Langsung ke konten utama

Lakon Fana di Panggung yang Fana

Maka, mari kita akui saja, tanpa perlu berbasa-basi dengan optimisme picisan yang dijual murah di sampul-sampul buku pengembangan diri: hidup ini memang sebuah lakon yang menyedihkan. Dan serius. Kita tidak pernah meminta untuk dilemparkan ke panggung ini, bukan? Tiba-tiba saja kita sudah di sini, terengah-engah menghirup napas pertama, mata kita silau oleh cahaya yang tak kita kenali, telinga kita pekak oleh suara-suara yang asing. Kita datang sebagai sebuah kebetulan kosmik, sebuah absurditas yang diberi nama kelahiran.

Dunia ini, dengan segala keindahannya yang brutal, terhampar di depan kita. Senja yang melukis langit dengan warna jingga dan nila, bau tanah basah setelah hujan pertama, atau melodi sebuah lagu lama yang entah kenapa terasa begitu akrab. Semua itu disajikan kepada kita, sebuah perjamuan megah bagi para pendatang yang tak diundang. Kita dibiarkan berjalan, meraba-raba dalam pesona yang membutakan itu.

Lalu, di sebuah tikungan takdir yang entah dirancang oleh siapa, kita bertemu wajah-wajah lain. Para musafir yang sama tersesatnya. Kita saling melempar sapa, berbagi secangkir kopi di kedai yang namanya akan kita lupakan, menertawakan lelucon yang esok hari sudah basi. Kita berkelana bersama untuk sejenak. Mungkin semusim, mungkin setahun, mungkin beberapa dekade jika semesta sedang berbaik hati. Dalam kebersamaan sesaat itu, kita membangun dunia-dunia kecil. Dunia yang terdiri dari percakapan hingga larut malam, janji-janji yang diucapkan di bawah tatapan bintang, dan kehangatan sebuah genggaman tangan di tengah keramaian kota yang beku.

Kita bertukar cerita, membagi luka, dan merangkai harapan-harapan tipis laksana jaring laba-laba. Kita merasa telah menemukan sebuah pelabuhan, sebuah jangkar di tengah samudra ketidakpastian yang luas ini. Kita lupa, atau sengaja lupa, bahwa setiap kapal hanya singgah untuk sementara. Kita lupa bahwa kita semua adalah penumpang kereta api yang sama, yang akan turun di stasiun yang berbeda, tanpa pernah sempat mengucapkan selamat tinggal yang pantas.

Sebab, dan selalu ada sebab yang kejam itu, panggung ini memiliki tirai yang jatuh tanpa aba-aba. Pertunjukan selesai di tengah adegan. Seseorang yang kemarin mengisi ruang di sebelahmu, yang deru napasnya menjadi musik pengantar tidurmu, tiba-tiba menjadi sunyi. Lenyap. Seseorang yang tawanya menjadi warna paling cerah dalam palet harimu, mendadak menjadi pigura hitam-putih dalam bingkai kenangan.

Kepergian itu datang dengan cara yang sama mendadaknya, sama tidak masuk akalnya seperti ketika kita datang. Tidak ada naskah, tidak ada penjelasan, tidak ada epilog yang memuaskan. Hanya ada ruang kosong yang menganga, sebuah lubang hitam yang menyedot semua warna dan suara. Kita bertanya pada langit, pada angin, pada Tuhan yang mungkin sedang sibuk atau memang tak peduli: mengapa? Ke mana perginya semua tawa itu? Ke mana menguapnya kehangatan itu? Tak ada jawaban. Hanya gema dari pertanyaan kita sendiri, memantul di dinding-dinding kesunyian yang kita bangun setelahnya.

Inilah bagian yang paling serius dari lakon ini. Keseriusan itu tidak terletak pada pencapaian, pada harta benda, atau pada status yang kita kejar mati-matian. Keseriusan itu terletak pada kerapuhan kita. Pada kenyataan bahwa setiap afeksi yang kita tanam adalah sebuah risiko. Setiap kali kita membuka hati, kita sedang mempersilakan pisau takdir untuk menancap lebih dalam. Rasa sakit dari kehilangan adalah bukti paling sahih bahwa kita pernah benar-benar hidup, pernah benar-benar merasa. Dan itu, sungguh, adalah sebuah beban yang serius.

Kita dibiarkan terpaku, memunguti kepingan-kepingan memori, mencoba merekonstruksi sebuah cerita yang sudah tamat dengan paksa. Kita menjadi arsiparis dari kehidupan orang-orang yang telah hilang, penjaga museum dari artefak-artefak sentimental: sebuah foto usang, secarik surat, atau aroma parfum yang samar-samar tertinggal di kerah baju.

Pada akhirnya, kita semua akan menjadi hantu di benak seseorang, sebelum akhirnya kita sendiri yang lenyap ditelan ketiadaan. Kita datang dari misteri dan kembali ke misteri. Di antara dua titik kegelapan itu, ada sekejap cahaya yang kita sebut kehidupan. Sebuah interval yang indah, menyakitkan, dan absurd. Sebuah persinggahan singkat di mana kita saling menyapa, berbagi sebatang rokok di bawah lampu jalan yang temaram, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan masing-masing menuju gerbang antah berantah yang sama. Sendirian. Selalu sendirian.

Komentar