ketakutan ini adalah satu-satunya kereta yang akan selalu berhenti untukku. Dan mungkin, tugasku bukanlah untuk berlari mengejar yang lain, melainkan belajar untuk duduk dengan tenang bersama ketakutan ini, mencoba membaca halaman-halaman acak di buku kehidupanku, dan berharap, di antara semua itu, aku menemukan satu kalimat saja yang menjelaskan semuanya. Atau jangan-jangan, inilah cara 'menjalani hidup' itu sendiri. Dengan secangkir kopi yang mendingin dan pertanyaan yang tak akan pernah selesai.
Komentar
Posting Komentar