Orang-orang menyebutmu malaikat—dan tanpa ragu, tanpa jeda bahkan untuk sekadar menarik napas, saya terlampau sepakat. Di dunia yang bising oleh sumpah serapah dan klakson kendaraan yang berteriak di persimpangan nasib, selalu ada sekelompok orang yang berbicara tentangmu dengan nada yang lebih lirih, lebih takzim, seolah menyebut namamu adalah sebuah ritual sakral. Mereka yang mengenal dan pernah terhubung denganmu, yang pernah bertukar pesan singkat atau sekadar bersitatap di sebuah sore yang penat, saya anggap salah satu mahluk paling beruntung di muka bumi. Mahluk-mahluk yang berhasil membuat saya—dengan kesadaran penuh—merasa iri sepenuh hati.
Bagaimana tidak? Merasakan hangat dan tulus dari seorang manusia yang bahkan saya curiga tidak akan tega menepuk nyamuk yang lancang mendarat di pipinya sendiri. Kamu adalah antitesis dari segala kekerasan, penangkal dari segala racun sinisme yang merayap di pembuluh darah kota. Auramu adalah semacam jeda di tengah hiruk pikuk, sebuah oase yang entah bagaimana tercipta di tengah gurun beton.
Awalnya saya pikir, saya tidak akan jatuh hati padamu. Saya telah sesumbar. Sebuah keangkuhan yang kini saya tertawakan dalam sunyi. Kepada semesta, saya pernah berkata dengan congkak, bahwa hati ini telah beku, telah menjadi artefak dari perasaan-perasaan yang gagal. Saya membangun benteng begitu tinggi, memasang kawat berduri di setiap celahnya, hanya untuk menemukan bahwa kamu tidak pernah mencoba mendobraknya. Kamu hanya berdiri di kejauhan, tersenyum, dan entah bagaimana benteng itu runtuh dengan sendirinya, luluh lantak menjadi debu yang beterbangan ditiup angin lembut yang berembus dari arahmu.
Nyatanya, jatuh hati padamu menjadi satu peristiwa yang tidak bosan-bosannya saya ulang ceritakan. Pada dinding kamar yang bisu, pada cangkir kopi yang mendingin, pada siapa saja yang bertanya: apa istimewanya dia? Sebuah pertanyaan yang selalu gagal saya jawab dengan tuntas.
Saya akan berkata tidak tahu apa yang istimewa darimu. Sungguh, saya tidak tahu. Apakah itu caramu menatap dunia dengan mata yang seolah baru pertama kali melihatnya? Atau caramu tertawa yang membebaskan segala beban dari pundak? Saya tidak punya daftar, tidak punya poin-poin. Sebab setiap kali saya mencoba merumuskannya, kata-kata terasa begitu miskin dan tak berdaya. Yang saya tahu, ada magis dalam kehadiranmu. Magis yang sanggup membuat saya, seorang yang mengira dirinya tangguh, tiba-tiba menangis tanpa sebab di tengah malam, hanya karena namamu seketika muncul di kepala. Getar tidak biasa menjalari dada, sebuah frekuensi aneh yang meresonansi hingga ke tulang rusuk. Sampai hari ini, sampai detik ini, saya betulan tidak tahu alasannya.
Saat air mata itu tidak lagi terbendung, ada perasaan ganjil yang muncul. Perasaan bahwa saya telah mengenal dan merindukanmu dalam waktu yang sangat, sangat lama. Mungkin dalam kehidupan lain, di sebuah dimensi yang tak tercatat peta, kita pernah menjadi sesuatu. Sepasang camar yang terbang di atas lautan purba, atau dua helai daun yang gugur bersamaan di musim yang sama. Siang itu, saat pertama kali menyadari perasaan ini, saya merasa telah menemukan keping jiwa saya yang hilang. Kamu membuat saya utuh, meski dengan cara yang paling ironis: dengan cara terjatuh. Jatuh sedalam-dalamnya ke dalam pesonamu.
Maka, percayalah, semua yang telah jatuh hati padamu—dan saya yakin jumlahnya tidak sedikit—pasti akan setuju pada satu hal: kamu adalah salah satu manusia langka yang layak Tuhan pertimbangkan untuk leha-leha di surga-Nya kelak, tanpa perlu melewati pengadilan apa pun. Manusia sepertimu, yang menawarkan keteduhan tanpa pernah memintanya kembali, adalah anomali yang indah di alam raya. Kamu, yang selalu memberi pelukan hangat kepada orang-orang terdekatmu, yang bahunya selalu tersedia untuk kepala yang lelah, layak dipeluk oleh kebahagiaan yang tidak memiliki masa kedaluwarsa.
Dan senyummu. Ah, senyum itu. Dengan senyuman lebar yang membuat matamu menipis hingga hanya menjadi segaris lengkung yang riang, ada puluhan—bahkan ribuan—kupu-kupu datang menginvasi perut, membuat kesadaranku perlahan terkikis, mabuk tanpa setetes pun alkohol. Itu adalah senyum yang berbahaya sekaligus menyembuhkan. Dan dengan senyum yang sama, magisnya, banyak luka lama yang saya kira akan membekas selamanya, perlahan memulih. Retak-retak di jiwa seolah terisi oleh cahaya hangat yang terpancar darinya, hingga dunia yang tadinya tampak bengis dan penuh ancaman, terasa jauh lebih ramah.
Kamu tidak pernah menghakimi, tidak pernah menyederhanakan kerumitan perasaan orang lain. Kamu yang selalu mencoba mengerti, bahkan ketika kamu sendiri tidak sepenuhnya paham, memang layak diberi sebuah ruang khusus. Bukan hanya di dalam hati, tetapi sebuah semesta kecil di dalamnya, yang diisi oleh segala hal baik yang pernah ada. Sebab di hadapan malaikat, kita hanya bisa menyerah, meletakkan senjata, dan membiarkan diri kita diselamatkan. Kamu menyelamatkanku, tanpa pernah kamu sadari. Dan untuk itu, namamu akan selalu menjadi doa yang saya rapalkan dalam diam.
Komentar
Posting Komentar